
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima jam, akhirnya Luqman tiba di kota F. Kali ini, ia singgah terlebih dahulu di hotel, yang sudah disiapkan oleh panitia.
Sesampainya di dalam kamar hotel, ia merebahkan diri untuk menghilangkan rasa capeknya, sambil memberi kabar pada mamanya, bahwa ia sudah sampai di kota tujuan dengan selamat.
Sore hari ketika terbangun dari tidurnya, Luqman segera membersihkan diri dan menyiapkan materi penting yang akan di sampaikan nanti saat acara pengajian Akbar.
Hari mulai beranjak malam. Setelah melaksanakan sholat Maghrib, ia berangkat menuju tempat acara dengan mengendarai mobilnya. Ia memang menolak tawaran dari pihak panitia yang ingin menjemputnya.
Setelah menempuh tiga puluh menit perjalanan, akhirnya mobil Luqman memasuki masjid Agung yang ada di kota itu.
Panitia menyambutnya dengan berjabat tangan dan senyum yang ramah. Luqman pun di ajak masuk ke dalam sebuah ruangan, sebelum acara di mulai. Di sana ia dijamu dengan baik.
Tak berapa lama kemudian, acara akan segera di mulai. Luqman dipersilahkan memasuki tempat acara. Lalu duduk di kursi besar yang sudah disiapkan untuknya.
Semua mata menatap ke arahnya. Luqman pun membalasnya dengan senyuman ramah yang menawan.
Setelah melewati serangkaian acara pembukaan, kini saatnya Luqman menyampaikan tausyiah. Seluruh kamera dipusatkan pada dirinya. Karena pengajian itu diadakan secara live.
**
Di kediaman mama Firda, ia tengah duduk di sofa ruang keluarga, sambil menghadap layar televisi.
Setiap kali anaknya mengisi tausiyah secara live, pasti mama Firda akan menontonnya. Senyumnya tersungging ketika melihat anaknya memasuki tempat acara.
Tak berapa lama kemudian, acara pun di mulai. Luqman mengucapkan salam pada para hadirin. Lalu memulai tausyiahnya.
Mawar yang akan mengecek setiap pintu rumah, apakah sudah dikunci atau belum, langkahnya seketika terhenti, ketika samar-samar mendengar suara yang sangat dikenalinya.
"Seperti suara mas Luqman. Tapi, bukankah dia baru keluar kota?"
Karena penasaran, Mawar mengikuti pendengarannya. Dan berhenti tepat di ruang keluarga.
"Ya ampun, mas Luqman masuk TV." Mawar berbinar wajahnya dan reflek menangkup kedua pipinya dengan tangannya.
"Apa dia seorang ustadz yang terkenal? Sampai-sampai ia masuk TV. Wajar sih kalau dia bisa terkenal. Mas Luqman kan ganteng banget, suaranya juga lembut. Ah, dia memang benar-benar laki-laki idaman. Pengen jodoh kayak dia juga ya Tuhan."
Perlahan Mawar mendekat ke arah TV. Mama Firda yang merasakan kehadiran seseorang, akhirnya menoleh. Ia melihat Mawar yang tampak begitu terpesona dengan putra semata wayangnya.
"Duduk sini, Mawar." Mama Firda menepuk sofa kosong yang ada di dekatnya.
"Eh, iya Tante."
__ADS_1
Mawar pun duduk di samping mama Firda. Tatapannya tak pernah berhenti menatap Luqman yang tengah berbicara.
"Ya ampun, dulu Tante ngidam apa sih? Ada amalan tertentu ngga? Punya anak kok tampan, gagah, pintar, semuanya diborong." Mawar menatap mama Firda dengan seksama.
"Em, apa ya?" Mama Firda mengetuk dagunya sambil mengingat-ingat, lalu tersenyum tipis.
"Tante tidak tahu, apa yang Tante lakukan itu di terima tidak sama Allah. Tapi biasanya Tante selalu membaca Alqur'an dimana pun dan kapan pun. Berusaha berprasangka baik, menjaga wudhu, apa lagi ya... Ya seperti apa yang biasa kamu lihat. Tahu kan?"
"Iya, Tante. Mawar paham."
Tak terasa akhirnya tausyiah yang disampaikan Luqman telah selesai. Saatnya sesi tanya jawab. Pria itu mampu menjawab seluruh pertanyaan dari para peserta dengan baik.
Mawar sampai di buat terkagum-kagum olehnya. Hingga ia beberapa kali menggelengkan kepalanya.
Namun gadis itu tidak hanya sekedar terkagum saja, ia juga mampu menyerap setiap ucapan Luqman dengan baik dan juga berusaha menjalankannya.
"Yah, acaranya selesai." Keluh Mawar, ketika pemandu acara itu menutup acara dengan doa kafaratul majelis.
"Tenang, nanti di rumah kamu bisa minta siaran ulang pada Luqman." Mawar terkekeh sambil menutup mulutnya.
**
Hari sudah malam, mama Firda dan Mawar sudah mulai mengantuk. Keduanya pun menuju ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Meskipun jarak yang harus ditempuh cukup jauh, ia tidak mengapa. Untuk menyelesaikan pekerjaan di perusahaannya yang pasti akan menumpuk.
**
Setelah menempuh perjalanan hampir lima jam, akhirnya Luqman tiba di kotanya. Dan sebentar lagi ia akan sampai di kediamannya.
Temaram lampu dan suasana hening menyambutnya, ketika memasuki pelataran rumahnya. Wajar saja, karena ia tiba sekitar pukul tiga dini hari.
Ia masuk ke rumahnya sambil mengucapkan salam dengan lirih. Walaupun ia tahu tidak ada yang menjawab. Karena ia yakin mama dan Mawar masih tidur.
Luqman menuju ke dapur, karena rasa haus yang tidak tertahankan. Tapi langkahnya perlahan terhenti, ketika melihat Mawar tengah duduk sambil menengadahkan tangannya ke atas.
Ya, Mawar berusaha bangun lebih awal untuk mengerjakan sholat malam. Ia terus memohon pada Tuhannya, agar diampuni segala dosa-dosanya dan diberi kemudahan untuk berbuat baik.
Luqman tersenyum, ketika melihat hal itu. Dan diam-diam ia mendoakan dalam hati, agar Mawar menjadi wanita yang sholihah.
Setelahnya ia segera berlalu menuju kulkas untuk mengambil air minum.
__ADS_1
**
Di dalam kamar, Mawar telah menyelesaikan ibadahnya. Lalu ia pun keluar kamar, karena ingin pipis.
"M-Mas Luqman, atau maling?" Celetuk Mawar, dengan suara yang tercekat di kerongkongan. Luqman pun menoleh, ketika mendengar suara pembantu bar-bar nya.
"Ini aku Luqman, Mawar."
Mawar mengurut dadanya sambil tersenyum lega. Sejujurnya ia takut, jika ada maling yang masuk ke rumah megah majikannya. Terbayang berapa banyak kekayaan yang bisa di curi.
"Mas Luqman kapan pulang?"
"Baru saja."
"Oh ya, lalu kenapa di dapur?"
"Haus." Luqman mengusap kerongkongannya, yang terasa kering.
"Jam segini mau minum air dingin? Apalagi baru pulang dari perjalanan jauh. Tidak bisa begitu! Biar Mawar buatkan susu hangat dulu. Mas Luqman duduk dulu. Ingat tidak boleh membantah. Atau Mawar akan pergi dari rumah ini."
Mawar segera mengambil susu, dan menuangkannya ke dalam gelas, lalu menyeduhnya dengan air hangat.
Luqman tertegun, ketika melihatnya begitu terampil dan perhatian juga padanya.
Setelah selesai, barulah Mawar menghidangkan minumannya ke meja yang ada di dekat Luqman.
"Ini mas, di minum dulu. Susu hangat yang sangat spesial buatan Mawar."
Luqman tersenyum tipis ketika mendengar celotehan Mawar.
"Kenapa malah ketawa sih? Padahal Mawar ini beneran takut jika terjadi apa-apa dengan mas Luqman. Apalagi sampai meninggal, Mawar tidak bisa deh melihat mas Luqman yang tampan ceramah di dalam tv lagi. Jadi intinya, mas Luqman harus menghindari minum dingin, setelah bepergian jauh. Okay?"
"In shaa Allah." Luqman kembali tersenyum.
"Itu tandanya mau mengingkari janji. Kalau serius mau berjanji, ya harusnya bilang okay."
"Iya, aku akan berusaha untuk mengikuti perkataan mu, Mawar. Asisten rumah tangga yang sangat care dengan majikannya."
"Ah, mas Luqman bisa saja. Memang care artinya." Mawar menutup mulutnya yang meringis.
"Sangat peduli maksudnya, Mawar."
__ADS_1
"Oh, begitu." Mawar manggut-manggut sambil ber-o ria.