Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
80. Perjalanan ke luar kota


__ADS_3

"Papa kelihatan senang sekali. Habis dapat telepon dari siapa sih?" Clara tersenyum tipis menggoda papanya.


Sebenarnya mamanya pun sama penasarannya, dan pertanyaan Clara tadi cukup mewakili isi hatinya.


"Tebak dari siapa?" Pak Andreas justru bertanya balik sambil menyunggingkan senyum pula.


"Ish, papa kenapa jadi main tebak-tebakan sih?" Clara mengerucutkan bibirnya. Terlihat begitu menggemaskan. Lalu ia pura-pura sibuk dengan map yang sedang ia pegang.


"Yang menelpon papa tadi adalah nak Luqman." Ucap pak Andreas akhirnya.


"Wah. Benarkah itu, pa?" Clara mendongakkan kepalanya, terlihat antusias.


Memang akhir-akhir ini mereka jarang sekali berhubungan melalui telepon, karena kesibukan masing-masing.


Pak Andreas menceritakan apa saja yang ia bicarakan dengan Luqman tadi, pada anak dan istrinya. Rona bahagia meliputi wajah mereka. Tak sabar rasanya mereka untuk bisa bertemu dengan keluarga itu.


**


Sementara itu di tempat lain, Farida tengah berjuang sekuat tenaga untuk menghapus wajah Luqman dari benaknya. Karena ia semakin menyadari jika Luqman bukanlah jodoh yang ditakdirkan untuknya.

__ADS_1


Gadis itu menyibukkan dirinya dengan membantu papanya mengurus perusahaan. Pak Burhan pun hanya bisa mengamatinya dari kejauhan, tanpa mau ikut campur.


Bukannya ia tidak mau memperhatikan anaknya, tapi ia tidak ingin masalah percintaan anaknya semakin runyam. Yang justru bisa membuat hati anaknya sedih. Sehingga Pak Burhan juga tidak berniat menjalin hubungan kerja sama dengan Luqman lagi.


"Farida, sudah jam istirahat. Ayo kita menghabiskannya dengan menikmati makan siang bersama." Pak Burhan menghampiri meja Farida.


"Hah! Tapi ini belum selesai, pa."


Terlihat ia sedikit terkejut, karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Sehingga tidak memperhatikan jika sudah jamnya untuk beristirahat.


Pak Burhan pun tertawa kecil.


"Kamu ini bekerja dengan papamu sendiri. Kenapa harus seserius itu?"


"Papa suka sekali semangat mu. Ya sudah, kalau begitu kamu selesaikan pekerjaan mu. Papa akan menunggu mu."


"Lhoh, kalau papa sudah lapar, ya duluan saja. Farida tidak apa-apa keluar belakangan."


"Tidak. Papa akan tetap menunggumu, sampai kamu menyelesaikan pekerjaan mu." Pak Burhan menjatuhkan dirinya di kursi di hadapan Farida.

__ADS_1


"Hem, baiklah kalau itu mau papa." Farida mengedikkan bahunya, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


**


Tanpa terasa seminggu sudah berlalu dengan begitu cepat. Sesuai dengan kesepakatan, di hari itu pak Andreas akan mengirimkan sejumlah bahan baku produksi ke perusahaan Luqman.


Ia mengajak anak dan istrinya ikut serta. Bahkan rencananya mereka juga akan menginap di sebuah hotel yang ada di kota tempat Luqman tinggal selama beberapa hari. Karena sekalian ingin menghabiskan waktu akhir pekannya untuk jalan-jalan di kota itu.


Pagi-pagi benar keluarga pak Andreas telah rapi dan menyelesaikan sarapan paginya. Barang-barang yang kira-kira akan mereka butuhkan selama tinggal di kota itu juga telah masuk bagasi mobil sejak kemarin sore


Setelah itu, mereka berangkat menuju kantor. Karena mereka akan berangkat bersama dengan rombongan mobil dari sana.


"Apa kamu masih ingat dengan jalan yang kita lalui ini, Clara?" Tanya pak Andreas pada putrinya yang duduk di jok bagian belakang.


"Em, mungkin hanya sedikit saja, pa. Memang ada apa?"


"Tidak ada apa-apa. Papa hanya senang sekaligus bersyukur, karena Allah masih memberimu ingatan yang bagus. Walaupun dulu pernah mengalami operasi kepala."


Clara manggut-manggut mendengar penjelasan papanya, dan sekaligus mengucapkan syukur dalam hati.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan panjang selama beberapa jam, akhirnya rombongan pak Andreas tiba di perusahaan Luqman.


'Aneh, kenapa hatiku jadi deg-degan begini ya, setelah tiba di perusahaan mas Luqman. Biasanya tiap hari bertemu dengannya juga tidak begini.' batin Clara sambil mengusap dadanya, agar lebih tenang.


__ADS_2