
Mereka saling bersua melalui pesawat telepon, meluapkan rasa kangennya, meskipun baru tadi pagi mereka berpisah.
Setelah cukup lama menyampaikan kabar, mereka sepakat mengakhiri percakapan itu. Lalu kembali fokus pada hidangan yang tersaji di hadapannya.
Mereka menikmati menu yang tersaji dengan penuh suka cita. Terlebih Luqman, karena selama di rumah sakit, dan beberapa hari menginap di rumah pak Andreas, bukan mamanya atau Clara yang memasak.
**
Hangat mentari pagi mulai menyapa. Semua orang di muka bumi, sudah kembali sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
Hal yang sama juga terjadi di kediaman Luqman. Mamanya mengerjakan hal yang biasa dilakukan oleh wanita di waktu pagi. Sedangkan Luqman masih berkutat dengan laptopnya sejak subuh tadi, di taman belakang.
Sebuah suara bel, mengalihkan perhatian mereka. Luqman yang mengetahui kesibukan mamanya, segera bangkit dari duduknya untuk membukakan pintu. Sementara mamanya yang juga mengetahui kesibukan anaknya, juga melakukan hal yang sama.
Saat keduanya berpapasan, mereka saling melempar senyum, dan menyuruh untuk kembali melakukan aktivitasnya lagi.
Akhirnya mama yang mengalah, ia kembali ke dapur untuk memasak. Sedangkan Luqman melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu.
__ADS_1
Tampak seorang pria yang seumuran dengan Luqman, tersenyum hangat sambil membungkukkan sedikit badannya pada sang pemilik rumah.
"Selamat pagi, Tuan. Saya Efendi, dari perusahaan penyedia jasa sopir." Sapa pria itu dengan ramah.
"Oh. Selamat pagi, Efendi. Silahkan masuk."
Luqman menyerongkan sedikit badannya, agar pria di hadapannya bisa masuk.
Pria itu pun mengikuti perkataan Luqman. Keduanya berjalan menuju sofa besar dan mewah yang ada di ruang tamu.
Tak lupa Luqman mempersilahkan tamunya untuk menikmati suguhan yang biasa tersedia di meja tamu.
Tak lupa Luqman memanggil mamanya. Untuk ikut memberi penilaian pada calon sopir yang akan bekerja di rumahnya.
Kini Luqman dan mamanya duduk berdampingan di hadapan Efendi.
Setelah pria itu selesai meminum air mineral dan memasukkan sedikit cemilan ke mulutnya, barulah Luqman dan mamanya melempar beberapa pertanyaan yang harus di jawabnya dengan baik.
__ADS_1
Efendi tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Ia pun berusaha menjawabnya dengan sejujurnya.
Setelah sekian menit berlalu, Luqman manggut-manggut dan tampak puas dengan jawaban dari pria di hadapannya. Lalu ia menghela nafas sebelum mengambil keputusan.
"Saya menerima mu bekerja di sini. Semoga kamu bisa menjaga amanah yang saya berikan."
"Te-terima kasih, ustadz. Atas kemurahan hatinya mau menerima saya bekerja di sini." Cukup speechless pria itu, saat mengungkapkan kebahagiaannya. Bahkan ketika melihat Luqman tersenyum lebar sambil menepuk sebelah bahunya.
Tak lupa Luqman menjelaskan tentang beberapa tugas yang harus dikerjakan oleh pria itu. Agar kedepannya tidak sampai salah langkah.
Luqman mengajak Efendi ke garasi, untuk melakukan pekerjaan pertamanya. Dan tak berselang lama, suara bel kembali mengalihkan perhatian penghuni rumah. Luqman pun segera mengecek siapa tamunya.
Kali ini dua orang wanita yang seumuran mamanya yang berdiri di depan pintu rumah utama. Luqman pun segera mempersilahkan keduanya masuk.
Seperti halnya saat menerima Efendi bekerja di kediamannya, Luqman dan mamanya juga melempar beberapa pertanyaan pada kedua wanita itu.
Kejujuran menjadi modal utama, agar bisa diterima bekerja dengan Luqman dan mamanya.
__ADS_1
Pasangan ibu dan anak itu, lega setelah mendapatkan beberapa karyawan untuk bekerja di kediamannya.