
Bu Nindi terlihat semakin tidak suka dengan orang-orang yang tengah berdiri di hadapannya.
"Apa belum cukup kamu membuatnya menderita? Harusnya semakin bertambah umur, segera bertaubat. Bukan malah menjadi-jadi seperti ini. Lihatlah, pangkal rambut Anda sudah mulai memutih." Dengan beraninya Luqman berkata seperti itu pada Bu Nindi.
"Hai, kamu. Kalau kamu ingin berceramah sebaiknya jangan di sini. Aku jadi curiga, pasti dulu kamu yang mengajak Mawar kabur dari ku kan?"
"Kenapa harus menyalahkan mas Luqman? Aku sendiri yang berniat pergi dari tempat terkutuk ini. Aku takut, jika harus bernasib sama seperti yang di alami oleh Amira. Kamu enak, bisa mendapatkan uang yang banyak dan hidup mewah dari hasil jerih payah kami. Bahkan nyawa kami taruhannya. Untung saja Allah masih baik padaku. Mengijinkan ku untuk bertaubat."
"Bertaubat?" Bu Nindi terkekeh, seolah-olah menyepelekan ucapan Clara.
"Mana mungkin Tuhan menerima taubatmu. Lihatlah dulu diri mu seperti apa. Tidak usah sok suci, dengan memakai pakaian seperti itu." Dengan pongahnya Bu Nindi masih sempat membalas ucapan Clara.
"Saya tidak suka mendengarnya bicara lebih banyak lagi. Tolong segera bawa dia masuk ke mobil." Pak Andreas yang begitu benci pada wanita di hadapannya, segera mengakhiri percakapan itu. Ia membalikkan badannya, diikuti oleh rombongannya, masuk ke dalam mobil.
"Hai, kamu tidak bisa memperlakukan mu seenaknya. Lepaskan!" Bu Nindi berusaha keras memberontak. Tapi tenaganya kalah kuat, dengan tenaga para anak buahnya. Mereka menyeretnya masuk ke dalam mobil polisi.
Sebelum mobil melaju, mereka semua tampak memperhatikan sejenak bangunan yang sudah di beri police line. Setelah itu, rombongan mobil itu bergerak bersama menuju kantor polisi.
**
__ADS_1
Bu Nindi yang memang masih belum bisa menerima kekalahannya, selalu mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar sepanjang perjalanan. Saat tiba di kantor polisi pun, ia masih melakukan hal itu. Bahkan ia harus di tarik dengan paksa, agar mau masuk ke dalam ruang penyidikan.
Dan setelah semua masuk ke ruang penyidikan, kini saatnya pemeriksaan lebih lanjut dilakukan. Saat pemeriksaan, Bu Nindi selalu saja berkelit. Sehingga pihak berwajib terus melakukan berbagai upaya untuk mendesaknya. Sedangkan rombongan Clara terlihat geram mendengar ucapannya yang sangat pandai berkelit.
Pak Andreas dan Luqman akan mengerahkan orang-orangnya, untuk memastikan hukuman yang setimpal bagi wanita itu. Sedangkan anak buahnya yang sudah bersikap kooperatif, tentu saja akan mendapatkan keringanan hukuman dan bimbingan dalam tempat rehabilitasi.
Tidak hanya itu saja, tempat yang biasanya mereka gunakan untuk bermaksiat, rencananya juga akan dikelola agar lebih bermanfaat untuk umat.
Hampir dua jam mereka menjalani pemeriksaan. Bu Nindi dan anak buahnya berada di sel tahanan yang berbeda, sesuai dengan tindak perbuatan yang mereka lakukan. Dan hal itu cukup membuat rombongan Clara lega.
Akhirnya rombongan Clara bisa keluar dari kantor polisi dengan perasaan lega dan syukur yang dalam.
Hari sudah gelap, ketika mereka tiba di kediaman Luqman. Bersih-bersih dan makan malam menjadi hal yang wajib mereka lakukan, untuk menjaga kesehatan badannya setelah melewati hari yang cukup melelahkan dan begitu menguras perasaan serta emosi.
Tangan mereka pun bersentuhan, dan pandangan keduanya saling beradu. Desiran aneh kembali menguasai hatinya.
"Kamu duluan." Mereka berkata bersamaan sambil melepaskan pegangannya.
"Tidak, kamu duluan saja." Sekali lagi, mereka berkata bersamaan.
__ADS_1
Firasat kedua orang tuanya yang melihat hal itu merasa bahwa ada hal aneh yang tengah dirasakan anaknya.
"Kalian ini kenapa sih? Dulu mama melihat kalian sering kali bercanda, tapi kenapa malah jadi canggung begini? Apa..."
"Apa kalian saling menyukai?" Pak Andreas melanjutkan kalimat Mama Firda yang menggantung.
"Ti-tidak." Dengan terbata mereka mengatakannya. Bahkan suaranya terdengar bergetar.
"Jangan bohong, nanti menyesal lho." Pak Andreas terkekeh.
'Ah, kenapa papa malah menggoda ku begini sih? Aku kan bingung mau menjawab apa.' batin Clara sambil memainkan makanannya.
"Betul apa yang Anda katakan, Pak." Mama Firda menimpali.
'Tidak biasanya Mama menggodaku seperti ini? Apa itu tandanya ia juga menyukai Clara?' batin Luqman.
"Memang mama sudah siap kalau aku tinggal menikah?"
Suasana yang tadi ceria, kini tegang mendengar celetukan Luqman. Mereka pun menatap pria itu.
__ADS_1
"Apakah kamu serius dengan ucapanmu? Kamu akan menikahi Clara?"
Clara spontan terbatuk-batuk mendengar namanya di sebut-sebut. Sedangkan kedua orang tuanya saling beradu pandang dan menahan senyum.