
Luqman memijat pelipisnya yang sedikit berdenyut, karena ulah Mawar. Ia menghirup nafas dalam-dalam. Setelah itu, coba memperbaiki setrikanya. Mawar juga masih berdiri disitu, memperhatikan apa yang dikerjakan oleh majikan laki-lakinya.
Kini setrika itu berhasil diperbaiki. Pria itu lalu menjelaskan pada Mawar, cara menyetrika baju yang benar. Gadis itu manggut-manggut mendengar penjelasannya.
Setelah paham, ia mencoba menyetrika satu potong baju dengan hati-hati. Bahkan karena terlalu takutnya akan mengulang kejadian yang sama, ia sampai berkeringat dingin. Satu tangannya bergerak mengusap keringat yang menetes, melewati wajah mulusnya.
"Kamu sakit?" tanya Luqman yang masih berdiri disitu.
"Eh, tidak kok mas. Mawar hanya takut saja, kalau mas Luqman sama Tante Firda memarahi Mawar. Tau sendiri, pekerjaan tidak ada yang beres ditangan Mawar." Mawar menyunggingkan senyum ironi.
Luqman yang melihatnya kasian juga. Tapi bercampur gemes, kalau sudah mengingat kesalahannya.
"Tidak apa-apa. Semoga kedepannya bisa lebih baik lagi. Ini bajunya aku ambil ya." Luqman mengambil baju kurta berwarna putih, lalu membawanya pergi.
Tumpukan baju yang ada di keranjang, sudah selesai di setrika Mawar. Gadis itu tersenyum puas, karena hasil setrikaannya lumayan rapi.
Ia membawa baju yang telah di setrika itu ke dalam kamar majikannya.
Pertama ia meletakkan tumpukan baju itu di atas tempat tidur mama Firda. Lalu yang kedua, ia mengantar baju itu ke kamar Luqman.
Matanya membulat dan seketika ia menelan saliva dengan susah payah, ketika melihat Luqman keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk sebatas pusar.
Dada eight pack nya begitu indah dilihat. Apalagi ditambah dengan bulu-bulu halus yang tumbuh disana. Wajahnya yang tampan dan ditumbuhi jambang halus, semakin menambah pesona Luqman saat itu.
"Tidak! Ini ujian terberat bagi seseorang yang ingin insyaf seperti ku. Aku harus mampu melewati ujian ini. Biar jadi wanita sholihah." gumam Mawar dengan penuh keyakinan.
"Mawar!" seru Luqman terkejut, tangannya bergerak menutupi dadanya yang tanpa kain pembungkus.
__ADS_1
"Permisi, mas. Ini saya cuma mau mengantar baju yang sudah saya setrika. Ditaruh dimana ya?" tanya Mawar, sambil memejamkan mata. Lalu berjalan mendekat.
"Stop! Stop! Kamu berhenti disitu saja Mawar. Jangan mendekat." pekik Luqman ketakutan.
Bagaimana pun juga, ia seorang laki-laki normal. Apalagi melihat lekuk tubuh Mawar yang indah menggoda. Walaupun sudah ditutup baju yang lebar, masih bisa terlihat jelas. Hal itu menjadi ujian tersendiri baginya.
"Kamu belok ke kiri dan letakkan baju itu di atas tempat tidur." titah Luqman. Gadis itu pun patuh, dan berjalan sesuai arahannya.
Tapi karena matanya memang masih terpejam, ia tidak melihat ada karpet di bawah ranjang tempat tidur itu. Sehingga kakinya terjerat dan jatuh. Lagi-lagi ia ambruk tepat di atas tubuh Luqman.
"Mawar!" pekik Luqman, yang membuat gadis itu membelalakkan matanya lebar.
Badan Luqman yang tadi terasa dingin dan segar karena guyuran air shower, kini mendadak menghangat.
Mawar tidak menyangka, jika dirinya akan jatuh di atas tubuh majikannya lagi. Tidak hanya itu saja, ia juga merasakan sesuatu yang mengeras dibawah sana.
"Cepat kau menyingkir dari atas tubuhku!" seru pria itu lagi.
"I-iya." Mawar pun menyingkirkan tubuhnya dari atas tubuh majikannya. Lalu menatap ke arah pria yang sedang berusaha untuk berdiri.
"Hah?"
Mawar membekap mulutnya dengan kedua tangannya, sedangkan matanya membelalak lebar. Karena saat Luqman berdiri, handuknya merosot ke bawah.
Secepat kilat, Luqman kembali berjongkok dan mengambil handuknya. Lalu melilitkan di pinggangnya.
"Pergi kamu!" ucap Luqman dengan suara lantang.
__ADS_1
Mawar mendongakkan kepalanya, dengan mata yang sudah berkaca-kaca dan bibirnya bergetar.
"M-Mas Luqman, mengusirku?" lirihnya dengan suara parau dan bergetar bibir tipisnya.
"Maksudku, silahkan kamu keluar dari kamarku." Luqman menunjuk arah pintu keluar.
"Ta-tapi aku masih diijinkan bekerja disini kan, mas?" tanya Mawar, setelah mengumpulkan segenap keberaniannya.
"Iya. Sekarang kamu keluar dari kamarku sekarang." Luqman kembali menunjuk pintu keluar.
"Ba-baik, mas. Terima kasih."
Mawar menyapu wajahnya yang terkena cairan air mata, lalu bangkit berdiri dan berlalu pergi.
"Jangan lupa kunci pintunya!" seru Luqman kembali.
Mawar berhenti sesaat, karena mendengar ucapan majikannya yang belum bisa ia pahami. Lalu ia berbalik arah dan menatap wajah majikannya.
"Maksudnya di kunci dari dalam atau dari luar ya, mas? Kok Mawar tidak mengerti."
"Hah?" Luqman terlihat cengo. Karena menyadari jika ia salah memberi perintah.
Bagaimana mungkin ia menyuruh Mawar untuk mengunci pintunya?
Jika Mawar mengunci pintunya dari dalam, itu artinya keduanya berada di kamar lebih lama lagi. Sedangkan bila Mawar mengunci pintunya dari luar, ia justru yang tidak bisa keluar dari kamar.
"M-maksudku, tutup saja pintunya. Ingat! Jangan sampai kamu mengintip ku."
__ADS_1
"I-iya mas." balas Mawar dengan suara yang masih bergetar.