
Luqman dan mama Firda untuk yang kesekian kalinya saling beradu pandang.
Mawar yang sedang duduk di tengah-tengah keduanya juga menatap keduanya secara bergantian.
Tak dapat dipungkiri, hatinya ikut-ikutan merasa deg-degan. Karena sepertinya sedang ikut terlibat dalam suasana genting.
Hingga akhirnya dengan pelan pria itu memutuskan untuk membuka amplop yang ada dalam genggamannya.
Ia meletakkan kertas itu di pangkuan Mawar, sehingga mereka bertiga dapat melihat dengan jelas isi lembar kertas tersebut.
Mama dan Luqman seketika syok, melihat pernyataan yang tertulis dalam lembar kertas itu. Sedangkan Mawar yang baru membaca setengah kalimatnya, mengerutkan keningnya.
"Kenapa ada nama Mawar di situ?" Gumamnya polos.
"Baca sampai akhir Mawar. Niscaya kamu akan menemukan jawabannya." Dengan suara yang parau, mama Firda menjawab. Bahkan matanya sudah tampak berkaca-kaca.
Mawar tidak meneruskan membacanya, melainkan melihat majikan perempuannya yang menunjukkan raut wajah sedihnya.
__ADS_1
"Kenapa Tante Firda justru menangis? Apa Mawar akan meninggal?"
Mama Firda menggelengkan kepalanya cepat, sambil mengusap air matanya, dan juga mengulas senyum.
Mereka yang berada di ruangan itu, matanya sudah berkaca-kaca semua. Antara tangis sedih dan haru, bercampur menjadi satu.
"Lalu kenapa menangis?" Mawar mencerca lagi dengan pertanyaan. Setelah itu, pandangannya beralih pada lembar kertas yang masih ada dalam pangkuannya. Ia meneruskan membacanya, karena lidah mama Firda kelu untuk sekedar mengucapkan kata-kata lagi.
"Hah!" Mawar speechless, ketika telah menyelesaikan membacanya sampai akhir kalimat. Bahkan ia membacanya sampai berulang kali, untuk memastikan apa yang ia baca tidak salah.
Ia membulatkan matanya, dan satu tangannya menutup mulutnya yang menganga. Perlahan ia menatap wanita yang ada di hadapannya sejak tadi.
"Kamu anak mama yang hilang puluhan tahun silam, Mawar." Sambil tersedu Nyonya Anita mengatakannya. Sedangkan Mawar masih terdiam dan belum memberikan respon apa-apa. Bahkan untuk sekedar membalas pelukan pun tidak ia lakukan.
Bukannya Mawar tidak senang dengan berita bahagia yang ia dapatkan saat itu. Tapi ia mencoba mencerna tentang perjalanan hidup yang telah ia lewati selama dua puluh tahun silam.
Rasanya semua ini seperti sebuah mimpi. Dulu ia hidup begitu menderita. Tapi sekarang, rasanya ia begitu bahagia karena berada di antara orang-orang yang baik.
__ADS_1
Memiliki majikan seperti mama Firda dan Luqman, adalah anugerah tersendiri baginya. Sehingga ia tidak pernah memiliki keinginan untuk bertemu dengan kedua orang tua kandungnya.
Namun rupanya Tuhan berkehendak lain, di saat harapan untuk bisa bertemu dengan orang tuanya ia kubur dalam-dalam, justru sekarang ia dipertemukan dengan kedua orang tuanya dengan jalan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Mawar mencubit pipinya sendiri, lalu mengaduh kesakitan.
"Mawar, ada apa?" Nyonya Anita mengurai pelukan dan menatap putri semata wayangnya dengan serius.
"Iseng saja, Mawar mencubit pipi Mawar sendiri. Dan ternyata rasanya sakit." Celotehnya polos.
"Memang kenapa kamu mencubit pipimu? Kalau sudah tahu di cubit itu rasanya sakit?" Tanya Nyonya Anita.
"Untuk memastikan bahwa semua ini bukanlah mimpi belaka Tante. Karena memiliki majikan yang sangat baik seperti Tante Firda dan mas Luqman saja, sudah menjadi anugerah terindah dalam hidup ku. Apalagi di tambah kenyataan, kalau Mawar masih memiliki kedua orang tua yang sangat baik. Rasanya seperti hal yang sulit untuk diterima dengan akal sehat. Bahkan dulu orang yang menolong dan merawat Mawar mengatakan, jika kedua orang tuaku sudah tidak ada."
"Oh ya, siapa yang menolong kamu Mawar? Kita harus mengucapkan terima kasih padanya. Iya kan, pa?" Pandangan nyonya Anita beralih pada suaminya yang masih diam mematung. Tapi matanya sudah memerah karena air matanya juga tidak dapat di bendung.
"Tepat sekali apa yang dikatakan mama mu Mawar." Pak Andreas menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.
__ADS_1
Mawar menoleh ke kiri dan kanan. Menatap pada majikannya, seolah-olah meminta persetujuan tentang siapa yang menolongnya di waktu masih bayi.