
Cukup lama Farida menjenguk mama Firda. Bahkan sampai memasuki waktu dhuhur.
Mawar yang berada di bawah dan telah menyelesaikan tugas-tugasnya serta sudah menyiapkan makan siang sampai di buat geleng-geleng kepala.
"Mbak Farida itu bagaimana sih? Menjenguk orang sakit kok lama sekali. Apa ngga kasian? Tante Firda kan butuh banyak waktu untuk istirahat. Tidak bisa dibiarkan, aku harus kesana."
Mawar merapikan diri, lalu berjalan menuju kamar majikannya.
"Permisi, maaf mengganggu waktunya. Ini sudah siang, Tante. Waktunya untuk beribadah dan juga meminum obat. Apa Tante mau makanannya di bawa kesini? Atau Tante turun ke bawah." Farida yang sedang berbicara, seketika terdiam mendengar instruksi yang disampaikan Mawar.
"Mawar. Kamu kan tahu, kalau majikan mu sedang sakit. Kenapa malah bertanya makanannya di bawa ke atas turun ke bawah? Harusnya kamu paham dong, sebagai asisten rumah tangga yang baik, akan mengantarkan makanannya ke atas saat majikannya sedang sakit."
Mawar tersenyum smirk mendengar ucapan Farida. Padahal ia tadi sudah memancingnya, tapi rupanya gadis itu belum sepenuhnya paham. Sehingga Mawar merasa perlu mengeluarkan ilmunya.
"Maaf mbak Farida, sepertinya pujian yang kamu berikan padaku kurang pas. Karena Mawar merasa belum bisa menjaga majikan sendiri dengan sebaik-baiknya. Buktinya saat pertengahan hari, majikan saya belum bisa istirahat, karena masih melayani tamunya yang bercerita."
Farida merasa tersindir dengan ucapan Mawar. Rupanya gadis desa itu memiliki keberanian dalam berbicara. Tidak selugu seperti yang dibayangkan. Dan seketika ia ingat, bagaimana masa lalu Mawar. Ia pun juga ingat, tentang tujuan utamanya datang menjenguk mama Farida.
"Iya, Mawar. Aku akan segera pamit pulang, tapi tolong ijinkan aku menyuapi Tante Firda. Karena aku sudah menganggapnya seperti ibuku sendiri. Sekarang siapkan makam siang untuknya." Farida sengaja beralasan, agar bisa memiliki waktu lebih lama lagi.
"Baiklah, mbak. Tunggu sebentar, Mawar akan mengambilkannya. Oh iya, Tante Firda mau makan apa? Bubur kacang hijau yang tadi masih. Selain itu, Mawar juga memasak sop ayam kampung." Pandangan Mawar beralih pada majikan perempuannya.
"Semuanya terlihat enak. Tante jadi bingung, mau makan yang apa dulu. Em, Tante masih teringat dengan rasa bubur kacang hijau yang tadi, Mawar."
__ADS_1
"Jadi Tante mau makan bubur kacang hijau ya?" Mawar memastikan.
"Iya. Kalau nanti masih lapar, kamu ambilkan sop nya."
"Siap, Tante."
Mawar mengulas senyum manis sebelum ia pergi. Gadis itu segera berlalu menuju dapur. Lalu menyiapkan permintaan majikannya.
Tak lama kemudian, ia sudah kembali ke kamar sambil membawa nampan yang berisi semangkuk bubur kacang hijau hangat, air putih, dan obat-obatan yang harus di minum oleh majikannya.
"Ini makanannya, Tante." Mawar meletakkan nampan di atas nakas dan segera berlalu pergi.
Farida yang sejak tadi betah duduk di tepi ranjang, segera mengambil mangkuk itu dsn mengaduknya perlahan. Ia bisa menghirup aroma bubur kacang hijau yang begitu sedap dan gurih.
"Ini Tante, di makan dulu."
Mama Firda menurut dengan ucapan Farida. Ia membuka mulutnya dan menerima suapan dari gadis dihadapannya.
"Tante, mas Luqman. Apa kalian berdua tahu, bagaimana masa lalunya pembantu kalian? Mawar."
Mama Farida dan Luqman sejenak beradu pandang sambil mengernyitkan dahi, lalu bersamaan menggelengkan kepalanya.
Keduanya memang sepakat untuk tidak mengatakan tentang masa lalu Mawar, pada siapapun. Bukan kah menutup aib saudara adalah sebuah keharusan?
__ADS_1
Dengan menutup aib saudara, bisa jadi Allah tergerak untuk menutup aib kita pula.
"Apakah kamu tahu sesuatu tentangnya?" Luqman yang penasaran balik bertanya.
"Iya, mas."
Sambil menyuapi, Farida mulai menceritakan tentang bagaimana Mawar dulu yang sebenarnya, pada mama Firda dan Luqman.
Pasangan ibu dan anak itu tentu begitu terkejut, ketika Farida bisa mengetahui seluk beluk Mawar. Dari mana ia bisa tahu, batin keduanya.
"Dari mana kamu bisa tahu tentangnya, Farida?" Luqman menatapnya dengan seksama. Kali ini gadis itu bingung ingin memberi alasan apa.
"Em, itu, kebetulan asisten rumah tangga kami adalah tetangga Mawar waktu di kota A."
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Farida berbohong. Ia menyunggingkan senyum tipis, untuk menghilangkan kegugupannya.
"Meskipun Mawar adalah mantan seorang wanita malam, Tante tidak merasa keberatan. Karena Tante tidak memandang betapa buruknya masa lalunya, tapi masa yang ia jalani saat ini. Apalagi Mawar juga terlihat baik, tidak neko-neko, dan mau menerima semua nasehat kami dengan baik. Pekerjaannya semakin kesini juga semakin mengalami peningkatan." Bukannya membela Mawar, tapi mama Firda hanya sekedar mengikuti apa kata hatinya.
"Tapi Tante. Apa Tante tidak takut, jika nanti Mawar menggoda..." Pandangan Farida beralih pada Luqman yang duduk tak jauh darinya sambil menatap layar laptopnya.
"In shaa Allah aku bisa menjaga diriku. Niatku membawanya kesini, karena murni untuk memberinya sebuah pekerjaan yang halal. Jika aku membiarkannya di jalanan, tanpa sepeser pun uang, tentu niat awalnya akan berubah dan ia akan menjadi Mawar liar."
"Iya, dan mama sangat mendukung keputusan kamu, Luqman." Mama Farida mengulas senyum tulus pada anaknya.
__ADS_1
Farida yang melihat hal itu, merasa malu dan tidak enak. Ternyata niatnya untuk menjauhkan Mawar dari keluarga Luqman belum berhasil.