Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
68. Penasaran


__ADS_3

"Apa yang dilakukan istri saya selama beberapa hari ini, Dok? Apa selama ini dia selalu datang ke rumah sakit dan menginginkan tes ini?"


"Iya, pak. Nyonya Anita memang selalu datang ke rumah sakit untuk melihat perkembangan pasien yang bernama Mawar. Ia juga yang meminta tes itu dilakukan, tanpa sepengetahuan siapapun."


"Ya ampun Anita, kenapa kamu keras kepala seperti ini?"


"Nyonya Anita bukan keras kepala, Pak. Tapi dia memiliki semangat dan rasa optimis yang tinggi. Dan akhirnya perjuangannya itu membuahkan hal yang manis."


"Apa istri saya menceritakan semua hal pada anda, Dok?" Pak Andreas menatap Dokter dengan serius.


"Saya rasa seperti itu. Maka dari itu, saya memutuskan untuk menolongnya. Ini adalah sebuah mukjizat. Anda patut bersyukur, setelah sekian puluh tahun terpisah, akhirnya Tuhan mempertemukan keluarga Anda."


Mata kedua pria itu berkaca-kaca, karena merasakan sebuah keajaiban yang tercipta.


Setelah cukup berbincang-bincang, Dokter mengantarkan pak Andreas menuju ruang di mana Mawar di rawat.

__ADS_1


Semua menatap ke arah kedua pria itu, ketika mereka sudah memasuki ruangan. Tak lama kemudian, mereka pun saling mengulas senyum.


Kali ini pak Andreas menatap wajah Mawar cukup lama, sehingga membuat gadis yang sudah terbangun dari tidurnya itu merasa aneh.


"Selamat siang, Pak?" Luqman bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya, menyalami pak Andreas.


Perhatian suami Nyonya Anita, seketika teralihkan. Ia menjabat tangan pria tampan di hadapannya dengan sangat erat.


Rasanya semua itu seperti sebuah mukjizat untuk pak Andreas dan istrinya. Karena sebuah kecelakaan maut, justru menjadi jalan bagi mereka dipertemukan dengan anak kandungnya. Anak yang telah lama hilang, dan hatinya sudah pasrah jika tidak lagi bisa bertemu dengannya.


Sang Dokter pun menganggukkan kepalanya, lalu berdehem sebelum berbicara. Sejenak mama Firda dan Luqman saling beradu pandang, karena merasa seperti ada hal yang aneh sedang terjadi.


"Saya minta waktunya sebentar untuk berbicara ya."


"Silahkan, Dokter." Serempak mereka membalas ucapan sang dokter.

__ADS_1


"Jadi begini, beberapa waktu lalu Nyonya Anita meminta saya untuk membantunya menemukan keberadaan anaknya yang hilang puluhan tahun lalu." Dokter menjeda kalimatnya, dengan menghirup nafas dalam.


Luqman, mama dan Mawar yang belum sepenuhnya paham hanya beradu pandang sejenak, dan kembali menatap sang Dokter dengan serius. Setelah itu ia kembali melanjutkan kalimatnya.


"Karena melihat kegigihannya dalam mencari keberadaan putrinya, akhirnya saya pun membantunya. Termasuk melakukan tes DNA pada seorang gadis, yang di duga putri dari Nyonya Anita."


Luqman dan mama kembali beradu pandang. Entah kenapa jantung keduanya semakin berpacu kuat.


Sedangkan Mawar, tampak masih tenang menyimak baik-baik setiap ucapan yang keluar dari mulut sang dokter. Pak Andreas dan Nyonya Anita menatapnya lekat, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Lalu siapa gadis yang di duga putri dari Nyonya Anita, Dok?" Tanya mama Firda, yang tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Iya, Dok. Lalu apa ada hubungannya dengan kami? Sehingga Anda menceritakan hal itu pada kami?" Imbuh Luqman.


Dokter sejenak mengulas senyum, karena melihat pasangan ibu dan anak yang terlihat sangat penasaran.

__ADS_1


"Tentu saja ada hubungannya dengan Anda ustadz, Nyonya." Pandangan Dokter bergantian menatap mama Firda dan Luqman. Sekali lagi ia pun menghirup nafas panjang, lalu menyerahkan amplop hasil tes DNA yang ia pegang pada Luqman.


__ADS_2