
Makan malam di rumah pak Burhan telah selesai. Setelah berbincang-bincang sejenak, Luqman ijin pulang.
Pak Burhan sekali mengucapkan terima kasih padanya, karena sudah bersedia mengantar Farida pulang. Padahal Luqman terkenal sebagai pemuda dengan sejuta kesibukan.
Luqman pun juga tak lupa mengucapkan terima kasih, karena merasa sudah di bantu dalam memasok bahan baku.
Sebelum Luqman masuk ke mobil, ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan pak Burhan. Pria yang seumuran dengan papanya itu pun membalas dengan jabat yang erat.
Farida yang duduk di dekat jendela kamarnya, menatap kepergian Luqman hingga bayangannya tidak lagi terlihat.
Gadis itu menyunggingkan senyum tipis, setiap kali melihat Luqman. Belum pernah ia rasakan kebahagiaan bertemu dengan pria selain dia. Ia berdoa semoga bisa berjodoh dengannya.
**
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya Luqman tiba di kediamannya.
Tak lama berselang, mobil mamanya juga terlihat memasuki carport. Ia berdiri di dekat mobilnya, sambil menunggu mamanya keluar dari mobil.
"Mama." gumamnya, sambil membukakan pintu untuk mamanya.
"Terima kasih, sayang." ucap mama Firda.
"Mama dari mana?"
__ADS_1
"Habis belanja." Balas mama Firda, sambil mengeluarkan barang-barang belanjaannya.
"Mawar." gumam Luqman, sambil menatap gadis cantik berkerudung silver.
"Iya, mas. Kenapa lihatnya seperti itu? Naksir ya?" cerocos Mawar, sambil cengar-cengir.
"Hah?" baru kali ini dan di hadapan Mawar, Luqman bisa bersikap cengo.
Entah kenapa, sejak pertama kali bertemu dengan Mawar sampai sekarang, selalu saja ia mati kata.
"Ah, mas Luqman tidak seru. Sudah dandan secantik ini komennya cuma, hah."
Mawar mengerucutkan bibirnya, lalu membawa barang-barang belanjaannya masuk. Luqman dan mama juga ikut membawa barang yang masih ada di situ. Mereka bertiga berjalan beriringan sambil membawa barang-barang itu ke dalam rumah.
Setelah itu Luqman dan mama Firda segera berlalu ke kamarnya untuk membersihkan tubuh, sedangkan Mawar masih sibuk menata barang-barang belanjaan nya tadi.
Tak henti-hentinya ia mengucapkan syukur, karena sudah dipertemukan dengan orang sebaik majikannya.
"Mawar, apa yang kamu lakukan?" tanya Luqman sambil mengernyitkan dahi.
"Memang mas Luqman tahunya Mawar baru ngapain?" bukannya menjawab, gadis itu justru bertanya balik.
"Men-mencium baju."
__ADS_1
"Nah itu tahu. Mawar tuh baru senang karena dapat baju baru dari, Tante Firda."
Melihat kecantikan Mawar yang alami, di tambah jilbab yang menutup kepalanya dengan sempurna, membuat Luqman memikirkan sesuatu hal.
"Mas, kenapa dari tadi lihatin Mawar seperti itu? Apa benar mas Luqman menyukaiku?"
"Hah? Si-siapa yang bilang seperti itu?" Luqman yang berjongkok seketika terjengkang.
"Soalnya para pelanggan Mawar, selalu menatap dengan seksama sebelum aku melayani mereka."
"Mawar, aku bukan pria seperti itu. Maafkan aku jika membuatmu berpikiran lain."
Setelah itu Luqman bangkit berdiri dan mengambil air putih dari dalam kulkas, dan membawanya ke kamar. Tapi langkahnya kembali tertahan dan menatap Mawar.
"Sudah malam, tidurlah. Biar besok kamu bisa ikut sholat subuh berjama'ah."
"Iya, mas. Tapi tanggung juga, sebentar lagi selesai kok."
Luqman menganggukkan kepalanya, lalu kembali melangkah menuju kamarnya.
Meskipun tadi sempat menyuruh Mawar cepat tidur, tapi ia sendiri juga belum bisa tidur. Karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Dan entah kenapa, selama mengerjakan pekerjaannya ia selalu terbayang wajah Mawar.
__ADS_1
"Apa dia saja yang menggantikan Linda untuk menjadi model baju yang akan segera launching dalam waktu dekat ini?" gumam pria itu.
"Tapi apakah itu nanti tidak mendatangkan masalah bagi perusahaan ku? Mengingat masa lalunya dulu seperti apa?"