
Mawar mempercepat kunyahannya, lalu membalikkan badan.
"Em-mas Luqman. Saya cuma mau ngadem saja, tadi di dalam kamar gerah sekali soalnya." Mawar menyunggingkan senyum tipis.
"Bukannya di kamar mu sudah ada kipas angin?"
"Em, mungkin rusak mas. Aku coba tidak bisa."
"Bawalah kesini, biar aku betulkan. Agar kamu bisa tidur dengan nyaman."
'Aduh, mampus. Bagaimana ini, kipas anginnya memang tidak rusak sih. Cuma aku tetap saja kegerahan.'
"Mawar. Kenapa kamu malah berdiam diri?"
"Eh, i-iya mas. Tunggu sebentar ya." Mawar meringis, dan segera berlalu ke kamarnya.
"Duh, aku harus bagaimana ini?" gumam Mawar sambil berjalan mondar-mandir.
"Aha!" seru gadis itu sambil menjentikkan jarinya, dan melengkungkan senyum di bibirnya yang ranum.
Ia melakukan sesuatu pada kipas itu, sebelum akhirnya membawanya ke hadapan Luqman.
"Mas, ini."
Mawar meletakkan kipas itu di meja makan. Lalu ia duduk menghadap kipas itu. Tak berselang lama, Luqman juga ikut duduk menghadap kipas itu. Lalu memperhatikan dengan seksama.
Mawar terus saja memperhatikan pria yang ada dihadapannya.
'Dia itu bagaikan bulan dalam kegelapan malam. Begitu tampan dan mempesona.
Untung sekali aku bisa bekerja ditempatnya. Setidaknya bisa mendapatkan gaji dan melihat ketampanannya setiap hari.
__ADS_1
Dia sangat berbeda dengan laki-laki pada umumnya. Tapi, kenapa belum juga menikah? Padahal aku melihat tidak ada yang kurang dalam dirinya.
Masa tidak ada yang mau dengannya sih? Atau jangan-jangan dia...'
"Ah, tidak mungkin." Mawar menggelengkan kepalanya.
"Apanya yang tidak mungkin?" tanya Luqman sambil menatap gadis dihadapannya.
"Hah? Tidak apa-apa kok, mas." ucap Mawar setelah sadar dari kehaluannya.
"Ini kabelnya rusak, seperti digigit tikus. Besok biar aku belikan yang baru."
"Hah, besok? Tidak bisa sekarang mas?"
"Aku coba sambungkan dulu."
Luqman bangkit dari duduknya lalu mengambil beberapa peralatan yang dibutuhkan. Setelah itu, ia kembali ke tempat duduknya dan mulai memperbaiki kipas itu. Mawar pun kembali fokus memperhatikannya.
"Kenapa kamu terus menatap ku seperti itu?" Luqman merasa aneh, karena Mawar terus memperhatikannya.
"Saya cuma penasaran saja, mas. Kamu kerja jadi sopir berapa tahun? Bisa membuat rumah sebagus ini? Isinya juga barang-barang mewah semua. Saya mau juga dong diajari biar bisa seperti mas Luqman."
Luqman terdiam sesaat. Bagaimana ia harus menjelaskan pekerjaannya.
Papa dan mamanya dulu bukanlah orang kaya. Sehingga keduanya berjuang keras untuk bisa membangun sebuah kerajaan bisnis.
Yakni dengan mendirikan perusahaan pakaian muslim. Usaha itu berkembang pesat, dan dalam waktu singkat meraup untung yang berlipat ganda.
Keduanya tidak hanya menghabiskan waktunya untuk membangun usaha itu. Tapi mereka juga menyiarkan pemahaman yang mereka anut.
Karena pembawaan papanya yang sangat luwes dan tidak meninggalkan poin poin pentingnya, dalam waktu singkat ia semakin di kenal oleh masyarakat luas.
__ADS_1
Saat keluar kota dalam rangka memenuhi undangan untuk menjadi pemateri dalam sebuah kajian, papanya juga sering mengajak Luqman dan mamanya ikut serta.
Namun naas, saat papanya berangkat keluar kota sendirian, justru ia harus mengalami musibah kecelakaan. Yang mengakibatkan dirinya meninggal dunia.
Luqman yang masih kecil kala itu benar-benar sedih dan merasa terpukul, karena kehilangan sosok papanya yang begitu baik hati.
Tapi mamanya terus menguatkannya. Walaupun sebenarnya ia sendiri juga sedih dan terpukul.
Mama terus memberinya dukungan dan semangat. Bahkan mama juga mengatakan padanya,
Jika sayang dengan papa, contohlah papa. Dengan menjadi seorang pendakwah.
Luqman mengingat dengan baik nasehat itu. Dan berjuang keras agar bisa menjadi seperti papanya.
Tuhan selalu memberi jalan bagi siapa yang mau berusaha.
Tak butuh waktu lama, kariernya dalam dunia dakwah begitu melesat. Sehingga ia sering diundang kesana kemari untuk mengisi tausiyah. Bahkan setiap tausyiah nya sering di liput oleh televisi swasta ataupun nasional.
Jika ada yang menyebutnya kaya, dan bisa membangun rumah megah, hasil dari amplop yang diterima saat mengisi tausiyah. Maka jawabannya adalah salah besar. Karena ia sama sekali tidak memasang tarif dalam hal itu. Dan justru menggratiskannya.
"Mas, kok malah diam sih? Apa sesulit itu jadi sopir?"
Luqman menyunggingkan senyum, lalu menghela nafas panjang dan mulai menceritakan tentang pekerjaannya tentang perusahaan pakaian muslim itu.
Bukan tentang dirinya yang sebagai seorang pendakwah. Karena ia tidak ingin dikira sebagai ahli ibadah.
"UPS!" Mawar seketika menutup mulutnya, karena orang yang disangka sopir tempo hari adalah pimpinan perusahaan pakaian muslim.
"Maaf ya, mas. Aku salah duga kemarin itu."
"Tidak apa-apa. Toh aku juga tidak kehilangan apa-apa walaupun kamu sudah salah menduga."
__ADS_1
"Iya juga sih." Mawar meringis dan memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih, seperti iklan Pepsodent.