Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
51. Suara isakan tangis


__ADS_3

"Kenapa semalam papa bilang, kalau mas Luqman mau menerimaku?" Gumam Farida sambil mengusap bulir air mata yang menetes di wajahnya.


Gadis itu duduk di meja sebelah papanya dan Luqman, yang dibatasi oleh hiasan motif bunga yang ada di antara keduanya.


Ia memang sengaja mengikuti papanya. Karena tumben sekali saat pak Burhan keluar, tidak berpamitan dengannya. Di tambah lagi, tadi malam mereka baru saja bertemu.


Farida kembali memasang baik-baik pendengarannya. Karena tidak ingin melewatkan apa saja yang dibicarakan kedua laki-laki disampingnya.


Sementara itu, di meja sampingnya. Luqman dan pak Burhan tidak jadi memakan makanan yang sudah terlanjur keduanya aduk tadi. Mendadak selera makan mereka menguap.


"Saya sadar, mungkin terlalu cepat mengatakan soal perjodohan itu padamu. Karena saya takut kalian mengikat janji lebih dulu dengan orang lain. Bagaimana pun juga, amanah dari orang yang sudah meninggal itu sebaiknya harus dilaksanakan. Agar si arwah tenang di sana. Maka dari itu, saya melakukan semua ini demi papamu. Jika saya yang hanya sebatas rekan kerja saja mau berkorban, harusnya kamu juga harus mau berkorban demi papamu, Luqman."


Luqman kembali menghirup nafas dalam-dalam, lalu membuangnya pelan. Ia hanya mengingat baik-baik tentang nasehat papanya untuk selalu mendakwahkan agamanya. Itu saja, tidak lebih.

__ADS_1


"Maaf, pak. Saya tetap tidak bisa menerima perjodohan itu. Tolong, jangan menekan saya dengan menyebut nama papa dihadapan saya."


"Kenapa saya tidak boleh menyebut nama papamu? Padahal semua ini juga adalah usulannya. Farida itu juga banyak yang menyukai, tapi dia ikhlas menerima perjodohan itu."


Pak Burhan terus mendesak Luqman dengan setiap kata-katanya yang menusuk hati. Sehingga membuat hati Luqman kembali bimbang. Untuk yang kesekian kalinya ia menghirup nafas untuk memberi ruang di dadanya.


"Sekali lagi, maafkan saya pak. Tidak bisa menerima perjodohan ini. Urusan dengan almarhum papa, menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya."


"Okay, saya terima jika saat ini kamu belum mampu menerima Farida. Tapi saya tidak akan pernah berhenti berusaha untuk bisa menjalankan amanah dari almarhum papamu. Karena saya sangat menyayangi papamu, seperti keluarga sendiri."


"Terima kasih sudah menyayangi almarhum papa seperti keluarga sendiri, pak. Silahkan di makan." Luqman mempersilahkan pak Burhan makan.


"Maaf, saya sudah kenyang. Kalau begitu saya permisi dulu." Pak Burhan memundurkan kursinya, dan beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


Rasanya ia seperti dihina dan di permalukan oleh sikap Luqman. Mana bisa ia mengunyah makanannya dengan lahap.


Setelah kepergian pak Burhan, Luqman menghela nafas sambil menyandarkan punggungnya di kursi.


Nafsu makannya pun mendadak hilang, karena telah menyakiti salah satu hati rekan bisnis papanya.


Sebenarnya ia juga tidak ingin menyakiti perasaan orang lain. Tapi, mau bagaimana lagi. Dari pada hatinya terus yang menjadi korbannya.


Sementara itu, Farida yang masih duduk di kursi samping terkulai lemas. Karena sekuat apapun papanya mendesak Luqman, tetap saja hasilnya sama. Pria itu memiliki pendirian yang sangat kuat.


Luqman yang belum beranjak dari tempat duduknya, samar-samar mendengar suara isakan. Ia pun menoleh ke kiri dan kanan, celingukan mencari siapakah yang menangis. Dan matanya mengunci sosok wanita yang duduk tidak jauh darinya. Hanya berbatas hiasan bunga saja.


"Apa itu Farida?"

__ADS_1


__ADS_2