Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
28. Terkejut


__ADS_3

Cukup lama Mawar dan mama Firda mengelilingi setiap lorong supermarket. Hingga hari hampir malam barulah keduanya selesai berbelanja.


Karena kecapekan sekaligus kelaparan, keduanya mampir ke sebuah restoran yang cukup ramai pengunjung.


Keduanya berjalan memasuki restoran. Mama Firda mengedarkan pandangannya mencari tempat kosong.


Sedangkan Mawar memperhatikan dengan seksama pengunjung yang sedang duduk menikmati makanannya, dan juga beberapa pengunjung yang baru datang.


"Ayo, kita kesana." ajak mama Firda, sambil menggandeng tangan Mawar. Gadis itu pun berjalan mengikuti langkah majikannya.


Setelah keduanya duduk di saung, tak lama kemudian seorang pelayan mendekati mereka untuk memberikan price list.


Mawar membulatkan matanya ketika melihat setiap deretan makanan yang berharga mahal.


"I-ini sungguhan harganya segini? Ataukah salah tulis harga?" tanyanya dengan polos, yang membuat pelayan terpaksa menahan senyum.


"Benar, nona. Tidak ada kesalahan menulis." balas pelayan ramah.


"Masa, air putih saja harganya sepuluh ribu." gumam gadis itu sambil geleng-geleng kepala.


"Kamu mau pesan apa, Mawar?" mama Firda mengalihkan perhatian gadis itu.


Mawar pun memilih dengan seksama, makanan yang memiliki harga paling murah di restoran itu.


"Ini saja." ucap gadis itu, sambil menunjukkan menu makanan pada pelayan.


Mama Firda melongokkan kepalanya melihat menu makanan yang di tunjuk oleh Mawar, lalu ia menyunggingkan senyum tipis.

__ADS_1


Setelah Mawar, kini giliran mama Firda yang menunjukkan menu makanan yang di pilih pada pelayan.


Mawar pun melakukan hal yang sama dengan mama Firda tadi, yakni melongokkan kepalanya melihat menu yang di pilih oleh majikannya.


'Wah, mahal juga ya. Benar-benar orang kaya yang sesungguhnya.' batin Mawar penuh rasa takjub.


Apalagi mama Firda tidak hanya memesan satu, tapi beberapa jenis makanan. Mawar saja sampai kesusahan untuk mengucapkannya. Karena menu makanan itu kebanyakan memakai nama latin.


Sebelum pelayan pergi, ia mencatat baik-baik pesanan mereka. Setelah itu, sambil menunggu pesanan makanan datang, keduanya bercakap-cakap.


"Tante, memang makanan di restoran ini seenak apa sih? Perasaan harganya mahal, tapi pengunjungnya banyak juga." tanya Mawar, sambil mengernyitkan dahi.


Seperti biasa, mama Firda akan mengulas senyum sebelum menjawab pertanyaan Mawar yang sangat kritis itu.


"Enak atau tidak, itu tergantung selera pengunjung. Mereka memberi tarif yang mahal pada makanan yang mereka jual, karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Bisa jadi karena bahannya sulit untuk di dapatkan, dan bahannya itu sendiri juga sudah mahal duluan. Bisa jadi harganya mahal karena untuk membayar gaji para karyawan. Jadi, banyak sekali faktor yang mempengaruhinya. Jika kita tidak sanggup untuk membelinya, jangan sampai kita menghina orang yang menjual segala sesuatunya dengan harga mahal. Takutnya bisa menyakiti perasaannya."


Tak lama kemudian, seorang pelayan menghidangkan pesanan keduanya. Mawar membulatkan matanya ketika di piring lebar itu hanya ada sedikit makanan yang tersaji. Mungkin hanya dua kali sendok, makanan itu sudah habis.


Ketika akan mengomentari makanan itu, seketika ia ingat dengan perkataan mama Firda. 'Jangan mengomentari di hadapan penjual atau pelayannya langsung.'


"Silahkan dinikmati." ucap pelayan dengan ramah sebelum pergi.


Setelah itu, Mawar pun mulai mencicipi makanan yang tadi di pesannya. Gadis itu meringis merasakan macaroni schotel yang ia pesan. Pasalnya makanan itu memiliki rasa gurih perpaduan dari susu dan keju, tapi ia tidak menyukainya.


"Tan, apa ini tidak di beri nasi?"


Mama Firda menggelengkan kepalanya, sambil menyunggingkan senyum tipis.

__ADS_1


"Tentu saja tidak, Mawar."


"Yah, mana kenyang." seketika gadis itu menampilkan raut wajah lesu.


"Kalau belum kenyang, kamu bisa ambil makanan ini Mawar." mama Firda menunjuk beberapa makanan yang terhidang di meja tapi belum di sentuh.


"Itu kan milik, Tante."


"Kamu makan juga tidak apa-apa kok."


"Hore! Terima kasih ya, Tan." seru gadis itu dengan riang gembira.


Mama Firda memang sekalian memesan banyak makanan, untuk berjaga-jaga jika Mawar masih belum kenyang.


Puas menikmati makan malam bersama, keduanya segera pulang. Tak lupa mereka berhenti di meja kasir untuk membayar total tagihan makanan.


Mawar pun mengeluarkan uang dari dalam dompet yang ada dalam genggamannya. Namun mama Firda mendorong dompet itu kembali.


"Biar Tante yang membayarnya."


"Terima kasih, Tante. Anda sama mas Luqman adalah orang paling baik di muka bumi ini. Seumur hidup, Mawar tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian."


"Kamu bisa saja, Mawar." Tante Firda mengulas senyum sejenak, lalu menoleh pada pelayan kasir.


"Berapa, mbak?"


"Total bayar untuk meja nomor tiga belas sebesar, satu juta rupiah."

__ADS_1


Untuk yang kesekian kalinya Mawar di buat terkejut, karena total tagihannya cukup banyak. Hingga ia geleng-geleng kepala sendiri.


__ADS_2