Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
87. Rencana pulang dari rumah sakit


__ADS_3

"Kalian sudah selesai? Bagaimana hasilnya?" Mama Firda bangkit berdiri dan menatap Clara. Sehingga membuat gadis itu menoleh pada Mamanya. Ia bingung mau menjawab apa.


"Alhamdulillah, anak kami tidak mengalami penyakit yang aneh-aneh kok, Sis. Dia cuma kurang olahraga saja. Iya kan, Clara?" Nyonya Anita menyunggingkan senyum, yang disertai anggukan kepala oleh putrinya. Tidak mungkin mengatakan perkara hati pada orang lain, karena dianggap tabu.


"Oh, syukurlah." Mama Firda ikut mengusap dada lega. Walaupun dalam hatinya juga masih bertanya-tanya. Apakah Clara memiliki perasaan yang sama dengan putranya atau tidak.


Setelah perbincangan sejenak, mereka memutuskan kembali ke rumah.


Dalam perjalanan pulang, terlintas dalam benak Pak Andreas untuk membahas tentang orang yang sudah membuat putrinya menderita.


Tentu saja sebagai orang tua, ia tidak ingin orang itu hidup bahagia di atas penderitaan yang anaknya rasakan selama ini.

__ADS_1


Luqman dengan senang hati akan mengantarkan ke kota itu, jika Pak Andreas mau. Ia masih hafal jalan dan tempat awal pertemuannya dengan Clara.


"Bagaimana sayang, kamu mau kan ke sana sekarang?" Pak Andreas menoleh pada putrinya. Bagaimana pun juga, ia harus meminta persetujuan padanya. Karena semua ini berhubungan erat dengannya.


"Tentu saja, Pa. Dia harus mendapatkan balasan yang setimpal. Kasian teman-teman Clara yang ada di sana juga. Mereka pasti ingin bebas dan mendapatkan pekerjaan yang halal."


Awalnya Pak Andreas ingin membereskan hal itu dengan caranya sendiri. Tapi melihat ketegaran putrinya, ia rasa Clara memiliki mental yang kuat.


Kedua orang tuanya pun memegang tangannya erat sambil menyunggingkan senyum.


"Aku tidak merasa direpotkan. Justru sangat senang jika bisa membantu menyelesaikan masalahmu." Luqman menoleh sejenak ke arah Clara sekeluarga. Membuat mereka merasa tidak enak mau menolak.

__ADS_1


Mobil yang melaju dengan kecepatan sedang itu akhirnya berhenti di depan rumah Luqman. Mereka bersiap-siap, lalu kembali berangkat menuju kota dimana Clara menghabiskan masa kelamnya dulu.


Tentu saja selama menempuh perjalanan yang panjang dan jauh itu, hati Clara dan Luqman semakin berdebar. Apalagi saat kendaraan roda empat itu hampir sampai di tempat yang di tuju.


Clara kembali teringat tentang masa lalunya yang buruk. Sedangkan Luqman mengingat kisah awal pertemuannya dengan Clara.


Jika di pikir-pikir hal itu begitu menggelitik hatinya, sehingga membuatnya senyum-senyum sendiri. Dengan segala keberanian yang di miliki Clara, ia memasuki mobil Luqman. Gadis itu menyangka jika dirinya adalah seorang sopir. Padahal ia adalah seseorang yang cukup terkenal dan disegani oleh masyarakat.


"Stop! Itu tempatnya." Suara Clara yang mengintruksi sopir untuk segera berhenti sambil tangannya menunjuk sebuah bangunan yang bercat abu-abu, membuat mereka terkejut. Terlebih Luqman, yang langsung tersentak kaget dan buyar semua lamunannya. Ia segera mengusap wajahnya gusar, lalu mengamati sejenak keadaan sekitar.


"Ma-maafkan aku, yang sedikit lupa dengan jalannya." Dengan sedikit gugup Luqman meminta maaf pada semua orang.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, mas. Clara masih ingat kok."


Semua menatap tempat terkutuk itu. Tampak sorot kebencian di pelupuk mata mereka, termasuk kedua orang tua Clara. Yang melihat tempat tinggal putri satu-satunya dulu, dan dibesarkan dengan adab yang buruk.


__ADS_2