Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
48. Perjodohan


__ADS_3

"Farida, kapan kamu akan menikah?" Celetuk salah satu anggota keluarga. Sehingga membuat Farida yang sedang mengunyah makanannya sambil memperhatikan Luqman, menjadi tersedak.


Luqman yang melihatnya, segera menyodorkan segelas air putih pada Farida. Hal itu membuat mereka yang melihat menyunggingkan senyum sambil berbisik dan menggoda.


Pak Burhan pun juga melakukan hal yang sama, ia tersenyum melihat Luqman yang memperhatikan putri semata wayangnya.


Sedangkan Farida sendiri, tersenyum penuh percaya diri karena merasa diperhatikan oleh pria yang dicintainya.


Gurauan demi gurauan yang dilontarkan oleh anggota keluarga pak Burhan terus dilontarkan untuk Farida dan Luqman, sehingga membuat gadis itu tersipu malu.


Luqman merasa aneh dan tidak nyaman, karena niatnya tadi justru di salah artikan. Lain kali sepertinya ia harus berusaha untuk tidak menaruh rasa perhatian pada orang lain.


Acara makam malam pun akhirnya selesai. Luqman pamit untuk pulang. Pak Burhan mengantarkannya sampai ambang pintu rumah. Tak lupa papa dari Farida itu mengajaknya bercerita.


"Bagaimana nak Luqman, apa kamu tidak tertarik dengan putri saya. Keluarga saya terlihat menyukaimu. Mereka menganggap kalian berdua adalah pasangan yang serasi."


Luqman terkejut dengan pertanyaan pak Burhan yang tiba-tiba itu. Ia kurang suka jika ada yang menyinggungnya soal perasaannya pada wanita.


Luqman pun memiliki keyakinan, jika ia menyukai seorang wanita, pasti akan segera melamarnya. Tidak perlu ditanya-tanya seperti itu.


Dan, meskipun Farida adalah seorang gadis yang cantik, baik, berpenampilan sholihah, tapi Luqman tidak tertarik padanya.


"Kebanyakan laki-laki, ketika melihat wanita secantik dan sebaik Farida, pasti akan tertarik. Tapi maaf, saya kurang tertarik dengannya."


Deg!


Jantung pak Burhan bagai berhenti berdetak. Ia pikir Luqman akan menyukai anaknya. Karena Farida nyaris sempurna tanpa cela. Ia pun menyunggingkan senyum kecut.


"Apa kamu sudah memiliki seorang wanita, sehingga tidak tertarik dengan putriku?"


"Belum." Balas Luqman sambil menggelengkan kepalanya lemah, setelah terdiam sekian detik.


"Bukankah cinta itu bisa datang seiring berjalannya waktu? Dan bapak hanya sekedar menyampaikan, bahwa dulu aku dan papamu pernah membuat semacam ikatan, agar hubungan kami tidak hanya sebagai rekan bisnis saja. Tapi bisa lebih dari itu, yakni dengan perjodohan. Menjodohkan kamu dengan Farida."


Luqman terkesiap, ketika mendengar hal itu. Bagaimana bisa papanya membuat perjodohan itu, sedangkan dirinya tidak mengetahui sama sekali.


Kini papanya juga telah tiada. Satu-satunya cara untuk membuktikan hal itu benar atau tidak, adalah dengan cara bertanya pada mamanya.

__ADS_1


"Memang betul begitu, pak. Tapi mohon maaf, papa tidak pernah membicarakan hal itu dengan saya. Jadi saya bingung, harus percaya dengan siapa. Maaf, bukan maksud saya menuduh anda berbohong."


"Saya paham, jika kamu bersikap seperti itu. Tapi dulu kami serius mengatakannya, walaupun tidak ada bukti yang menguatkannya. Karena kami melihat ada kecocokan diantara kalian berdua."


"Saya akan coba bertanya dulu dengan mama. Siapa tahu, almarhum papa pernah bicara soal itu dengannya."


"Okay, tidak apa-apa. Silahkan kamu bertanya dulu dengan mamamu. Saya akan menunggu jawabannya. Dan saya berharap kamu bisa memberi jawaban yang tidak mengecewakan, nak Luqman."


"In shaa Allah, saya tidak bisa berjanji pak. Seperti yang sudah saya katakan tadi, bagi saya urusan hati tidak bisa dipaksakan. Kalau begitu, saya permisi dulu. Terima kasih atas jamuan makan malamnya. Maaf, saya tidak membawa kado untuk Farida. Karena tidak tahu jika ini adalah hari ulangtahunnya."


"Iya. Tidak apa-apa, nak Luqman."


Pak Burhan menepuk bahu Luqman, sambil menyunggingkan senyum setelah bersalaman dengannya.


Setelahnya Luqman pun segera memasuki mobil dan melajukannya.


Sepanjang perjalanan, ia terus memikirkan ucapan pak Burhan. Rasanya ia masih tidak percaya, kenapa papanya bisa berbuat demikian.


**


Setelah sampai rumah, Luqman di sambut oleh mamanya dengan senyum hangat. Pria itu pun mencium punggung tangan mamanya dengan takzim.


"Kenapa? Apa ada sesuatu penting yang ingin kamu sampaikan?" Mama Firda mengernyitkan dahi, tapi tetap menuruti permintaan anaknya untuk duduk.


Luqman menatap mamanya sambil menghirup nafas dalam-dalam sebelum bertanya.


"Apa papa pernah bercerita tentang perjodohan pada mama?"


"Perjodohan? Maksudnya?" Mama Firda masih mengernyitkan dahi, lalu menggelengkan kepalanya.


"Memang kenapa?"


"Beneran? Papa tidak pernah bicara soal perjodohan pada mama? Misalnya papa ingin kelak Luqman menikah dengan siapa gitu?"


"Tidak." Sekali lagi mama Firda menggelengkan kepalanya kuat.


"Memang ada apa? Cerita sama mama."

__ADS_1


Luqman kembali menghirup nafas dalam-dalam, lalu mulai menceritakan hal apa yang terjadi di kediaman pak Burhan tadi.


"Apa? Pak Burhan berkata seperti itu padamu? Lalu kenapa papa selama ini tidak pernah bercerita dengan mama?" Mama Firda pun juga terkejut, sama seperti Luqman tadi.


"Itulah yang Luqman sendiri tidak tahu. Aku takut jika berprasangka buruk dengan keduanya, ma."


"Lalu, bagaimana perasaan mu sendiri dengan gadis itu?"


"Luqman tidak menyukainya, ma."


"Kenapa? Bukankah Farida gadis yang cantik dan baik. Pakaiannya juga lebar seperti mama."


"Tapi, urusan hati tidak bisa dipaksakan kan, ma? Dan Luqman memang sedikit pun tidak tertarik dengannya."


"Apa kamu sudah memiliki wanita idaman lain? Mengingat umurmu yang sudah tidak muda lagi."


Luqman menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menghembuskan nafas.


"Serius?"


Kali ini Luqman menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya.


"Kenapa kamu susah membuka hati untuk orang lain, Luqman? Padahal umurmu sudah banyak lho. Mama kan juga ingin segera menimang cucu. Biar rumah kita ini rame."


Luqman menatap mamanya yang terlihat menghela nafas lesu.


"Do'akan Luqman saja ma, semoga bisa segera bertemu dengan jodohku."


"Tentu, sayang. Mama akan selalu mendoakan kamu. Sekarang kamu istirahatlah, ini sudah malam."


"Lalu soal perkataan pak Burhan tadi, Luqman harus bagaimana ma?"


"Ikuti apa kata hatimu saja."


"Apa itu artinya, jika Luqman menolak tidak apa-apa."


Mama Firda menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis, untuk membuat hati anaknya lega.

__ADS_1


"Terima kasih, ma. Karena selalu mendukung keputusan Luqman." Luqman memeluk mamanya, dan hatinya merasa cukup lega.


Meskipun Farida gadis yang baik dan cantik, tapi mama Firda tidak mau memaksakan kehendaknya pada anaknya. Karena ia takut, hal itu justru membuat hubungan dengan anaknya menjadi tidak baik. Padahal di dunia ini, hanya Luqman satu-satunya harta berharganya.


__ADS_2