Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
84. Rumah sakit


__ADS_3

"Eh, mas Luqman apa-apaan sih? Mau mencuri kesempatan ya?" Celetuk Clara yang membuyarkan suasana tegang beberapa saat tadi.


"Ti-tidak!" Luqman seketika menarik tangannya, lalu menyandarkan tubuhnya di kursi.


"Lalu kenapa pegang-pegang tangan Clara segala? Apa..." Clara menyunggingkan senyum tipis.


"Apa maksudnya?" Suara Luqman terdengar bergetar, karena menahan debaran dada yang semakin tidak menentu. Tapi Clara justru tertawa terbahak-bahak, melihat ekspresinya yang terlihat lucu di matanya.


"Kenapa kamu malah tertawa?" Luqman menatap Clara serius.


"Sudah, tidak usah dilanjutkan. Takutnya nanti mengganggu bibi yang sedang tidur. Ayo, kita juga segera tidur." Clara bangkit dari tempat duduknya.


"Eh, tunggu. Besok, jadi periksa ke dokter kan?" Luqman dan Clara sama-sama berdiri dan saling berhadapan.


"Tergantung. Kalau sudah sembuh, ya tidak jadi periksa. Tapi kalau belum sembuh juga, ya mau bagaimana lagi. Harus periksa kan mas?"


"Okay, kalau begitu besok akan aku antarkan."


"Terima kasih mas. Kalau begitu Clara pamit ke kamar dulu ya."


"Iya, segera lah istirahat. Semoga cepat sembuh."

__ADS_1


Clara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, lalu berjalan meninggalkan Luqman yang masih mematung.


'Kenapa yang dirasakan Clara sama seperti yang ku rasakan ya? Apakah ini hanya kebetulan semata, atau...' Luqman menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu membuang nafas kasar. Untuk yang kesekian kalinya ia meneguk air putih, sebelum akhirnya kembali ke kamarnya.


**


Pagi menyapa. Clara menghampiri kedua orang tua ke kamarnya. Ia membicarakan perihal yang ia rasakan pada mereka. Lalu sepakat untuk pergi ke dokter.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Luqman. Ia membicarakan apa yang ia rasakan pada mamanya.


Setelah mandi dan berpenampilan rapi, mereka berkumpul di meja makan untuk menikmati sarapan pagi bersama.


Di saat itulah, mereka mengatakan tentang rencananya setelah selesai sarapan. Karena memiliki tujuan yang sama, mereka pun akan berangkat bersama-sama.


**


Mobil yang mereka kendarai telah memasuki pelataran rumah sakit. Mereka pun berjalan beriringan menuju ruang praktek dokter, karena sebelumnya Luqman sudah membuat janji dengannya. Sehingga tidak perlu mengantri lagi.


"Clara, silahkan kamu masuk duluan." Luqman mempersilahkan gadis itu duluan.


"Tiba-tiba Clara jadi takut nih. Mas Luqman saja yang masuk duluan." Tidak dapat dipungkiri, wajahnya juga terlihat sangat tegang.

__ADS_1


"Tenang saja sayang. Papa dan mama akan menemani mu." Kedua orang tua Clara memegang kedua sisi bahunya.


"Biar mas Luqman saja duluan, ma. Nanti Clara kan bisa tanya duluan, apa saja yang dilakukan dokter padanya." Bisik Clara pada orang tuanya, tapi masih mampu di dengar oleh yang lain.


"Okay, biar aku duluan saja kalau begitu."


"Mama akan menemanimu, sayang." Mama Firda menepuk lengan anaknya sambil tersenyum, lalu pandangannya beralih pada keluarga Pak Andreas.


"Maaf, saya ijin ingin menemani putra saya ya pak, Sis."


"Silahkan. Kami akan menunggu di sini. Semoga baik-baik saja, dan tidak ada penyakit yang serius yang di derita oleh nak Luqman." Pak Andreas menjawab.


Perlahan Luqman membuka handle pintu, lalu masuk bersama mamanya. Sedangkan Clara dan kedua orang tuanya duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan.


Dokter sudah berdiri dan menyambutnya dengan senyuman yang lebar. Lalu mempersilahkan Luqman dan mamanya duduk di kursi yang ada di hadapannya.


"Adakah yang bisa kami bantu ustadz?"


"Saya mau berkonsultasi tentang penyakit yang saya alami beberapa hari ini."


"Oh iya, silahkan. Ceritakan semuanya, agar saya bisa mengambil tindakan yang tepat."

__ADS_1


Luqman pun menceritakan semuanya yang ia alami pada sang dokter, tanpa ada yang ditutupi dengan wajah gugup dan kemerahan. Tapi dokter dan asisten yang berdiri di sampingnya memberi reaksi yang sungguh tidak terduga. Keduanya terkikik pelan, sehingga membuat Luqman dan mamanya saling beradu pandang dan mengernyit kebingungan.


__ADS_2