Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
62. Sadar


__ADS_3

Setelah selesai mengecek kondisi pasien laki-laki, kini giliran dokter mengecek kondisi pasien perempuan. Meskipun kemarin sudah di cek dan tidak terjadi apa-apa, tapi demi kebaikan bersama, ia juga di cek lagi.


"Selamat pagi, ibu. Kami periksa dulu ya."


"Pagi, Dokter. Silahkan." Pasien wanita membalas pertanyaan Dokter diiringi senyuman.


"Semuanya baik, Bu. Kami akan siapkan obatnya, dan harus di minum sampai habis, untuk meredakan sakit yang mungkin masih terasa. Dan kabar baiknya, hari ini anda sudah kami ijinkan pulang."


"Terima kasih, Dokter."


"Sama-sama, Bu. Kalau begitu, saya permisi dulu."


"Iya Dokter, silahkan."


Dokter membungkukkan sedikit badannya pada pasangan suami-istri itu sebelum pergi. Sedangkan Luqman masih berdiri di situ.


"Maaf, dari kemarin saya belum sempat mengenalkan diri pada bapak dan ibu. Perkenalkan saya Luqman. Dan bapak?"

__ADS_1


"Tanpa perlu mengenalkan diri, tentu kami sudah tahu tentang anda, ustadz. Saya Andreas. Dan istri saya Anita." Pria korban kecelakaan itu tersenyum tipis pada Luqman.


"Bapak bisa saja. Oh iya, boleh kah saya minta nomor telepon dan alamat Anda? Untuk memudahkan kita berkomunikasi. Apalagi ketika saya melihat kemarin, keadaan mobil bapak rusaknya cukup parah."


"Tentu saja." Pria itu mengambil selembar kartu nama dari dalam tasnya, lalu menyerahkan pada Luqman.


"Terima kasih, Pak." Luqman menerima kartu itu, lalu membacanya.


"Oh, ternyata anda bekerja disebuah perusahaan textile. Berarti memproduksi kain juga?"


"Iya, seperti itulah kiranya, nak."


"Tentu saja boleh. Nanti akan saya minta sekretaris saya untuk mengirim gambarnya terlebih dahulu."


"Terima kasih sekali, pak."


Tanpa keduanya sadari, para pria itu bercakap-cakap dengan asyik seputar pekerjaan.

__ADS_1


Luqman cukup tertarik dengan motif kain dari perusahaan pak Andreas. Karena perusahaannya menyediakan banyak macam motif yang unik dan selalu berbeda setiap kali produksi. Bahannya pun juga lebih bagus dari perusahaan pak Burhan. Membuat pria itu semakin penasaran dan ingin membeli beberapa untuk kebutuhan proses produksinya.


"Saya sangat tertarik sekali dengan produk Anda, pak. Jika sudah sehat dan segala urusan rumah sakit selesai, saya ingin memulai hubungan kerja sama dengan perusahaan bapak. Tentunya, jika bapak berkenan." Luqman berkata dengan antusias.


Senyum mengembang di wajah pasangan Andreas dan Anita, karena mendapat tawaran kerja sama dengan seorang yang baik, dan cukup disegani oleh banyak orang.


Selama ini pasangan suami-istri itu hanya bisa melihat Luqman di media sosial, dan sekarang bisa bertemu dengannya langsung. Bahkan bisa bercakap-cakap, yang berujung pada sebuah tawaran kerja sama. Tentu saja hal itu membuat keduanya begitu senang.


"Mawar, kamu sudah sadar kembali?" Suara mama Firda yang memekik dari balik tirai, membuat Luqman seketika teringat dengan kondisi asisten rumah tangganya yang cukup parah.


"Maaf Pak, Bu, saya permisi dulu. Sepertinya asisten rumah tangga saya sudah sadar kembali." Luqman seketika bangkit dari duduknya, dan meninggalkan pasangan suami-istri itu, sebelum keduanya sempat menjawab.


"Mawar, kamu sudah sadar lagi?" Luqman mendekati asisten rumah tangganya yang mengerjapkan matanya pelan-pelan. Pria itu begitu berbinar, setiap kali melihat Mawar mengalahkan perubahan.


Setelah bisa membuka matanya pelan, Mawar mengamati keadaan sekitar, dan menatap Luqman dan mama Firda, secara bergantian.


"M-Mas, Luqman. Tan-tante Firda." Mawar begitu kesulitan dan terbata-bata memanggil nama kedua majikannya.

__ADS_1


"Syukurlah Mawar, akhirnya kamu bisa memanggil namaku." Untuk yang kedua kalinya, Luqman memeluk gadis yang masih terbaring lemah di brankar, dan mama Firda memandangnya aneh.


__ADS_2