
"Luqman, lepaskan Mawar!" Seru mama Firda.
Anak satu-satunya segera sadar, dan menjauhkan badannya dari tubuh Mawar.
"Ma-maafkan, aku." Dengan wajah yang bersemu merah dan terbata, Luqman mengatakannya.
Meskipun masih terlihat lemah, Mawar berusaha tersenyum pada majikannya. Apalagi ketika untuk sesaat ia berada dalam dekapan Luqman, gelenyar aneh merasuki kalbunya.
"Mama heran sama kamu. Kenapa jadi sering kali memeluk Mawar? Apa kamu suka dengannya?"
Luqman mengalihkan pandangannya pada mamanya, lalu dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Luqman hanya senang saja ma, akhirnya Mawar sadar. Dan mama ingat, tadi dia menyebut nama kita berdua. Itu artinya dia tidak hilang ingatan, meskipun sudah pernah mengalami benturan di kepalanya dan bahkan sampai harus di operasi."
Mama Firda tidak lagi berkata, tapi diam sambil menelisik wajah putranya. Karena ia masih heran dengan sikap anaknya yang sangat berbeda dari biasanya. Sedangkan Luqman mengalihkan pandangannya pada Mawar lagi.
__ADS_1
"Mawar, kamu masih ingat aku kan?" Ia harap-harap cemas menatap gadis itu. Sedangkan Mawar, masih diam, lalu kembali senyum dan menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja, Mawar akan selalu ingat dengan majikan tampan, seperti mas Luqman." Lirih Mawar, senyumnya seakan tidak pernah sirna dari wajahnya. Bahkan, meskipun ia sedang sakit, masih tetap kelihatan cantik.
"Mawar, apa yang kamu rasakan sekarang?" Setelah sekian menit terdiam, akhirnya mama Firda angkat bicara.
Ia mengusap kepala Mawar yang berbalut perban. Pandangan gadis itu pun beralih pada majikan perempuannya.
"Sedikit pusing, Tante. Seluruh badan juga terasa sakit."
"Oh, jadi menunggu Mawar sakit dulu, baru mencari seorang sopir?" Cetus Mawar, dengan suaranya yang masih lirih.
"Bukan maksudku seperti itu, Mawar. Aku merasa nyaman bepergian sendirian, mengerjakan segala sesuatunya sendirian. Karena sejak kecil aku sudah terbiasa mengerjakan semuanya sendirian. Mama dan papa selalu mengajarkan ku untuk mandiri."
"Betul apa yang putra Tante katakan, Mawar. Tapi rupanya hal itu tidak sepenuhnya baik. Ada kalanya kita perlu melibatkan orang lain, untuk meringankan pekerjaan kita, dan juga berbagi rezeki."
__ADS_1
Mawar dan Luqman manggut-manggut, mendengar ucapan mama Firda.
"Oh iya, kamu makan dulu ya. Biar Tante bantu suapin kamu."
Mawar menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum, menanggapi tawaran majikannya. Kapan lagi bisa di suapin oleh wanita yang sangat lembut dan baik hati seperti mama Firda, batinnya.
Mama Firda sendiri, menekan tombol yang ada di samping brankar, untuk mengatur posisi yang nyaman bagi Mawar.
Setelah itu, ia mengambil sepiring bubur dan menyuapkan sepucuk sendok, ke bibir Mawar. Gadis itu, untuk yang kesekian kalinya tersenyum, sebelum membuka mulutnya.
"Kurang asin, Tante." Mawar meringis, merasakan makanan yang baru saja masuk ke mulutnya.
"Besok deh, Tante buatkan sendiri. Dengan catatan, kamu sudah sembuh dan boleh pulang."
"Kalau Mawar sudah sembuh, ya masak sendiri dong, Tante. Tidak mungkin dimasakkan bubur oleh, Tante. Nanti dikira pembantu tak tahu malu lagi." Walaupun dalam keadaan sakit, gadis itu masih bisa bercanda. Sehingga membuat mama Firda dan Luqman tersenyum bahagia.
__ADS_1
Mawar perlahan membuka mulutnya, demi menerima suapan demi suapan dari mama Firda. Hati Luqman begitu damai melihat pemandangan di depannya.