
"Ma, Luqman keluar dulu sebentar ya." Mencium punggung tangan mamanya dengan takzim.
"Kemana sepagi ini kamu akan pergi, Luqman? Bahkan kita belum menghabiskan waktu dengan sarapan bersama lho." Mama Firda mengernyitkan dahi, menatap putra satu-satunya yang sudah tampak rapi, padahal itu adalah weekend.
"Luqman ada urusan penting, Ma. Tapi tidak bisa menceritakannya sekarang. Pamit dulu ya, Ma." Setelah berkata seperti itu, Luqman segera berlalu pergi. Dan, sang Mama pun menatap kepergiannya dengan penuh keheranan.
"Kenapa tingkahnya semakin aneh begitu sih? Apa semuanya masih berhubungan dengan Clara? Ah, semoga dia bisa memilih keputusan yang terbaik. Agar tidak terus-menerus bersikap aneh seperti itu." Mama Firda pun kembali melanjutkan pekerjaannya merapikan tanaman di kebun belakang.
"Tante." Tak berselang lama, setelah kepergian Luqman, muncul Clara dengan senyum sumringahnya.
"Biar Clara bantu ya." Lanjut gadis itu setelah menyapa sang pemilik rumah. Ia memungut beberapa tangkai yang berserakan di bawah, lalu memasukkannya ke dalam keranjang sampah dengan begitu cekatan. Sehingga membuat Mama Firda tersenyum puas.
"Ini sudah hampir selesai kok, biar dilanjutkan sama tukang kebunnya. Sekarang kita sarapan pagi bersama yuk."
"Clara belum lapar kok, Tan. Ngomong-ngomong, kemana perginya mas Luqman? Kenapa tadi Clara melihatnya terburu-buru ya, Tan? Apa ada sebuah acara yang harus dihadiri?"
"Tante juga tidak tahu, Clara. Saat pamitan tadi, ia juga tidak bicara apa-apa. Hanya nanti akan mengatakannya setelah pulang. Sebenarnya Tante juga sangat penasaran sih. Tapi mau bagaimana lagi, Tante hanya bisa menahan saja. Semoga dia tidak aneh-aneh." Mama Firda mengedikkan bahunya.
Clara manggut-manggut mendengar penjelasan wanita dihadapannya, dan tak lagi memikirkan kepergian Luqman. Ia memfokuskan perhatiannya pada tanaman yang ada dihadapannya.
"Clara, kamu kan sudah mandi. Nanti kalau tanganmu kotor lagi bagaimana?" Mama Firda merasa tidak enak, jika Clara membantunya, karena Clara yang sekarang, bukankah Clara yang dulu. Ia adalah anak seorang pengusaha yang sukses.
Gadis itu terkekeh mendengar celetukan Mama Firda, yang dinilai terlalu berlebihan.
"Tante, nanti Clara kan bisa cuci tangan. Ayo, kita bereskan dulu pekerjaan ini, setelah itu baru bisa menikmati sarapan pagi." Ajaknya dengan bersemangat. Mama Firda pun akhirnya mengikuti perkataan Clara, keduanya merapikan tanaman di kebun.
Tak lama kemudian, Nyonya Anita datang dan ikut bergabung dengan keduanya. Ketiga wanita itu berkebun sambil bersenda gurau dengan riang gembira.
**
Sementara itu di tempat yang cukup jauh, Luqman tengah memasuki sebuah toko. Lalu mendekati sebuah etalase yang panjang dan memantulkan kilauan cahaya yang gemerlap dan begitu memanjakan mata.
__ADS_1
"Ada yang bisa kami bantu?" Seorang karyawan wanita menyapanya dengan ramah.
"Saya ingin sebuah cincin yang paling bagus dan limited edition."
"Oh, mari ikuti saya tuan." Karyawati itu segera berlalu pergi, dan diikuti oleh Luqman. Keduanya memasuki sebuah ruangan khusus, dan ketika pintu di buka, tampak seorang pria berjas rapi duduk di sebuah kursi.
"Pak, beliau ingin membeli cincin yang limited edition di toko ini." Karyawati itu mengutarakan permintaan Luqman pada atasannya. Dengan senyum lebar, pria berjas itu berdiri dari tempat duduknya.
"Anda tidak salah datang ke toko kami, Tuan. Kami memang menyediakan perhiasan yang limited edition, agar setiap orang memiliki momen dan kenangan yang berbeda dengan pasangannya. Ini adalah beberapa pilihan bentuk perhiasan, mungkin ada yang membuat Anda tertarik." Pria itu menjelaskan panjang lebar pada Luqman tentang deretan perhiasan yang lebih berkilau dibandingkan perhiasan yang di pajang di etalase luar tadi.
Bagi Luqman ini adalah pengalaman pertamanya ke toko perhiasan, dan ia merasa begitu takjub dengan setiap bentuk yang berbeda dari perhiasan tersebut.
Cukup lama ia mengamatinya, hingga akhirnya ia memutuskan untuk membeli sebuah cincin yang ditengahnya berhias batu permata berwarna merah muda.
"Saya ingin cincin ini, Pak." Luqman menunjuk cincin yang sudah mencuri perhatiannya sejak pertama kali ia melihatnya.
"Itu adalah pilihan yang tepat, Tuan. Karena cincin itu memiliki kualitas yang terbaik dan bentuknya juga sangat indah. Apa ada lagi?" Tawar manager itu ramah.
"Okay, kalau begitu kami akan buatkan notanya sekarang. Silahkan duduk dulu." Laki-laki itu mempersilahkan Luqman duduk di sofa yang lebar dan empuk.
"Ini barang dan notanya, Tuan. Terima kasih sudah berbelanja di toko kami. Semoga wanita pilihan anda bahagia menerima pemberian dari Anda. Dan tak lupa kami nantikan kunjungan Anda berikutnya." Suara manager mengejutkan Luqman. Ia pun segera berdiri dan menerima sebuah paper bag yang berisi barang belanjaannya dengan senyum sumringah.
"Semoga acaranya berjalan lancar ya, Tuan. Tenang saja, tidak usah nervous, serahkan semuanya pada Tuhan. Hal itu wajar saja terjadi, karena kebanyakan orang pernah kok mengalaminya." Manager menepuk pelan bahu Luqman, seolah tahu apa yang sedang dipikirkannya.
'Kenapa dia bisa tahu apa yang sedang aku pikirkan?'
"I-iya, Pak." Luqman menjawab sekenanya.
Setelah sampai tempat parkir, Luqman segera memacu kendaraannya agar berjalan lebih cepat. Ia ingin memberi kejutan pada wanita yang dicintainya.
Dan kini ia sedang memikirkan kata-kata yang pas untuk menyatakan perasaannya. Karena dari semalam, ia tidak kunjung mendapatkan rangkaian kata yang tepat.
__ADS_1
Jantungnya seakan ingin lompat dari tempatnya, menyadari mobilnya sudah memasuki garasi. Keringat dingin membanjiri tangannya, yang masih memegang kemudi.
"Bukankah tadi manager itu bilang, jika hal ini umum terjadi? Semua orang pernah berada diposisi ku. Jadi aku yakin, semua orang tidak akan menertawakan ku. Huft." Setelah bermonolog dan membuang nafas, untuk menghilangkan kegelisahannya, akhirnya Luqman turun dari mobil.
Pria itu berjalan dengan mantap menuju ruang makan. Ia yakin, semua orang pasti sedang berkumpul di sana. Dan benar saja, mamanya tersenyum melihat kedatangannya.
"Assalamu'alaikum. Selamat pagi semua." Luqman menyapa seisi ruangan itu, seraya menyunggingkan senyum, untuk menghilangkan rasa nervous nya.
"Wa'alaikumussalam." Semua kompak membalas salamnya, sambil menoleh ke arahnya.
"Dari mana kamu pergi sepagi ini, nak?" Pak Andreas memperhatikan Luqman sambil menghentikan gerakan tangannya yang mengaduk makanan.
"Sa-saya, tadi ada urusan sebentar." Luqman masih mengulas senyum, lalu meraih air putih yang ada di dekatnya dan meneguknya.
"Em, ada hal yang penting, yang ingin saya sampaikan." Setelah cukup rileks, barulah Luqman berkata lagi.
"Oh ya, apa itu?" Pak Andreas yang berada didekatnya antusias bertanya. Sedangkan Mama Firda dan yang lainnya, menatapnya dengan serius.
'Apa lagi yang mau ia lakukan?' Mama Firda berpikir dengan penuh rasa penasaran.
"Umur saya sudah tidak muda lagi, dan niat yang baik tidak boleh ditunda." Luqman menghela nafas, membuat mereka yang ada disitu saling pandang kebingungan.
"Clara, apa kamu mau menjadi pasangan ku. Menemani ku dalam suka dan duka dalam ikatan yang halal?"
Semua orang terkejut mendengar penuturan Luqman. Bahkan mulut mereka sampai menganga, karena rasa tidak percayanya.
'Putraku, akhirnya berani mengungkapkan isi hatinya.' batin Mama Firda berdecak kagum.
'Sungguh, aku tidak menyangka jika nak Luqman lah yang akan mengatakan hal itu pada anakku.' batin pak Andreas dan istrinya.
'A-aku sedang tidak bermimpi kan?' Clara menepuk kedua pipinya dan juga mencubit tangannya sendiri, hingga mengaduh kesakitan.
__ADS_1