Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
88. Pertemuan


__ADS_3

Sudah cukup lama Clara meninggalkan tempat itu, tapi tetap saja bangunannya tidak berubah. Masih sama seperti yang dulu.


Cukup lama mereka mengamati tempat itu. Sampai akhirnya dering panggilan di handphone Luqman mengalihkan perhatian seisi mobil.


Pria itu bergegas menjawab panggilan. Setelah bercakap-cakap sejenak, Luqman memutuskan sambungan teleponnya.


Mereka pun segera keluar dari mobil, dan bertepatan dengan beberapa orang laki-laki yang datang menghampirinya. Terlihat mereka saling berjabat tangan sambil memperkenalkan dirinya.


Setelah mengatur strategi, mereka berjalan ke posisi masing-masing yang sudah ditentukan. Pak Andreas menghembuskan nafasnya sebelum masuk ke tempat terkutuk itu.


"Selamat siang, Om." Seorang wanita muda yang berdandan menor mendekatinya, dengan senyum cerah.


Bergidik bulu roma Pak Andreas, membayangkan yang ada di hadapannya adalah anak kandungnya sendiri. Yakni Clara. Ia pun langsung memalingkan wajahnya.


"Apa aku kurang cantik di mata, Om? Sehingga om memalingkan wajah." Wanita itu memalingkan wajah pak Andreas dengan tangannya. Mau tidak mau, Pak Andreas terpaksa menoleh.

__ADS_1


"Aku akan memberimu imbalan, asalkan kamu mau mempertemukan ku dengan pemilik tempat ini."


"Oh, tentu saja. Silahkan om duduk di sini dulu, aku akan memanggilkan ibu Nindi untuk kamu." Gadis itu mencubit gemas dagu Pak Andreas sebelum berlalu pergi. Tapi pria itu segera berkelit, sehingga tidak kena.


Pak Andreas mengedarkan pandangannya, menyapu setiap sudut tempat itu. Suara musik yang begitu merusak indera pendengarannya.


"Apakah mas Om mencari saya?" Suara wanita membuat pak Andreas menoleh ke belakang.


Sesaat pandangannya bersitatap dengan wanita yang berdandan lebih menor lagi, dan perhiasannya memenuhi kedua tangan dan lehernya.


"Apa kamu yang bernama Nindi?"


"Iya, betul seratus persen. Ayo, silahkan duduk dulu." Tangan Bu Nindi terulur ingin memegang tangan Pak Andreas, untuk mengajaknya duduk di sofa kosong. Tapi papa Clara segera menolaknya. Baginya, najis duduk di tempat itu. Dan hal itu cukup membuat Bu Nindi terkejut.


"Tidak perlu, aku ingin bicara langsung ke intinya."

__ADS_1


"Oh, okay. Silahkan, bicaralah."


"Aku memberimu dua pilihan. Yang pertama, tutup tempat ini dan bertaubatlah. Aku akan memberimu bantuan selama kamu belum mendapatkan pekerjaan yang layak. Yang kedua, jika kamu tidak mau menutup tempat ini, maka bersiaplah kamu dan semua orang yang berada di tempat ini akan mendekam di penjara."


Bu Nindi seketika tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan pria asing dihadapannya. Sedangkan Pak Andreas sendiri, masih menatapnya dengan jengah.


"Siapa kamu? Berani-beraninya menyuruhku menutup ladang uang. Padahal selama ini tidak pernah ada yang mengusik ketenangan ku." Wajah Nindi berubah serius dan menatap tajam Pak Andreas.


"Aku adalah orang tua dari bayi yang kamu culik puluhan tahun silam. Dan dengan teganya kamu memperkerjakannya sebagai wanita tuna susila."


Wajah Bu Nindi semakin berubah tegang. Pikirannya seketika tertuju pada hal yang pernah ia lakukan di masa lampau. Tak lama kemudian, badannya oleng dan hampir saja terjatuh, jika tidak di tolong oleh wanita yang memanggilnya tadi.


Pak Andreas cukup puas melihat wajah terkejut wanita di hadapannya.


"Jadi, kamu masih mengingat perbuatan buruk mu itu kan? Dan aku sebagai orang yang anaknya pernah kamu sakiti, masih berbaik hati padamu. Harusnya kamu menerima tawaranku." Dengan senyum jumawa Pak Andreas mengatakannya. Ia pikir wanita di hadapannya akan dengan mudah menuruti permintaannya.

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak sudi menerima tawaran mu. Toh anak sialaan itu sudah pergi dari sini." Dengan beraninya Bu Nindi menolak tawaran itu. Sehingga membuat Pak Andreas terkejut.


__ADS_2