
Buru-buru Luqman meraih dan meneguk minumannya hingga tandas. Setelah itu, barulah ia bisa nyaman.
"Duh, maafkan Mawar ya mas. Bukan niat hati Mawar untuk membuat mas Luqman syok. Tapi katanya kita itu tidak boleh berbohong. Jadi Mawar bicara apa adanya."
"Iya Mawar. Kami tahu kamu ingin berbuat baik. Nah untuk menghindarinya, kamu bisa menundukkan pandanganmu ketika bertemu Luqman."
"Ah, Mawar rasa itu terlalu sulit."
"Dicoba dulu. Anggap saja Luqman itu tidak ada."
"Mama." protes Luqman tidak suka.
"Oh, mungkin aku perlu menganggap wajah mas Luqman itu seperti hantu. Jadi ngga bakal berani melihat wajahnya."
"Mawar." kali ini Luqman memprotes gadis dihadapannya.
"Sudah, jangan protes. Mawar rasa itu lebih baik. Dari pada Mawar mengambil keperjakaan mas Luqman." ucap gadis itu dengan santainya.
"Mawar!" seru mama Firda dan Luqman bersamaan.
"Mawar bicara jujur, Tante."
Pasangan ibu dan anak itu hanya bisa menghirup nafas dalam-dalam. Lalu membuangnya perlahan.
"Tante tahu kamu bicara jujur, tapi juga tidak begitu caranya, Mawar. Bahasanya bisa lebih diperhalus lagi ya. Wanita itu, sebaiknya berperilaku sopan dan tetap menjaga keanggunannya."
"Iya, tante. Mawar minta maaf ya." Mama Firda menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, buruan dihabiskan makanannya."
__ADS_1
**
Setelah selesai menikmati makan malam bersama, penghuni rumah itu kembali ke kamar masing-masing.
Tak butuh waktu lama, Mawar dan mama Firda sudah tertidur pulas. Namun hal yang berbeda justru dirasakan oleh Luqman.
Meskipun hampir seharian ini dia mengisi acara dan cukup kelelahan, tapi tidak juga bisa membuatnya cepat tidur. Hal itu gara-gara dia terlalu memikirkan Mawar, yang sudah tinggal dua hari ini dirumahnya.
Gadis itu selalu berkata apa adanya, tidak bisa menyortir kata-kata yang sebaiknya dikeluarkan atau tidak. Sungguh sangat berbeda dengan wanita-wanita yang pernah ditemuinya.
"Kenapa aku memikirkan seorang wanita yang tidak jelas asal-usulnya?" gumam pria itu. Lalu memalingkan wajahnya dan memejamkan matanya.
**
Hari berikutnya, Mawar tetap bangun kesiangan. Selain karena capek, mungkin karena hatinya sudah terlampau cukup tenang, bisa kabur dari orang jahat, dan kini bisa tinggal dengan orang baik.
Tak lama kemudian, Mawar keluar dari kamarnya. Seketika ia menepuk jidatnya, ketika melihat mama Firda tengah memanggang roti.
Gadis itu segera mencuci muka, lalu mendekati majikannya. Untuk yang kesekian kalinya, ia meminta maaf padanya.
Mama Firda menghela nafas, lalu menyuruh Mawar mengerjakan pekerjaan yang lainnya.
Gadis itu teringat, cuciannya kemarin yang belum rapi. Bergegas ia menuju ruang laundry, untuk menggosok tumpukan baju.
Sengaja ia menunggu cukup lama, agar setrikanya bisa panas terlebih dahulu. Karena ketika dipakai, bajunya bisa langsung rapi dalam sekali gosokan.
Namun sungguh diluar dugaannya. Ketika ia meletakkan setrika itu di baju Luqman, justru setrika itu tidak bisa ditarik. Hal itu cukup membuatnya panik.
"Hah! Bagaimana ini?" Apa setrikanya rusak?" gumam Mawar, lalu gadis itu melepas kabelnya yang masih menempel di stop kontak.
__ADS_1
Setelah berusaha, akhirnya ia bisa melepaskan setrika dari baju Luqman. Tapi badannya seketika membeku. Mulutnya sampai menganga lebar, karena syok dengan yang terjadi dihadapannya. Gadis itu mengangkat bajunya sebatas penglihatannya.
"Bajuku." cetus Luqman, yang baru saja masuk ke ruang laundry.
Pria itu berdiri di depan Mawar. Dan pandangannya bersirobok dengan gadis itu, melalui lubang seukuran setrika di baju itu.
Wajah Mawar memerah karena ketakutan akan dimarahi oleh Luqman. Karena pria itu sudah menatapnya tajam.
'Alamak, mati aku.' batin Mawar sambil menutup matanya. Tak kuat menatap Luqman cukup lama.
"Kenapa kamu diam saja, Mawar?" suara Luqman terlihat menggeram.
"Mawar pasrah, mas. Siap menerima hukuman apapun itu." balasnya lagi, sambil masih tetap menutup mata.
Luqman semakin gemas dengan tingkah gadis dihadapannya. Memang tadi ia sempat kecewa, tapi melihat wajah Mawar yang ketakutan dan memang benar-benar terlihat pasrah, membuatnya jadi tidak tega untuk memarahinya. Apalagi selama ini pemuda itu juga jarang sekali meluapkan emosi dalam bentu kemarahan.
"Mawar, bagaimana caramu menyetrika baju?" tanya Luqman dengan lembut, dan menekan emosi.
Perlahan Mawar menyipitkan matanya, lalu membuka dengan sempurna. Tangannya perlahan menurunkan baju bolong itu.
"Ke-kenapa harus bertanya dulu? Tidak langsung memarahi Mawar?" lirih gadis itu.
"Aku bukan tipikal orang yang mudah meluapkan amarah."
"Ma-maafkan Mawar, mas. Sungguh Mawar tidak sengaja. Niat Mawar tadi menghidupkan setrika cukup lama, agar lebih panas. Sehingga baju bisa lebih cepat rapi. Tapi sewaktu Mawar meletakkan setrika itu, eh nempel di baju mas Luqman. Sewaktu saya tarik setrikanya, jadi begini."
Mawar menjelaskan dengan lirih, karena ia benar-benar ketakutan akan dimarahi oleh majikannya. Pasalnya ia sudah beberapa kali dalam tiga hari melakukan kesalahan fatal.
"Saya juga rela kok mas, kalau mau di potong gaji." imbuh gadis itu lagi, sambil menunduk.
__ADS_1