Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
13. Perasaan Mawar


__ADS_3

"Ya sudah, nanti Tante belikan kamu jam Beker. Sekarang kamu bantu Tante memotong sayuran, yang sudah Tante siapkan itu."


Mawar menoleh pada wortel, buncis dan kentang yang sudah disiapkan diatas meja, lalu ia pun mengangguk.


"Mengirisnya agak panjang sedikit ya. Soalnya Tante mau membuat steak ayam, kesukaan Luqman."


Sekali lagi Mawar mengangguk, lalu mulai menyiangi dan memotong sayuran itu, seperti yang diinginkan majikannya.


Setelah itu, ia juga mengupas bawang Bombay dan memotongnya tipis-tipis. Namun satu bawang belum selesai dipotong, ia sudah menangis duluan.


"Mawar. Kamu menangis?" tanya mama Firda, yang melihat gadis disampingnya sesenggukan.


"Iya Tante. Ternyata kisah hidup Mawar yang sungguh tragis, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan bawang ini." celoteh gadis itu, hingga tangisnya justru semakin bertambah deras.


Mama Firda yang melihatnya tidak bisa menahan tawanya, walau sebenarnya ia juga menaruh rasa iba yang sangat besar pada gadis dihadapannya.


Mungkin jika Mawar bekerja di tempat orang lain, belum genap sehari ia sudah dipecat. Karena pekerjaannya yang sama sekali tidak ada benarnya. Karena selama dua puluh tahun ia hidup, tak pernah sekalipun menyentuh pekerjaan.


Tapi berbeda dengan mama Firda, yang tetap mempertahankannya, meskipun pekerjaannya tidak ada yang benar. Karena ia maklum dengan masa lalu Mawar.


Bahkan ia sebenarnya salut dengan gadis itu, ia mampu hidup dan bertahan dengan kondisinya yang sungguh memprihatinkan.


Tidak memiliki orang tua, dibesarkan oleh orang yang salah dan bisanya hanya memanfaatkan dirinya saja, menjadi budak pelampiasan pria hidung belang, dan harus menjalani siksaan yang berat, jika dirinya tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh mucikarinya.

__ADS_1


Padahal gadis yang seumurannya saja saat ini mungkin masih bersenang-senang kesana-kemari, untuk menikmati masa mudanya.


Harusnya orang yang pernah mengalami pelecehan seksual seperti Mawar, di tampung dan diberi perhatian khusus oleh Komnas perempuan. Karena pastinya, akan membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk memulihkan kejiwaannya.


Tapi hal itu tidak berlaku bagi Mawar, ia mengobati luka hatinya dengan caranya sendiri.


Jika mama Firda memposisikan dirinya sebagai Mawar, belum tentu juga dia bisa sekuat dan setegar Mawar.


"Kamu kalau memotong jangan terlalu dekat-dekat, nanti kan uapnya kena mata, bisa membuat matamu pedih. Coba kamu mendongak. Awalnya memang seperti itu, tapi lama-kelamaan kalau sudah terbiasa, kamu bisa mengendalikan air matamu."


Mawar mengangguk, lalu mendongakkan kepalanya sambil memejamkan matanya. Setelah cukup nyaman, ia kembali memotong bawang bombai.


Tak lama kemudian, akhirnya ia berhasil memotong beberapa buah bawang bombai yang sudah disiapkan.


Tepat pukul enam, Luqman baru pulang dari mengisi tausiyah di sebuah universitas. Setelah bersalaman dengan mamanya, ia berlalu menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah melaksanakan ibadah bersama, Luqman memberikan nasehat-nasehat. Mawar menyimak baik-baik setiap ucapan yang keluar dari mulut pria tampan dihadapannya.


Gadis itu merasa beruntung, setelah kabur dari rumah terkutuk itu, langsung dipertemukan dengan orang yang baik hati seperti keluarga Luqman.


Apalagi mereka tidak hanya menerimanya sebagai asisten rumah tangga saja, mereka memperlakukannya seperti keluarga sendiri dan banyak memberi petuah-petuah penting.


Setelah selesai, barulah mereka bertiga makan malam bersama. Untung saja Mawar pernah diajak salah satu pelanggannya untuk makan steak bersama. Jadi ia bisa menggunakan garpu dan pisau bersamaan.

__ADS_1


"Masakan Tante Firda, memang benar-benar enak. Mawar suka sekali." ucap gadis itu, disela-sela aktivitas makannya.


"Kamu kunyah dulu makananmu sampai habis, baru kamu bicara, Mawar." nasehat mama Firda, lalu geleng-geleng kepala.


"Maaf, Tante. Habis bibir ini tidak bisa menahan untuk berhenti berkomentar." Mawar meringis menatap mama Firda.


"Luqman kalau kamu keluar lagi, tolong belikan jam Beker untuk Mawar ya. Agar ia tidak terlambat bangun."


"Baik, ma. Tapi, kenapa kamu tidak menggunakan handphone saja untuk setting alarm?"


"Mas-mas, kamu dan Tante Firda sama deh pertanyaannya. Mawar itu tidak punya apa-apa di dunia ini. Termasuk handphone. Perut kenyang dan hidup tenang saja sudah syukur." tutur Mawar polos, lalu tersenyum ironi.


Luqman menghela nafas panjang, merasa iba dengan penderitaan yang mungkin Mawar alami selama ini. Jauh berbeda dengan dirinya yang selalu diberi kasih sayang yang berlebih dari kedua orangtuanya.


"Apakah kamu senang, bisa tinggal disini?" tanya Luqman, sambil serius menatap gadis dihadapannya.


Mawar terkekeh keras sebelum menjawab.


"Tentu saja Mawar sangat senang dan bahagia, mas. Punya majikan yang sangat baik hati seperti kamu dan Tante Firda. Tapi...."


"Tapi apa?" tanya mama Firda dan Luqman bersamaan.


"Sepertinya niat Mawar untuk insyaf, tidak melakukan perbuatan buruk sangat sulit untuk digapai. Karena setiap hari harus selalu bertemu dengan makhluk yang tampan dan sholeh seperti mas Luqman."

__ADS_1


Luqman seketika tersedak mendengar penuturan Mawar yang polos itu.


__ADS_2