
"Tidak masalah. Lagian Mama juga menyukai Clara." Mama Firda tersenyum tipis. Kini giliran Luqman yang syok. Ia tidak percaya jika Mamanya bisa bicara seperti itu. Sedangkan keluarga Pak Andreas masih saling beradu pandang kebingungan. Mereka tidak menyangka jika yang awalnya candaan, berubah menjadi seserius itu.
"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang nak Luqman." Pak Andreas berusaha mencairkan suasana tegang. Selain itu, ia juga tidak ingin jika jawaban dari Luqman membuat anaknya tersinggung.
Luqman melirik sekilas Clara yang duduk dihadapannya sambil menunduk. Melihat wajah murung dan bercampur dengan sedikit kegugupan itu membuatnya iba.
'Benarkah, aku sudah jatuh cinta dengannya? Kenapa melihatnya seperti itu membuatku ingin memeluknya? Apa aku harus mengatakannya sekarang? Atau masih perlu waktu lebih lama lagi bagiku untuk memantapkan hati? Argh, kenapa ini begitu membuatku dilema?' Luqman terus mengalami pergolakan batin, sampai akhirnya bibirnya terbuka dan siap mengatakan sesuatu.
"Em, saya ingin lebih memantapkan hati saya lewat sholat istikharah. Karena saya tidak ingin mengecewakan hati wanita sebaik Clara."
Clara mendongak dan menatap Luqman dengan tajam. Hatinya serasa hendak lompat dari tempatnya, mendengar jawaban itu.
"Baik? Aku tidak sebaik yang mas Luqman kira. Tidak perlu sholat istikharah, karena Clara yakin, jika Clara bukanlah yang terbaik untuk mas Luqman." Sambil tersenyum tipis Clara mengatakannya. Agar terlihat baik-baik saja.
"Clara, bagi kami, kamu adalah gadis yang baik hati. Dan Tante sangat menyukai kamu. Sekarang ayo, kita lanjutkan lagi makan malam ini. Sebelum dingin, dan rasanya menjadi kurang enak." Mama Firda menyela ucapan mereka.
__ADS_1
Clara dan yang lainnya mengangguk dan kembali mengaduk makanan yang ada dihadapannya. Sejenak mereka melupakan hal penting yang membuat suasana tampak canggung, dan berusaha mengganti topik pembicaraan.
**
Kini semua sudah berada di kamar masing-masing. Mereka belum bisa tidur, dan kembali mengingat momen saat makan malam tadi.
"Pa, menurutmu nak Luqman itu menyukai anak kita atau tidak sih?" Nyonya Anita menyerongkan badannya dan menatap suaminya yang tengah bersandar di kepala ranjang tempat tidur.
"Entahlah. Kalau menurut mama sendiri?"
"Mama duluan gimana. Biasanya firasat seorang ibu itu tidak pernah salah kan?"
"Em, kalau menurut mama, mereka berdua sebenarnya saling menyukai. Tapi malu untuk mengatakannya duluan."
"Sama, papa juga berpikiran seperti itu. Papa yakin, Clara belum tidur. Sebaiknya mama ke kamarnya dan bertanya langsung padanya."
__ADS_1
"Ide yang bagus. Ayo, sama papa sekalian. Kita sebagai orang tua harus menjadi orang pertama yang mengetahui apa yang tengah terjadi dengan anak kita. Bukan cuma mama saja."
"Okay." Pak Andreas beranjak dari tempat duduknya, dan keduanya berjalan menuju kamar yang ada di sampingnya.
"Sayang, kamu sudah tidur belum?" Nyonya Anita mengetuk pelan pintu kamar Clara, agar tidak mengganggu penghuni rumah yang lain. Sementara itu, di dalam kamar, Clara yang tengah melamun kan kejadian saat makan malam tadi, juga terlonjak kaget karena mendengar suara itu.
"Iya, ma. Tunggu sebentar." Bergegas ia bangkit dari tempat tidurnya, dan berjalan menuju daun pintu.
"Mama, papa. Ada apa?" Clara memperhatikan kedua orang tuanya bergantian.
"Apa kamu belum bisa tidur?" Kedua orang tuanya menelisik penampilan anaknya dari atas sampai bawah.
"Boleh kami masuk ke kamarmu, sayang?" Tanpa menunggu jawaban dari anaknya, mama kembali bertanya. Akhirnya Clara pun membuka pintunya lebih lebar agar mereka bisa masuk.
"Ada apa sih, ma, pa? Kok jam segini belum tidur. Apa ada hal yang serius yang ingin dibicarakan?" Setelah semua duduk di pinggir tempat tidur, akhirnya Clara memberanikan diri bertanya.
__ADS_1
"Tentang hal yang dibicarakan oleh dokter dan hal kita bicarakan di meja makan tadi." Nyonya Anita mulai berkata.