Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
37. Pertemuan Mawar dan Burhan


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, kedua wanita itu tampak sesekali berbicara. Sedangkan Luqman justru menjadi pendengar setia bagi keduanya.


Tanpa terasa, akhirnya mobil sudah tiba di restoran yang di maksud. Mereka bertiga segera turun dari mobil.


Sebelum di perintah, Mawar sudah membawa beberapa potong sample baju. Luqman yang melihatnya keberatan, membantu membawanya.


"Sini, biar aku bantuin."


"Tidak usah, mas. Ini kan tugasku."


"Memang aku tidak boleh meringankan tugasmu?"


Farida yang melihat kedua insan dihadapannya sedang berebut, merasa ada yang janggal. Karena Luqman terkesan begitu perhatian pada asisten rumah tangganya.


"Sini, mas. Farida juga mau bantuin." ucap gadis itu, sengaja untuk menarik perhatian Luqman.


Ia mengambil beberapa potong baju dari tangan Luqman. Lalu ketiga orang itu berjalan bersama masuk ke dalam restoran.


Sejenak ketiganya berdiri sambil mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan pak Burhan.


"Itu, papa ada di sana, mas." Farida menunjuk seorang laki-laki yang berjas abu-abu tengah duduk di saung, sebelah kiri restoran itu.


"Oh iya, ayo kita kesana." ajak Luqman. Mereka bertiga pun segera berjalan menuju pria itu duduk.


"Selamat siang, pak. Maaf jika membuat anda lama menunggu."


"Selamat siang, Luqman. Bapak tidak lama menunggumu. Mari silahkan duduk."


Pak Burhan sedikit mengernyitkan dahi, ketika melihat Mawar berdiri di samping Luqman. Lalu gadis itu mengikutinya duduk.


"Apa dia sekretaris barumu?" sejenak pak Burhan dan Luqman menoleh ke arah Mawar.


"Oh, bukan pak. Dia adalah asisten di kediaman saya, pak. Kebetulan tadi saya membutuhkan bantuannya, jadi saya mengajaknya ke kantor."


Pak Burhan manggut-manggut mendengar penjelasan Luqman. Walaupun dalam hati merasa sedikit aneh, karena mengajak asisten rumah tangganya ke kantor.


"Oh iya, nak Luqman mau pesan apa? Ini buku menunya." Pak Burhan menyodorkan dua lembar buku menu pada Luqman.

__ADS_1


Pria itu kemudian membagi daftar buku menu pada Farida. Sedangkan ia mendekatkan daftar menu yang di bawa pada Mawar, lalu keduanya memilih menu yang diinginkan.


Mawar berusaha bersikap profesional, ia tidak boleh menunjukkan rasa terkejutnya, ketika melihat harga makanan yang selangit menurutnya.


"Aku pesan ini saja, mas." Mawar menunjuk makanan dengan harga yang termurah dengan cara elegan, tidak terlihat kekanak-kanakan seperti dulu.


"Okay, aku juga pesan seperti apa yang kamu pesan."


"Lhoh, kok tumben sama seperti aku?" Mawar menatap sejenak ke arah Luqman.


Pria itu memang ingin mencicipi menu makanan yang sama dengannya. Ia tidak tega, jika Mawar makan makanan yang murah. Sedangkan dirinya kebalikannya.


"Memang kenapa? Aku hanya ingin mencoba menu itu saja, bukan ikut-ikutan seperti kamu. Pede sekali."


Pak Burhan dan Farida menatap Luqman dan Mawar, lalu sejenak beradu pandang. Kejanggalan semakin mereka rasakan, melihat interaksi keduanya yang tidak selayaknya hubungan antara asisten rumah tangga dan majikan.


Tak berapa lama kemudian, seorang pelayan datang menghampiri mereka. Pak Burhan memesan makanan untuk dirinya sendiri, sedangkan Luqman menyamakan pesanannya dengan Mawar. Farida pun akhirnya ikut menyamakan pesanannya dengan keduanya.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, Luqman mempersilahkan pak Burhan melihat beberapa sample baju yang ia bawa.


"Modelnya simple dan terkesan elegan." gumamnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Setelah puas memindai model pertama, pak Burhan memindai dengan seksama model baju kedua yang ada disampingnya.


Tanpa terasa, semua baju telah selesai pak Burhan cek. Lalu tampak tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Semua model-modelnya sangat bagus. Terlihat simple dan elegan. Saya menyukainya. Jika sudah ada yang jadi, kamu bisa mengirimkannya padaku, masing-masing seratus pcs."


"Maa syaa Allah, banyak sekali pak. Anda yakin?"


Pak Burhan terkekeh sejenak.


"In shaa Allah saya yakin. Semua model-modelnya saya suka. siapa yang mendesign nya?"


"Saya sendiri, pak. Terima kasih, kalau anda benar-benar menyukainya. Semua juga tak luput dari bahan-bahan yang bagus dan super nyaman di pakai. Iya kan, Mawar?" Luqman menoleh sejenak ke arah gadis itu.


"Tentu itu, mas. Semua bajunya sangat nyaman dipakai. Mawar menyukainya." tutur Mawar dengan polosnya.

__ADS_1


"Oh iya, saya dengar modelmu yang bernama Linda itu sedang sakit keras. Bagaimana kalau Farida saja yang menggantikannya?"


"Papa." seru Farida merasa tidak enak, karena sudah ada Mawar yang menggantikannya.


"Bukan kah kamu sendiri yang ingin menjadi model untuk hasil produksi perusahaan Luqman? Dan papa rasa kamu juga sangat cocok. Cantik dan anggun."


Luqman sejenak beradu pandang dengan pak Burhan dan Farida. Ia merasa tidak enak, karena sudah terlanjur cocok memakai Mawar sebagai modelnya. Apalagi baru saja tadi pagi gadis itu melakukannya dengan sangat baik. Sedangkan untuk menolak, ia juga sungkan.


"Baik, pak. Nanti saya bisa pertimbangkan lagi."


"Tapi, mas. Bukankah tadi Mawar sudah melakukan pemotretan untuk model baju?"


"Benarkah, Asisten rumah tangga kamu jadikan model untuk produk mu sendiri, nak Luqman?"


"Karena saya memandangnya memiliki potensi itu, pak. Tapi tenang saja, saya juga akan memakai Farida untuk model selanjutnya kok, pak."


"Tapi, mas. Kalau sudah menggunakan Mawar, Farida tidak jadi juga tidak apa-apa kok."


Di tengah-tengah keriwehan itu, pelayan datang membawakan pesanan makanan untuk mereka.


"Mari makan dulu." ajak pak Burhan.


"Terima kasih, pak." balas Luqman dan Mawar bersamaan.


Setelah itu, mereka pun mulai menyantap makanan masing-masing. Tampak sesekali pak Burhan melirik ke arah gadis ayu yang duduk di samping Luqman. Siapa lagi kalau bukan Mawar. Ia yakin, jika Mawar bisa menjadi penghalang untuk hubungan anaknya dengan Luqman. Untuk itu, ia ingin mencari tahu seluk-beluknya.


Cukup lama mereka menikmati makan siang bersama, sambil sesekali bercakap-cakap. Setelah hampir dua jam terlewati, mereka segera membayar makanannya.


Awalnya Luqman yang akan membayarnya, tapi sebagai orang yang mengajak, pak Burhan tidak mau kalah dan bersikukuh untuk membayarnya.


"Baiklah, kalau begitu, pak. Pertemuan kali ini bapak yang membayar. In shaa Allah pertemuan selanjutnya saya yang akan membayarnya."


"Begitu lebih baik. Kita memang harus sering-sering bertemu, agar hubungan ini terus berlanjut. Apalagi kalau sampai berlanjut ke hubungan kekeluargaan, pasti saya akan sangat senang sekali sekaligus bersyukur. Bisa memiliki menantu seperti mu." gurau pak Burhan.


"Papa." Farida tersipu malu jika sudah di singgung soal itu. Sedangkan Luqman justru tidak suka jika segala sesuatunya mulai dikait-kaitkan dengan urusan hati.


Mawar yang mendengarnya hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Luqman dan Farida memang sangat serasi. Yang satu tampan yang satu lagi cantik. Sama-sama orang kaya pula.

__ADS_1


__ADS_2