Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
31. Rasa kagum


__ADS_3

Luqman mengendarai mobilnya menuju ke masjid raya di kotanya dengan kecepatan sedang. Mama Firda duduk di sampingnya sambil sesekali bercerita, sedangkan Mawar duduk di belakang keduanya.


Gadis itu tidak begitu memperhatikan apa yang diucapkan oleh kedua majikannya, dan justru memperhatikan kanan kiri jalan.


Ia suka melihat lalu lalang orang yang menikmati waktu weekend pagi dengan berolahraga. Ada yang berjalan kaki dan bersepeda. Mereka bercanda tawa dengan teman ataupun keluarganya.


Mawar semakin takjub ketika perlahan mobil yang di kendarai mulai memasuki pelataran masjid yang sangat besar.


Sudah banyak kendaraan yang terparkir rapi. Semua orang yang memakai pakaian muslim tampak lalu lalang memasuki masjid, dan memadati tempat itu.


"Mereka sungguh antusias sekali mencari bekal akhirat. Apakah mereka baru kali ini mengikuti tausiyah pagi? Atau justru malah sudah berulang kali." gumam Mawar sambil geleng-geleng kepala.


"Mawar, apa kamu akan berdiam diri di dalam mobil sampai acara selesai?" ucap mama Firda, tapi Mawar masih diam tidak menjawab, karena masih diliputi rasa takjub.


"Mawar!" ulang mama Firda dengan suara yang cukup tinggi, sehingga membuat Mawar terkejut.


"Eh, iya Tante." barulah Mawar menoleh pada majikannya.


"Kamu mau tetap di dalam mobil, atau ikut masuk ke dalam masjid?" tawar Mama Firda sekali lagi.


"Tentu saja Mawar mau ikut, Tante. Penasaran seperti apa kegiatannya." Mawar bergegas turun dari mobil, di ikuti oleh kedua majikannya.

__ADS_1


Gadis itu begitu terkejut, ketika melihat rombongan laki-laki yang berpenampilan muslim rapi, mendekati majikan prianya dan menyambut kedatangannya dengan baik.


Setelah sejenak bercakap-cakap dan berjabat tangan, rombongan itu mempersilahkan mereka masuk ke dalam melewati pintu samping.


Mawar mengernyitkan dahi ketika melihat orang-orang itu, memperlakukan keluarga majikannya dengan baik. Tak hanya itu saja, Mawar juga merasa banyak orang yang memperhatikan ke arahnya.


"Tante, kenapa mereka seperti melihat ke arah kita sejak keluar dari mobil ya?" bisik Mawar, sambil melirik orang-orang yang masih menatap ke arahnya.


"Tidak apa-apa, Mawar. Kita memang sudah lama saling mengenal."


Mawar manggut-manggut mendengar penjelasan majikannya. Lalu mempercepat langkahnya masuk ke dalam.


Sesampainya di dalam masjid, Mawar membulatkan matanya, melihat banyaknya orang-orang yang menghadiri tausyiah pada pagi hari itu.


Mawar mengernyitkan dahi melihat hal itu, tapi urung untuk menanyakan pada majikan perempuannya, karena merasa tak enak dengan jamaah wanita yang ada di kiri kanannya.


Mawar mengabadikan momen menakjubkan itu dalam kamera handphonenya. Dan tak lama kemudian acara pun di mulai. Mawar tetap mengarahkan kamera handphonenya untuk merekam semuanya.


Gadis itu begitu terkejut ketika tiba saatnya pada acara inti. Yang mana, Luqman lah yang mengisi acara pada pagi hari itu.


"Jadi, Mas Luqman yang mengisi acara pada pagi hari ini?" gumam Mawar pelan.

__ADS_1


Gadis itu mulai memperhatikan dengan seksama, setiap apa yang diucapkan Luqman sambil tetap merekamnya.


Mawar menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat Luqman yang sangat lihai dalam menyampaikan materi yang berkaitan dengan hal-hal yang halal dan haram. Karena sejatinya kedua hal itu selalu berdampingan erat.


Hampir dua jam, Luqman mengisi acara pada pagi hari itu. Namun Mawar merasa seperti baru saja.


Ia menyesal, tidak mencatat materi yang di sampaikan, karena tidak membawa buku catatan seperti yang lainnya.


Setelah acara selesai, banyak orang yang meminta foto dan tanda tangan Luqman. Mawar pun kembali mengernyitkan dahi.


"Wah, mas Luqman sudah seperti artis atau ustadz terkenal saja sih. Kalau begitu Mawar juga mau ikut-ikutan, tidak boleh kalah." gumam gadis itu sambil menyunggingkan senyum, lalu menyodorkan handphonenya pada laki-laki yang sejak tadi membantu memfoto.


"Mawar." Luqman mengernyitkan dahi, ketika gadis itu sudah berdiri di sampingnya.


"Kenapa mas? Kok mukanya tegang begitu?" celoteh Mawar.


"Aku tidak tegang, Mawar. Jangan asal menuduh. Sebaiknya kalau kamu minta foto, nanti di rumah saja."


Sementara orang-orang yang berdiri di dekat keduanya, menatap interaksi Mawar dengan ustadz kondang itu.


"Maaf, apakah ini calon istri ustadz Luqman?" celetuk salah satu jamaah ibu-ibu yang juga ingin berfoto.

__ADS_1


Luqman seketika terbatuk-batuk, sedangkan Mawar justru malah mengaminkan pertanyaan itu sambil tersenyum.


"Mawar!" seru Luqman sambil menatapnya.


__ADS_2