
"Farida." gumam Luqman.
Wanita itu menyunggingkan senyum tipis dan berjalan mendekatinya. Mawar melihatnya dengan tatapan takjub. Cantik dan anggun dalam balutan gamis syar'i berwarna mocca.
"Ada yang bisa aku bantu? Mari kita ke ruangan ku. Mawar, ayo ikut denganku." ajak Luqman pada Farida dan Mawar.
"Kalau boleh tahu, siapa dia mas?" sesaat Farida menelisik penampilan Mawar. Luqman menoleh pada gadis yang berdiri disampingnya.
"Dia adalah..."
"Asisten rumah tangganya mas Luqman, mbak." balas Mawar sambil menyunggingkan senyum tipis. Farida manggut-manggut mendengar penjelasannya.
Sebenarnya Luqman tidak enak jika Mawar mengenalkan dirinya sebagai asisten rumah tangganya.
Tapi ia juga bingung, alasan apa yang akan dia berikan. Baru kali ini ada wanita yang membuatnya serba kebingungan.
"Farida, kenalkan dia Mawar. Dan Mawar, kenalkan dia Farida." Luqman mengenalkan kedua wanita itu.
Farida dan Mawar saling berjabat tangan dan menyunggingkan senyum.
"Cantik sekali, apa dia pacar mas Luqman?" celetuk Mawar, yang membuat Farida tersipu malu.
"Mawar, kamu jangan mengada-ada lah. Tidak baik tahu. Hubungan kami cuma sebatas rekan kerja. Papanya Farida itu rekan bisnis ku."
"Hem, bilangnya cuma rekan kerja. Siapa tahu karena sering bertemu jadi ada rasa. Mawar do'akan semoga kalian berdua berjodoh."
"Aamiin." balas Farida sambil menyunggingkan senyum tipis.
"Mawar! Jangan bicara seperti itu. Farida, lupakan ucapan Mawar tadi. Mari kita ke ruangan ku." sekali lagi Luqman mengajak Farida ke ruangannya.
Dalam hati entah kenapa Luqman kurang begitu suka dengan ucapan Mawar. Berbeda dengan Farida, yang senang karena mendapat dukungan dari orang dekat Luqman.
Walaupun awalnya Farida sempat tidak menyukai Mawar, karena khawatir Luqman akan menyukainya. Karena meskipun Mawar seorang asisten rumah tangga, tapi ia begitu cantik.
Mereka bertiga akhirnya berjalan beriringan, dengan Luqman berada di tengah-tengah.
Sesampainya di ruangan, Luqman mempersilahkan Farida dan Mawar duduk. Lalu pria itu kembali menanyakan tentang maksud dan tujuan kedatangan Farida.
"Maaf mas, kedatangan Farida kesini untuk menyampaikan kalau papa juga ingin meminta sample hasil produksi dan nanti siang beliau ingin mengajak mas Luqman untuk makan siang sekalian melihat sample hasil produksi. Katanya beliau juga ingin membantu memasarkannya."
"Maaf, tapi nanti aku harus mengantar Mawar pulang."
"Mas, kok di tolak sih? Sayang tahu." celoteh Mawar.
"Tapi Mawar, bagaimana nanti kamu pulang? Kecuali kamu mau ikut denganku."
__ADS_1
"Iya, dengan senang hati Mawar akan menemani mas Luqman."
"Okay. Farida sampaikan pada papamu, aku bersedia menerima tawarannya."
"Baik, mas. Akan aku sampaikan pada papa." Farida segera menghubungi papanya.
Sementara itu, Luqman juga menghubungi karyawannya untuk menyiapkan beberapa sample baju yang akan di lihat oleh Farida dan juga akan di bawa saat makan siang nanti.
Sambil menunggu kedatangan karyawannya, Luqman menyelesaikan pekerjaannya. Sedangkan Farida mengajak Mawar bercerita.
"Apa kamu sudah lama bekerja di tempat mas Luqman?"
"Baru empat bulan, mbak." Farida manggut-manggut sambil membulatkan bibirnya.
"Lalu, sebelumnya kamu kerja di mana?"
"Sebelumnya, Mawar bekerja di..." Mawar memainkan kedua tangannya, karena bingung mau beralasan apa. Jujur ia takut menanggung dosa yang lebih besar jika sampai berbohong.
"Mawar baru saja lulus sekolah, jadi belum memiliki pengalaman kerja sama sekali." Seloroh Luqman, yang membuat Farida dan Mawar mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Oh ya. Sekolah di mana?" cecar Farida lagi.
"Di kota A. Karena dia sudah tidak memiliki kedua orang tua, maka aku berinisiatif membawanya ke rumah."
Farida menoleh sejenak ke arah Mawar. Hatinya merasa iba, ketika melihat gadis di sampingnya yang masih berusia muda, tapi sudah kehilangan kedua orang tua dan harus merantau ke tempat yang jauh demi menyambung hidup.
"Apa! Mas Luqman seorang ustadz terkenal?" pekik Mawar, karena terkejut.
"Iya, memangnya kamu tidak tahu?" Mawar menggelengkan kepalanya.
"Pantas saja, kemarin itu waktu Mawar ikut, semua orang memperlakukan mas Luqman dengan begitu spesial. Oh, beruntung juga mbak Farida dekat dengan mas Luqman. Siapa tahu mas Luqman menyukai kamu. Soalnya pakaian mbak Farida modelnya sama dengan yang di pakai Tante Firda."
Luqman menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ocehan Mawar. Untuk sesaat dia lebih memilih mengabaikannya, dan kembali fokus pada pekerjaan yang belum selesai.
Sementara itu, Farida dan Mawar kembali bercerita sampai akhirnya terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk." titah Luqman.
Seorang karyawati masuk sambil membawa beberapa potong sample baju.
"Ini, tuan. Baju pesanan anda."
"Taruh di atas meja tamu, biarkan ia melihatnya dulu."
"Baik, tuan." Amel membungkukkan badannya sejenak, lalu berjalan menuju meja tamu. Dimana di situ ada Mawar dan Farida yang duduk berdekatan.
__ADS_1
Amel membuka satu persatu kemasan baju dan memperlihatkannya pada Farida. Gadis itu terlihat mengamati detail bajunya dengan seksama lalu tampak manggut-manggut.
"Bajunya nyaman sekali di pakai, mbak. Tidak bakal nyesel belinya." celetuk Mawar.
"Memang kamu sudah mencobanya?"
"Tadi Mawar sudah mencobanya. Yah walaupun cuma sebentar, saat foto tadi." kekeh Mawar di ujung kalimatnya.
"Foto?" ulang Farida.
"Iya, tadi Mawar mencoba semua baju itu, lalu di foto. Sebelumnya Mawar juga di make up. Haduh, berasa jadi artis tahu ngga?" Mawar kembali terkekeh dan memperlihatkan gigi gingsulnya.
"Apa maksudnya kamu dijadikan model oleh mas Luqman?" tanya Farida lirih.
"Katanya sih begitu tadi, mbak. Tapi cuma menggantikan Mbak Linda untuk sementara waktu saja." balas Mawar santai.
Entah kenapa, jawaban Mawar tadi terdengar tidak mengenakkan di hati Farida. Karena Luqman memperlakukan asisten rumah tangganya dengan spesial.
Dalam hatinya ia juga menyalahkan Luqman. Kenapa tidak mencari model pengganti lain, seperti dirinya misalnya. Bukannya malah asistennya sendiri.
"Bagaimana pendapatmu tentang produk ku ini, Farid" tanya Luqman yang mengejutkan gadis itu.
"Eh, bagus kok mas. Farida suka."
"Kan belum di buka semuanya, kok bisa bilang suka sih mbak?" celetuk Mawar.
"Eh, Farida kan sejak dulu suda tahu dan sudah percaya, kalau semua produk dari perusahaan mas Luqman itu bagus-bagus semua."
"Jangan terlalu memujiku seperti itu, Farida. Sebaiknya buka dulu semuanya, sebelum aku memperlihatkannya pada papamu. Aku juga ingin mendengar kritikan darimu."
"Baiklah, aku akan melihat semuanya dulu." Farida membuka satu persatu kemasan baju dan mengamatinya satu persatu, lalu kembali memujinya. Karena memang produknya bagus tanpa cela.
Setelah selesai melihat-lihat, baju-baju itu kembali dimasukkan ke dalam plastik kemasannya. Lalu semuanya bersiap berangkat.
"Mas, aku ikut mobilmu ya." pinta Farida, saat mereka sudah berada di basement.
"Ikut mobilku? Memang kamu tidak bawa mobil sendiri?"
"Tidak. Tadi aku kesini naik taksi online."
"Iya. Silahkan naik."
"Aku naik depan atau belakang?"
"Di belakang ya, dengan Mawar."
__ADS_1
Meskipun tidak sesuai dengan apa kata hatinya, Farida menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Okay." balasnya singkat, lalu segera masuk ke dalam menyusul Mawar.