
"Ini serius?" tanya Luqman sambil memperlihatkan angka-angka yang ada di dalam selembar faktur.
"Iya, mas. Memang ada yang salah?" Farida melempar pertanyaan.
"Kenapa pak Burhan, selalu memberikan potongan yang cukup banyak padaku? Ditambah dengan tenggang waktu yang lama. Aku merasa tidak enak." Farida mengulas senyum, melihat Luqman yang merasa tidak enakan.
"Mungkin papaku menyukai kinerja mu. Jadi memberikan banyak kemudahan untukmu, agar bisa berkembang semakin baik lagi."
"Aku bersyukur, jika ada orang yang menyukai kinerjaku. Semoga kerjasama ini bisa bertahan selamanya."
"Aku juga bersyukur, melihat papa memiliki rekan kerja yang baik seperti kamu."
Luqman menatap sejenak ke arah gadis cantik dihadapannya, lalu keduanya sama-sama menyunggingkan senyum.
Luqman dan Farida berjalan bersama, menuju gudang bahan baku. Keduanya mengecek bahan baku yang baru saja datang itu.
Pria itu memang memesan banyak macam warna dan motif, untuk persiapan produksi. Apalagi, sebentar lagi adalah hari rayanya. Tentu saja permintaan konsumen akan meningkat pesat.
Hampir satu jam, seorang sopir dibantu beberapa orang karyawan menurunkan bahan baku. Sedangkan Luqman dan Farida duduk agak jauh, sambil memantau kinerja para karyawannya.
Tiba-tiba handphone Luqman berdering. Pria itu segera merogoh dari balik saku jasnya. Melihat nomor yang tidak ada di dalam daftar nama kontaknya, ia tetap mengangkatnya.
"Hallo. Assalamu'alaikum." sapa Luqman.
"Wa'alaikumussalam, ustadz Luqman. Sebelumnya perkenalkan, saya Ahmad salah satu takmir masjid Agung Al-Ikhlas. Mau meminta bantuan ustadz untuk mengisi ceramah, pada hari Ahad, tanggal sepuluh, pukul enam pagi. Pengajian ini terbuka untuk umum. Nanti temanya akan kami kirim melalui pesan." ucap seseorang di seberang sana.
"Saya lihat jadwal dulu ya. Nanti keputusannya akan segera saya kabarkan pada anda."
"Oh, baik ustadz. Besar harapan kami, ustadz bisa melonggarkan waktu untuk kami."
"Iya, in shaa Allah."
__ADS_1
"Kamu pria yang hebat. Sukses dalam segala hal. Baik itu bisnis, ataupun untuk kemaslahatan umat." ucap Farida, setelah Luqman selesai bercakap-cakap melalui panggilan telepon.
"Tidak. Kamu terlalu berlebihan. Karena aku tidak seperti yang kamu bayangkan. Karena Tuhan menutup aib ku saja, makanya aku terlihat baik."
Setelah tadi Luqman, kini giliran Farida yang mendapat panggilan telepon. Wanita anggun itu merogoh handphone yang tersembunyi dalam tas kerjanya.
"Papa." desisnya, ketika melihat nama papanya yang tertera dalam layar handphone.
Gadis cantik berusia dua puluh empat tahun itu menempelkan benda pipih di dekat telinganya.
"Assalamu'alaikum, pa. Ada apa?"
"Wa'alaikumussalam. Papa sudah terlanjur pulang duluan, kamu nanti pulang lah bersama Luqman."
"Hah?" Farida terpaku sesaat.
Bagaimana mungkin ia mau meminta Luqman untuk mengantarkannya pulang? Walaupun sebenarnya dalam hati ia juga suka, jika pria itu mau mengantarkannya pulang.
"Papa juga mau mengundang Luqman, untuk makan malam di rumah kita." imbuh pak Burhan lagi.
"Makan malam?" ulang Farida kembali syok.
Tumben sekali papanya mengajak orang lain makan bersama. Apakah itu kebiasaan baru papanya, atau bagaimana, gadis itu juga tidak tahu. Karena selama lima tahun tinggal di luar negeri, untuk menempuh pendidikan.
"Iya, katakan saja ini permintaan papa."
"I-iya, pa. Farida akan sampaikan."
Setelah itu, panggilan pun terputus. Farida memasukkan handphone ke dalam tasnya lagi. Lalu sejenak menatap Luqman, yang duduk di sampingnya.
"Mas."
__ADS_1
"Iya." Pria menoleh sejenak ke arah Farida.
"Ada apa?" imbuhnya lagi.
"Papa tidak bisa menjemput ku. Mau kah kamu mengantarkan ku pulang. Karena papa juga ingin mengundang kamu makan malam."
"Makan malam?" ulang Luqman, sambil mengernyitkan dahi.
Karena tumben sekali rekan kerja papanya, yang sekarang menjadi rekan kerjanya juga, mengajaknya untuk makan malam bersama.
"Kenapa kamu tidak pulang dengan sopir perusahaan mu?"
"Mungkin papa pulang duluan, untuk membantu mama menyiapkan makan malam bersama. Lalu kita di suruh untuk pulang bersama, sekalian makan malam begitu. Jadi, aku juga tidak perlu balik ke kantor. Ya, aku rasa begitu mas, keinginan papa." balas Farida, sedikit bingung juga.
Luqman sejenak berpikir, untuk menerima ajakan makan malam itu.
"Aku telepon mamaku dulu." ucapnya kemudian.
"Iya, tidak apa-apa."
Luqman segera menghubungi mamanya. Tak lama kemudian, mama mengangkat teleponnya. Pria itu segera menyampaikan maksudnya menghubunginya.
Tak perlu menunggu lama, mama mengijinkannya untuk makan malam di luar bersama dengan rekan kerjanya.
"Mamaku mengijinkan kita." pria itu perlahan menganggukkan kepalanya.
"Syukurlah. Terima kasih ya." Farida tersenyum lega.
Setelah itu, keduanya berjalan menuju ke lobby. Farida duduk di sana, sedangkan Luqman kembali ke ruangannya untuk merapikan pekerjaannya.
Tak lama kemudian, Luqman sudah kembali ke lobby. Lalu keduanya berjalan bersama menuju mobil Luqman terparkir.
__ADS_1