Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
95. End


__ADS_3

Setelah acara lamaran yang mendadak itu selesai, mereka melanjutkan sarapan pagi sambil membahas hari pernikahan.


Mereka pun sepakat untuk menggelar pernikahan bulan depan, agar bisa mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.


Pada sore harinya, keluarga Pak Andreas berpamitan pulang. Karena urusan pekerjaan sudah menantinya. Mereka saling berpelukan erat seperti berat untuk berpisah.


**


Saat malam harinya, Mama Firda tak henti-hentinya memuji Luqman. Karena akhirnya ia memiliki keberanian untuk menyatakan perasaannya pada Clara. Sementara yang dipuji hanya senyum-senyum sendiri membayangkan kejadian tadi pagi.


**


Urusan pernikahan telah di urus oleh perwakilan kedua keluarga. Hari pun berlalu dengan begitu cepat. Rencana pernikahan mereka pun telah tersebar luas. Tentu saja keluarga Farida akhirnya mengetahui hal itu.


Meskipun gadis itu sudah berniat melupakan pujaan hatinya, tapi ketika mendengar kabar itu untuk yang pertama kalinya ia juga merasa syok.


Sungguh ia benar-benar merasa kalah dengan seorang mantan pembantu. Yang bisa ia lakukan hanya merenung, menyesali dan menyadari kesalahannya. Ia juga yakin, sekeras apapun usahanya untuk memisahkan pasangan calon pengantin itu, tidak akan bisa.


**


Akhirnya hari yang dinantikan semua orang pun tiba. Di sebuah ruangan, Clara sedang dihias. Kedua tangannya saling bertautan, karena cemas dengan apa yang akan terjadi nanti.

__ADS_1


Bayangan masa lalunya dan juga sebentar lagi akan menjadi istri seorang ustadz tampan dan terkenal menari-nari di benaknya. Tentu saja semua hal yang berkaitan dengannya tak luput dari pengawasan orang banyak. Ia takut tidak bisa menjaga nama baik suaminya, mengingat masa lalunya yang kelam.


"Hai cantik, ayo tersenyum. Jangan gugup seperti itu. Kamu adalah wanita beruntung yang bisa mendapatkan hati seorang ustadz tampan dan terkenal." Suara MUA membuyarkan lamunan Clara. Gadis itu hanya tersenyum tipis untuk menghilangkan kegelisahannya.


"Btw, bagaimana awalnya kalian bisa bertemu dan berkenalan? Dan akhirnya ustadz tampan itu bisa memutuskan untuk menikahi mu. Karena kami tahu, sangat sulit untuk memikat hatinya." Mua menatap wajah Clara dengan serius, sehingga senyum di wajah gadis itu kembali memudar.


"Ka-kami..." Clara bingung mau menjawab bagaimana.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Luqman Al-Hakim dengan putriku Clara Benazir dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan Al-Qur'an di bayar tunai." Suara penghulu mengucapkan ikrar ijab. Dan hal itu terdengar sampai ruang rias, sehingga membuat semua perhatian teralihkan. Bahkan akhirnya Clara tidak jadi menjawab pertanyaan yang diajukan sang MUA tadi.


"Saya terima nikah dan kawinnya Clara Benazir dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." Dengan lantang dan dalam satu kali tarikan nafas, Luqman mengucapkannya.


Ucapan sah, saling bersahutan memenuhi seisi ruangan. Semua tersenyum ikut berbahagia menyaksikan hal itu sambil bertepuk tangan yang meriah. Tak lupa setiap lisan mereka turut mendoakan segala kebaikan untuk sang pengantin.


Namun ditengah-tengah senyuman itu, tentu saja ada orang yang bersedih dan bahkan sampai menangis, karena sulitnya untuk mengikhlaskan segala sesuatu yang memang ditakdirkan bukan untuk menjadi miliknya. Siapa lagi kalau bukan Farida.


Kedua orang tuanya memang sudah berkali-kali mengatakan padanya, untuk tidak perlu repot-repot datang ke pernikahan orang yang sudah menorehkan sakit di hatinya, tapi gadis itu tetap saja bersikukuh.


"Ayo kak, kita turun ke bawah. Kita temui suamimu yang pasti terlihat sangat tampan dan menawan itu. Hemm... Aku gemas sendiri membayangkannya." Celoteh Mua itu sambil meremas udara di hadapannya. Bahkan akhirnya ia lupa tentang pertanyaannya tadi yang belum sempat dijawab oleh Clara.


Dengan hati-hati dan di kawal oleh beberapa orang, gadis cantik itu berjalan menuju tempat akad nikah. Semua orang terpana melihat kecantikannya, ketika ia berjalan menuju meja akad nikah.

__ADS_1


Jantung kedua pengantin itu seakan ingin lompat dari tempatnya, ketika Clara sudah sampai di tempat akad.


Dengan hati-hati Clara duduk di kursi yang telah disediakan. Dan sesuai arahan dari penghulu, ia berhadap-hadapan dengan Luqman untuk mencium punggung tangannya.


Ketika pandangan keduanya bertemu, mereka saling melempar senyum untuk menutupi rasa gugupnya. Setelah itu, keduanya melakukan apa yang diperintahkan oleh penghulu.


Clara mencium punggung tangan Luqman, sedangkan suaminya itu mengecup ubun-ubunnya sambil menyelipkan sebuah doa.


Semua orang tertegun melihat hal itu. Namun lagi-lagi Farida tidak mampu mengontrol hatinya, sehingga membuat darahnya mendidih. Tetes air mata akhirnya lolos melewati pelupuk matanya.


**


Satu persatu rangkaian pesta pernikahan akhirnya terlaksana dengan baik dan lancar. Kini saatnya para tamu undangan naik ke atas panggung untuk mengucapkan selamat pada kedua mempelai sekaligus berpamitan pulang.


"Aku harus mengucapkan selamat pada keduanya. Aku tidak boleh terperangkap pada masa lalu. Aku yakin bisa move on walaupun memang sulit." Farida bergumam sebelum memutuskan untuk bangkit berdiri dan berjalan menghampiri kedua mempelai yang tampak tersenyum sambil bersalaman dengan para tamu undangan yang lainnya.


"Selamat atas pernikahan kalian. Semoga bahagia selalu." Ucap Farida sambil mengulurkan tangannya pada Clara.


Tanpa pikir panjang, istri dari Luqman itu langsung menjabat uluran tangan itu dan memeluk Farida sambil mengucapkan terima kasih. Luqman tersenyum melihat hal itu. Ia semakin bahagia melihat kebaikan hati istrinya.


Tidak hanya Luqman saja yang tersenyum melihat hal itu. Kedua orang tua Farida, dan Mama Firda juga tersenyum melihat itu. Ternyata berdamai dengan keadaan jauh lebih membuat hati menjadi tenang dan damai.

__ADS_1


__ADS_2