Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
81. Ingin mencubit


__ADS_3

Clara menghembuskan nafasnya, sebelum turun dari kendaraan roda empatnya. Dengan di dampingi kedua orang tuanya, dan di belakangnya juga ada tiga orang karyawan, mereka berjalan memasuki lobby perusahaan.


Setelah mengatakan keperluannya pada resepsionis, mereka duduk di sofa tamu. Pandangannya menyapu setiap sudut ruangan yang tampak memiliki konsep berbeda dari perusahaan lainnya. Karena tulisan kaligrafi terpasang di mana-mana.


Sementara itu di lantai teratas gedung itu, setelah mendapat kabar dari resepsionis Luqman segera bangkit dari duduknya dan merapikan penampilannya cukup lama.


Walaupun sebenarnya penampilannya sudah rapi dan tampan, tetapi tetap saja ia tidak percaya diri. Dan baru sekarang lah ia tiba-tiba kehilangan rasa percaya diri.


Sekian menit berlalu, akhirnya Luqman mantap untuk melangkahkan kaki keluar dan segera menemui keluarga pak Andreas. Ia tidak ingin tamu agungnya itu menunggu terlalu lama.


Sejenak ia menghentikan langkahnya, ketika melihat Pak Andreas yang duduk berjejer dengan anggota keluarganya. Pandangan Luqman justru tertuju pada Clara. Karena ia tampak lebih cantik dan pakaiannya juga lebar seperti mamanya. Terlihat sangat anggun. Rasanya mantan pembantu rumah tangga, tidak layak ia sandang.


Beberapa detik berlalu dengan angan-angan tentang Clara, Luqman akhirnya tersadar dan segera menghampiri tamunya.


"Selamat sore." Luqman berdiri tegap sambil menyunggingkan senyum.

__ADS_1


Pak Andreas sekeluarga segera bangkit berdiri dan tersenyum melihat pria tampan di hadapannya. Keduanya saling berjabat tangan dan berpelukan.


"Sudah lama tidak bertemu, tetap mas Luqman yang paling tampan ya." Celoteh Clara dengan senyumannya yang khas. Membuat papa dan pria yang di puji itu mengalihkan perhatian padanya. Luqman pun tampak tersipu malu.


"Clara, apa selama tinggal dengan nak Luqman, kamu selalu memujinya? Ish, malu-maluin tahu." Nyonya Anita mencubit hidung mancung anaknya, sehingga ia meringis kesakitan. Sementara papa dan Luqman justru tertawa.


"Haha, biarkan saja. Habisnya mas Luqman tuh menggemaskan sekali wajahnya kalau sedang malu-malu gitu." Clara tertawa puas.


Ia senang bisa kembali bertemu dengan mantan majikannya. Ingin sekali memeluknya untuk meluapkan rasa kangennya, tapi segera menguasai diri bahwa hal itu tidak diperbolehkan.


"A-apa, mas Luqman memujiku? Aku sangat senang sekali, sekaligus terharu, karena mendapat pujian dari majikan ku sendiri." Clara menangkupkan kedua tangannya di depan dada sambil matanya berkedip-kedip indah, membuat Luqman bergetar hatinya.


'Dia kenapa semakin menggemaskan sekali? Ingin mencubit, tapi takut dosa.' Wajah Luqman memerah menahan gemas pada Clara.


"Kenapa wajah mas Luqman semakin memerah seperti itu? Harusnya yang tersipu malu itu kan aku?" Celetuk Clara dengan suaranya yang cukup keras, sehingga membuat pria itu tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Eh..." Luqman reflek mengusap wajahnya.


"Clara, hentikan. Kamu kenapa jahil sekali? Menggoda mantan majikan mu sendiri?" Lagi-lagi mama mengingatkan Clara.


"Ah, ini hanya cara Clara untuk meluapkan rasa kangen saja, ma."


"Oh, iya. Mari ke ruangan saya dulu, agar bisa berbincang-bincang santai sambil melepas penat."


"Nanti saja, nak. Sebaiknya kita periksa barang pesanannya dulu." Tolak pak Andreas.


"Oh, baiklah kalau begitu. Mari." Luqman mengarahkan sebelah tangannya dengan sopan, menunjuk pintu keluar.


Mereka pun berjalan bersama menuju truck yang membawa bahan baku dari perusahaan pak Andreas.


Sesampainya di sana, karyawan Pak Andreas menyerahkan buku sampel kain pada Luqman. Lalu pria itu membuka dan mencocokkannya beberapa dengan barang kiriman.

__ADS_1


Merasa sudah ok, semua bahan baku itu dimasukkan satu persatu ke dalam gudang.


__ADS_2