Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
53. Menyesal


__ADS_3

Farida menghentikan taksi, yang kebetulan melintas di depan restoran itu. Setelah masuk, ia kembali menumpahkan perasaannya dengan menangis. Ternyata rasanya sesakit itu saat cintanya di tolak.


Sopir yang melihatnya menerka-nerka apa yang terjadi, namun tidak berani untuk bertanya.


Setelah menempuh kurang lebih tiga puluh menit perjalanan, akhirnya ia sampai di depan perusahaan papanya. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat, menuju ruangan papanya.


"Pa." Farida memanggil papanya, yang tengah duduk menghadap ke kaca jendela.


Merasa di panggil, pak Burhan menoleh. Ia melihat Farida sedang berjalan menghampirinya. Keningnya mengernyit ketika memperhatikan dengan seksama kedua bola mata anaknya yang tampak sembab.


"Farida, kamu kenapa?"


"Kenapa papa justru bertanya dengan Farida? Harusnya Farida yang bertanya dengan papa, kenapa papa tega membohongi Farida?"


"Membohongi apa maksud kamu, Farida?"

__ADS_1


"Kenapa papa masih bertanya juga? Bukankah tadi papa habis bertemu dengan mas Luqman? Dan ternyata dia tidak menyukai ku kan? Farida malu, pa. Masak di tolak oleh seorang laki-laki." Farida mulai tergugu menangis, membuat pak Burhan merasa bersalah.


"Dari mana kamu tahu hal itu? Apa tadi kamu membuntuti papa?"


Farida tidak menjawab, tapi isakan tangisnya yang semakin kencang membuat pak Burhan yakin, jika tebakannya benar. Ia sama sekali tidak curiga, jika saat di restoran tadi, anaknya itu mengikutinya.


Dalam hati, pak Burhan menyalahkan keputusannya dulu yang menjodohkan Farida dengan Luqman, jika akhirnya anak dari rekan bisnisnya itu tidak menyetujuinya.


"Kenapa papa diam saja?" Farida kembali bertanya, karena papanya hanya diam sambil mengerutkan dahinya.


Mungkin ia sedang memikirkan kata-kata yang tepat dan pas, agar dirinya tidak marah padanya. Pikir Farida.


"Farida rasa mas Luqman itu susah untuk di bujuk, pa. Setiap hari yang dibicarakannya adalah memuji Mawar. Tidak ada kata lain."


"Tidak sayang, Farida anak kesayangan papa, tidak akan kalah dengan seorang pembantu."

__ADS_1


"Tapi kenyataannya seperti itu, pa." Entah berapa kali, Farida selalu mengusap kasar air matanya. Sehingga pak Burhan bangkit dari duduknya dan memeluknya.


"Kamu tenang saja sayang. Papa yakin, sebenarnya masalah yang terjadi hanya soal waktu. Jika kalian memiliki waktu yang lebih, pasti rasa cinta itu perlahan akan hadir di antara kalian berdua. Maka dari itu, kamu harus lebih rajin lagi mendekatinya." Pak Burhan menyemangati anaknya.


"Pa, Farida malu jika harus mendekati seorang pria."


"Papa akan membantumu, sayang. Bukan kah segala sesuatunya memang harus diperjuangkan."


"Dengan cara apa lagi, pa? Jika mas Luqman saja sudah dengan jelas dan terang-terangan menolak ku."


"Pasti akan ada jalan lain sayang, kamu jangan meragukan hal itu. Untuk sekarang, kamu harus menenangkan diri dulu."


Pak Burhan kembali mengusap pucuk kepala Farida, yang masih belum bisa move on dari Luqman.


Pikirannya menerawang jauh, tentang bagaimana caranya untuk membuat Luqman bertekuk lutut padanya dan menerima perjodohan itu. Ia tidak ingin melihat putri semata wayangnya larut dalam kesedihan.

__ADS_1


Setelah sekian menit berlalu, tiba-tiba senyum smirk terbit di wajahnya.


'Lihat saja Luqman, aku akan melakukan sesuatu padamu, agar kamu tidak bisa menolak perjodohan ini. Aku tidak ingin melihat putriku satu-satunya menderita karenamu.' batin pak Burhan dalam hati.


__ADS_2