
"Alhamdulillah, akhirnya habis juga buburnya." Mama Firda tersenyum lega, melihat mangkuk yang ia pegang, semua isinya sudah berpindah ke perut Mawar.
"Kamu lapar apa doyan? Katanya tadi kurang asin?" Goda Luqman. Entah dorongan dari mana, laki-laki itu tiba-tiba berani menggoda Mawar.
"Kalau mau cepat sembuh, harus banyak makan kan, mas?"
"Betul itu. Oh iya, mau makan yang lainnya? Biar aku belikan?"
"Itu saja, mas." Mawar menoleh dan menunjuk buah yang sudah dipotong kecil-kecil, dan memang diperuntukkan baginya.
"Baiklah, Tante suapin kamu lagi." Mama Firda mengambil piring kecil itu, dan menusuk salah satu buah untuk Mawar.
Gadis itu semakin sayang dengan majikannya, karena ia memperlakukannya dengan sangat baik. Jika dipikir-pikir, mana ada majikan yang mau menyuapi seorang pembantu. Dan lewat mama Firda, Mawar bisa merasakan kasih sayang seorang ibu.
**
Sementara itu di kamar samping, nyonya Anita diam-diam mendengarkan percakapan yang sedang terjadi di balik tirai sampingnya.
Ia sangat penasaran dengan gadis yang memiliki tanda lahir di pinggang sebelah kirinya tersebut.
"Ma, ayo kita bersiap pulang. Sopir kita sedang dalam perjalanan menuju kemari." Pak Andreas mengingatkan istrinya, karena sejak tadi melihatnya lebih banyak diam.
"Tunggu sebentar, pa. Toh, tidak banyak barang-barang kita kan? Bagaimana kalau sebelum kita pulang, berpamitan dulu dengan keluarga ustadz Luqman?"
Pak Andreas terdiam sejenak, sambil mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Mama masih penasaran dengan gadis itu ya?"
"Tidak. Hanya ingin mengucapkan terima kasih, karena nak Luqman sudah mau bertanggung jawab dengan kita. Itu saja."
"Okay."
Setelah merapikan barang-barangnya yang tidak seberapa, keduanya melangkahkan kakinya menuju bilik sampingnya.
"Assalamu'alaikum." Sapa Pak Andreas dan istrinya.
Luqman dan keluarganya seketika membalas ucapan salam itu, dan pandangannya beralih pada mereka.
"Pak Andreas, Bu Anita." Gumam Luqman, sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Silahkan duduk, Pak, Bu." Luqman menawarkan pasangan suami-istri itu duduk di sofa.
"Oh iya, terima kasih." Pak Andreas duduk di sofa diikuti Luqman. Sedangkan istrinya, duduk di kursi yang ada di dekat Mawar bersama mama Firda.
"Ada perlu apa, Pak?" Sekali lagi, Luqman bertanya.
"Kami hanya ingin sejenak bercakap-cakap, sambil menunggu sopir kami datang menjemput." Luqman menanggapinya dengan manggut-manggut. Lalu mereka pun terlibat pembicaraan.
"Bagaimana keadaan kamu, nak?"
"Sedikit pusing, badanku rasanya juga sakit semua." Lirih Mawar.
__ADS_1
"Semoga lekas sembuh ya."
"Terima kasih Bu, atas doanya."
Bu Anita tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya.
"Kalau boleh tahu, siapa Anda?"
"Tante ini dan suaminya, adalah orang yang ditabrak Luqman, Mawar." Gadis itu manggut-manggut sambil bibirnya membentuk huruf O.
"Apakah kamu benar, asisten rumah tangga di tempat ustadz Luqman?"
"Benar, Tante." Mawar menganggukkan kepalanya.
"Di mana kamu tinggal? Apakah kamu seorang perantauan?"
"Saya tinggal di rumah, Tante Firda. Berasal dari kota A."
"Kota A?" Pekik Bu Anita.
Ia sangat terkejut, Mawar berasal dari kota itu. Karena di kota itulah, ia kehilangan bayinya yang berumur satu tahun. Matanya mulai berkaca-kaca jika mengingat hal itu.
Berpuluh-puluh tahun, ia dan suaminya menghabiskan waktunya untuk mencari putrinya yang hilang, tapi tidak juga usahanya itu membuahkan hasil. Sehingga suaminya memutuskan untuk menghentikan pencarian anaknya.
"Bu, kenapa matanya seperti itu?" Tanya Mawar, membuyarkan lamunan nyonya Anita.
__ADS_1