
"Tidak apa-apa, Mawar. Mata ibu hanya kelilipan saja." Nyonya Anita mendongakkan kepalanya, sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"Oh iya, apa orang tuamu ikut serta ke sini? Atau tinggal di sana?"
Mawar tersenyum getir sebelum menanggapi pertanyaan nyonya Anita. Karena mengingatkan pada masa kelamnya.
"Saya yatim piatu, Tante."
"Ya-yatim piatu?" Untuk yang kesekian kalinya, nyonya Anita terkejut dengan jawaban Mawar. Gemuruh di dadanya, rasanya sulit sekali untuk dia tahan.
"Iya, Tante." Mawar sengaja tidak menceritakan tentang masa lalunya yang gelap pada orang yang baru di kenalnya itu, karena ia takut di-bully. Tapi sepertinya, setiap apa yang diucapkannya, justru selalu mengundang rasa penasaran di hati nyonya Anita.
"Sejak kapan kamu menjadi seorang yatim piatu?"
"Sejak kecil. Bahkan saya belum pernah melihat seperti apa wajah kedua orang tua saja." Nyonya Anita seketika menutup mulutnya yang menganga.
"Ada apa, Tante? Kenapa wajah Tante, berubah menjadi pias seperti itu?"
Mawar dan mama Firda menatap aneh pada Anita. Tapi wanita itu hanya menggelengkan kepalanya, karena lidahnya semakin kelu untuk berkata.
__ADS_1
Pak Andreas yang melihat perubahan di wajah istrinya, dan sedikit banyak mendengar percakapan para wanita, segera mengajak istrinya pulang.
"Ma, sopir kita sudah berada di luar. Ayo kita pulang sekarang."
"Kenapa tidak disuruh untuk masuk dulu?"
"Tidak enak dong. Takutnya nanti mengganggu waktu istirahat pasien."
Pak Andreas bangkit berdiri dan mendekati istrinya. Jika sudah begitu, tidak ada pilihan lagi bagi Anita, selain mengikuti suaminya bangkit berdiri dan berpamitan.
"Tante pulang dulu ya. Semoga kamu lekas sembuh. Jika ada waktu, main ke rumah Tante ya. Dekat kok dari sini. Ustadz Luqman sudah memiliki alamat rumah kami. Jadi, kamu bisa tanya ke dia."
Nyonya Anita bersalaman dengan Mawar cukup lama. Ia merasakan desiran aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Lagi-lagi ia dikejutkan dengan suara deheman suaminya, karena terlalu lama berjabat tangan dengan Mawar. Wanita itu pun segera mengurai tangannya. Sedangkan suaminya mendekati Mawar dan menyalaminya. Ada rasa yang berbeda saat ia bersentuhan dengan tangan Mawar.
"Semoga cepat sembuh ya."
"Terima kasih pak, atas doanya."
__ADS_1
Setelah saling berjabat tangan, pasangan suami-istri Andreas dan Anita keluar dari ruang rawat inap dengan diantarkan Luqman, sampai ambang pintu. Tepat sekali, sopir mereka sudah berdiri di sana dan hendak mengetuk pintu.
"Selamat siang, pak." Pria berseragam biru tua itu membungkuk penuh hormat pada Andreas dan Anita.
"Terima kasih, anda sudah mengantarkan kami sampai sini. Semoga asisten rumah tangganya segera sembuh."
"Aamiin. Terima kasih juga do'anya, pak. Semoga selamat sampai rumah."
Pak Andreas berjalan bersama dengan rombongannya meninggalkan Luqman, yang masih menatapnya hingga bayangannya tak lagi terlihat. Setelah itu, pria itu masuk kembali ke ruangannya.
"Mawar, istirahatlah lagi. Agar kesehatanmu cepat membaik." Luqman menasehati asisten rumah tangganya.
"Kepala Mawar masih pusing. Sulit untuk bisa istirahat." Mawar mengusap kepalanya pelan.
"Biar Tante bantu mengusap kepalamu." Mama Firda menyingkirkan tangan Mawar pelan dari kepalanya, dan menggantinya dengan tangannya.
Gadis itu begitu menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh majikannya. Hingga tak lama kemudian, ia bisa kembali tidur.
Luqman pun melihat mamanya melakukan hal itu dengan tulus. Sehingga membuat hatinya begitu damai.
__ADS_1