Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
89. Pertemuan kembali


__ADS_3

"Haha. Kenapa? Kamu pasti tidak menyangka, aku akan menolak tawaran mu itu kan?" Dengan pongahnya Bu Nindi bertanya.


Meskipun tadi Pak Andreas terkejut, tapi ia cukup bisa menguasai dirinya. Seulas senyum pun terbit di wajahnya.


"Okay, jika kamu sudah mengambil keputusan. Aku juga tidak rugi dengan keputusan yang sudah kamu ambil itu." Dengan santainya Pak Andreas membalas.


Tak lama kemudian setelah pria itu berkata, beberapa orang laki-laki yang memakai kaos serba hitam mendekat ke arah mereka.


Terlihat Bu Nindi menyunggingkan senyum, karena melihat anak buahnya selalu bisa di andalkan dalam setiap kondisi.


"Seret dia keluar!" Perintahnya dengan tegas, sambil menunjuk wajah Pak Andreas.


Tapi hal yang terjadi sungguh di luar dugaan. Bukannya menangkap Pak Andreas, tapi mereka justru mencengkeram kedua tangan wanita yang sudah menyuruhnya tadi dengan erat. Sehingga membuat Bu Nindi terkejut dan memekik histeris.


"Hei! Apa yang kalian lakukan? Seharusnya kalian menangkap dia. Bukan malah menangkap ku. Lepaskan!" Wanita itu sangat geram pada anak buahnya.

__ADS_1


Ia menunjuk Pak Andreas yang tengah tersenyum sambil berusaha menghentakkan pegangan itu agar terlepas. Tapi usaha yang ia lakukan sia-sia. Bahkan cengkeraman itu semakin bertambah kuat.


"Hei, kalian tidak dengar apa yang aku bicarakan? Kalian sedang ngeprank aku ya?" Bu Nindi masih tidak percaya, jika anak buahnya sendiri tega melakukan hal itu padanya.


"Kamu lihat, siapa yang berkuasa di sini kan? Jika kamu mau mengikuti syarat ku tadi, pasti kamu tidak akan diperlakukan seperti ini."


"Okay, baiklah. Aku akan mengikuti permintaan mu. Tapi sekarang lepaskan aku."


"Hei, aku tidak pernah menarik kembali apa yang sudah aku ucapkan. Termasuk hal tadi. Bawa dia ke mobil polisi sekarang."


Meskipun wanita itu berteriak histeris, dan bahkan sampai memaki-maki, tidak menyurutkan niat mereka untuk melepaskannya.


Tentu saja mereka lebih takut mendekam di penjara dalam kurun waktu yang lama, jika tidak memenuhi permintaan Pak Andreas.


Rombongan Pak Andreas cukup lihai dan pintar bertindak. Mereka berhasil menaklukkan anak buah Bu Nindi, ketika pria itu masuk ke dalam tempat terkutuk itu.

__ADS_1


Di luar, tampak Clara dan yang lain berdiri di samping mobil sambil melipat kedua tangannya, dan memperhatikan rombongan orang-orang yang baru keluar dari tempat itu.


Bu Nindi pun melakukan hal yang sama, seperti yang mereka lakukan. Ia menatap mereka dan mengamatinya satu persatu, hingga pandangannya terkunci pada sosok gadis cantik yang memakai pakaian lebar dan juga menutup kepalanya dengan kerudung lebar.


"Ka-kamu Mawar?" Dengan tergeragap Bu Nindi mengucapkannya.


"Itu nama palsu ku. Karena namaku yang sebenarnya adalah Clara. Kamu tega memisahkan aku dengan kedua orang tuaku. Dan yang lebih parahnya lagi, kamu sudah mengarang cerita bohong. Ku pikir dulu kamu adalah malaikat. Tahunya cuma makhluk yang tidak memiliki hati." Dengan berapi-api Clara mengatakannya.


"Hei, harusnya kamu tetap berterima kasih padaku. Karena aku mau merawat mu dengan baik, seperti seorang ibu yang membesarkan anaknya. Jangan jadi kacang lupa kulitnya!"


"Justru aku bukan kacang yang lupa kulitnya. Makanya aku rela datang jauh-jauh kesini untuk menjemputmu."


"Hah, benarkah itu? Kamu mau membawaku kemana? Kenapa kamu tidak tinggal di sini saja lagi bersamaku? Dan, untuk apa mereka ada sini?"


Dengan mudahnya Bu Nindi percaya dengan kata-kata Clara, setelah hal yang ia lewati baru saja.

__ADS_1


"Tentu aku akan membawa mu ke kantor polisi. Karena bagaimanapun juga, kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu." Imbuh Clara dengan senyum puas. Sedangkan senyum yang tadi mengembang di wajah Bu Nindi seketika lenyap. Dengan geram ia melangkah mendekati Clara dan hendak menarik jilbabnya, tapi Luqman begitu siaga. Ia langsung berdiri di depan keduanya dan menarik tangan Bu Nindi dengan kuat.


__ADS_2