Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
83. Di dapur


__ADS_3

Selesai makan malam, Mama Firda dan Luqman menunjukkan kamar yang akan di tempati oleh keluarga Pak Andreas.


"Bolehkah Clara tidur di kamar yang dulu?" Celetuk Clara tiba-tiba. Ia begitu kangen dengan kamar yang tidak terlalu luas, yang ditempati selama berada di kediaman Luqman.


"Clara. Kenapa kamu tidak mau tinggal di kamar ini? Padahal kamar ini jauh lebih luas dan nyaman lho." Tanya Mama Firda dengan heran.


"Clara hanya kangen saja dengan kamar itu, Tante. Clara kan sudah lama tidak tinggal di sini."


Semua pun juga menatapnya heran. Karena meskipun sudah menjadi orang kaya, Clara tetap merendah dan sama sekali tidak menunjukkan kalau dirinya kaya.


"Tapi kamar itu sekarang sudah di pakai oleh bibi. Jadi hanya ada kamar tamu saja yang tersisa."


Clara menarik seulas senyum, lalu mengangguk dan akhirnya menyetujui tinggal di kamar tamu.


**


Kini mereka sudah berada di kamar masing-masing.


Clara menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur yang begitu empuk sambil menatap langit-langit kamar.


Pikirannya kembali menerawang jauh, mengingat masa-masa dulu ketika masih tinggal di kediaman Luqman. Sejak itulah kehidupannya berubah membaik.


Tak hanya itu saja, masih banyak yang ia pikirkan. Salah satunya, kenapa sejak bertemu Luqman di kantor sampai malam ini, hatinya tak berhenti bergetar. Bahkan Clara sampai mengusap dadanya untuk menetralisir rasa itu.

__ADS_1


"Apa aku punya penyakit jantung? Kenapa sejak tadi sampai sekarang, jantung ku berdegup kencang?"


"Sepertinya aku harus segera tidur saja. Biar cepat sembuh sakit jantungku." Setelah bergumam panjang lebar, mendeskripsikan perasaannya, Clara meneguk air putih yang telah disiapkan di atas nakas, lalu memiringkan badannya ke kanan sambil memeluk guling dan memejamkan matanya.


**


Sementara itu di dalam kamar lain yang ada di lantai atas, Luqman juga tengah merasakan hal yang sama, seperti yang dirasakan Clara. Ia mengusap dadanya pelan, agar jantungnya tidak berdegup terlalu kencang.


"Aku heran, kenapa akhir-akhir ini jantungku selalu seperti ini? Dan sore tadi sepertinya juga puncaknya. Padahal aku selalu konsumsi air putih banyak. Sebaiknya besok aku periksa ke dokter. Jadi sekarang aku harus segera tidur."


Setelah bergumam sendiri, Luqman lalu memiringkan badannya ke kanan dan memejamkan matanya.


**


Jarum jam berputar serasa begitu cepat. Padahal kedua anak manusia yang berada di kamar berbeda sejak tadi tidak kunjung bisa terlelap.


"Huft. Sudah lama aku tidak tidur di rumah ini. Harusnya bisa tidur pulas dong. Tapi kenapa malah jadi susah tidur begini? Apa karena keinginan ku untuk tidur di kamar ku yang dulu tidak terkabul? Mana air putih sudah habis lagi. Sebaiknya aku ambil air putih saja lah, sekalian lihat-lihat kamar ku." Clara beranjak dari tempat tidurnya, dan berjalan menuju ke dapur.


Sesampainya di sana, ia membuka pintu kulkas dan duduk sambil memandang semua isinya. Tiba-tiba ia tersenyum sendiri, mengingat kenangannya dulu. Dimana setiap malam ia selalu mengendap-endap menikmati isi kulkas yang begitu lezat.


"Mawar, apa yang kamu lakukan?"


Clara tersentak kaget, dan terjungkal dari duduknya, karena mendengar seseorang menegurnya. Perlahan ia menoleh ke belakang.

__ADS_1


"M-Mas Luqman. Mawar cuma kehausan, mau ambil air minum." Clara meraih sebotol air minum dan menunjukkannya pada pria di hadapannya. Rasa takut ketahuan, persis seperti yang dulu.


"Oh, sama. Aku juga mau ambil air putih."


Dengan sigap Clara menuang air putih itu ke dalam dua gelas untuk Luqman dan dirinya. Mereka pun segera meminumnya hingga tandas.


"Apa di kamar tidak ada air putih?" Luqman membuka obrolan.


"Ada, tapi sudah ku habiskan. Entah kenapa sejak tadi ngga bisa tidur juga. Jantung selalu berdebar kencang. Apa Mawar punya penyakit jantung ya."


"Kenapa kamu menyebut dirimu sendiri dengan nama Mawar?" Tak sadar Luqman bertanya seperti itu, padahal tadi dia duluan yang memanggil gadis di hadapannya dengan nama itu. Pikirannya tiba-tiba teringat dengan kejadian dulu saat ia melihat Clara duduk di depan kulkas sambil melihat isinya.


"Kan mas Luqman duluan yang tadi memanggil ku seperti itu."


"Eh, iya kah? Maaf, aku lupa."


"Tidak apa-apa." Clara menggelengkan kepalanya sambil menyunggingkan senyum.


"Tadi kamu bilang, kalau jantungmu berdegup kencang."


"Iya mas. Apakah itu tandanya Clara akan segera meninggal?" Clara menatap Luqman dengan serius, Hingga mendekatkan wajahnya.


"Eh, aku juga tidak tahu. Sebaiknya besok aku antar kan kamu ke dokter."

__ADS_1


"Boleh-boleh. Clara takut kalau sampai mati muda."


"Jangan bilang seperti itu!" Luqman meraih tangan Clara dan menggenggamnya erat, sehingga membuat gadis itu tersentak kaget.


__ADS_2