Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
38. Mama sakit


__ADS_3

Setelah acara makan siang itu, Farida pulang bersama dengan papanya. Karena keduanya akan kembali ke kantor. Sedangkan Luqman, ia akan mengantarkan Mawar pulang. Akhirnya kedua rombongan itu berpisah, setelah saling berjabat tangan.


Di dalam mobil, pak Burhan langsung mencerca putrinya dengan pertanyaan. Karena tidak dapat menahan rasa penasarannya.


"Farida. Apa kamu yakin, jika Mawar itu benar-benar asisten rumah tangganya, Luqman?"


"memangnya kenapa, pa?" Farida menatap papanya sejenak.


"Mana ada asisten rumah tangga yang cantik dan seksi sekali seperti dia? Tapi, jika di bilang saudara, papanya Luqman dulu pernah memberitahu papa, jika dia tidak memiliki kerabat dekat."


Farida kembali menatap jalan yang ada di depannya, sambil sejenak menghirup nafas.


"Farida juga kurang tahu, pa. Karena kami baru pertama kali bertemu tadi. Pa, jika aku boleh meminta, sebaiknya papa jangan terkesan mendekatkan Farida dengan mas Luqman."


"Kenapa?" kini pak Burhan justru yang menatap putri tunggalnya.


"Ya, Farida tidak suka saja."


Pak Burhan menaikkan sebelah sudut bibirnya sambil tersenyum smirk. Ia merasa ada yang aneh dengan putrinya.


Pasalnya saat pertama kali bertemu dengan Luqman, gadis itu sudah menunjukkan kekagumannya. Tapi sekarang, setelah ada Mawar, ia justru terlihat tidak percaya diri.


"Apa kamu takut, kalah saing dengan pembantunya Luqman?"


"Tidak, siapa bilang?" sanggah Farida tegas.


"Ingat sayang! Kalau kamu mencintainya, ya harus kamu perjuangkan. Seperti Siti Khodijah yang menyatakan perasaannya pada Rasulullah duluan. Dan perlu kamu ingat juga, papa dan papanya Luqman, sudah menjodohkan kalian. Jika kamu memang benar-benar menyukainya, kita akan datangi dia di rumahnya untuk mengatakan hal itu."


"Jangan, pa." tolak Farida.


"Kenapa? Jangan siksa hatimu seperti itu, sayang."


Farida menyandarkan punggungnya di kursi kemudi, lalu menghirup nafas dalam-dalam. Sesaat ia memikirkan ucapan papanya.


Pria itu memang cinta pertamanya. Tidak ada pria lain yang bisa membuat hatinya gundah gulana seperti saat ini.


Tapi ketika ada wanita lain yang lebih cantik darinya dan senantiasa setiap saat selalu berada di dekatnya, membuatnya insecure juga.

__ADS_1


Namun balik lagi, hatinya merasa tidak percaya, jika dirinya yang notabenenya adalah seorang gadis muslimah lulusan luar negeri, bisa kalah oleh seorang gadis biasa yang hanya bergelar sebagai asisten rumah tangga.


"Farida rasa tidak perlu terburu-buru, pa. Lagian Farida yakin, tidak mungkin anak papa yang seorang lulusan luar negeri, bisa kalah dengan seorang asisten rumah tangga.


Farida yakin, Mas Luqman itu hanya menaruh rasa empati pada Mawar. Karena gadis itu tidak memiliki sanak keluarga.


Bukankah seseorang yang sudah terkenal, pasti akan mencari istri yang sepadan dengannya?"


"Hem, bagus itu. Papa suka dengan rasa optimis yang kamu tunjukkan. Papa juga yakin, lama kelamaan jika kalian sering bertemu, pasti Luqman perlahan akan membuka hatinya untukmu dan akan mencintaimu. Apalagi papa juga selalu membantunya."


Pak Burhan dan Farida saling beradu pandang, lalu tersenyum penuh kemenangan. Seolah-olah yakin, jika semuanya akan berjalan sesuai dengan keinginan hatinya. Padahal tidak ada hal sekecil apapun yang berjalan tanpa Ridha dari Tuhan.


**


Sedangkan di dalam mobil Luqman, sesekali tampak keduanya saling bertukar cerita. Lalu dering handphone Luqman, mengalihkan perhatian keduanya.


"Mawar, tolong ambilkan handphone di dalam tas ku ya." pinta Luqman, karena ia kesulitan untuk mengambil handphonenya.


"Siap, mas." gadis itu segera melakukan permintaan majikannya, lalu menyerahkan benda pipih itu padanya.


"Terima kasih." ucap Luqman pada Mawar, lalu ia menggeser tombol hijau di layar handphone.


"Wa'alaikumussalam, nak. Ini mama kurang enak badan. Tolong belikan mama obat yang seperti biasanya itu di apotik ya."


"Baik, ma. Luqman akan segera pulang dan membawakan obat untuk mama."


"Iya, terima kasih sayang. Hati-hati bawa mobilnya. Mama tutup teleponnya, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam, ma."


Luqman memasukkan handphone ke dalam saku jasnya. Lalu mengemudikan mobilnya dengan lebih cepat menuju apotik terdekat.


"Mas, apa yang terjadi?" Mawar penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan kedua majikannya melalui panggilan telepon.


"Mama sakit, Mawar."


"Tante Firda sakit apa?"

__ADS_1


"Mungkin asam lambungnya naik."


Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti di depan apotik.


"Nama obatnya apa, mas? Biar Mawar yang membelikan."


"Tidak usah, Mawar. Biar aku saja yang membelikan." Luqman pun segera turun dari mobil, diikuti oleh Mawar.


Gadis itu ingin tahu, jenis obat apa yang dibeli oleh majikannya. Sewaktu-waktu penyakit mama Firda kambuh, ia bisa langsung membelikannya.


Setelah mendapatkan obat yang diminta, Luqman kembali melajukan mobilnya menuju kediamannya.


Tal berselang lama, akhirnya mobil yang mereka kendarai sudah sampai di depan rumah. Mawar segera turun dari mobil, dan membuka pintu gerbangnya.


Saat awal dulu Mawar bekerja, memang di situ ada seorang security. Tapi ia ijin pulang ke kampung, untuk merawat istrinya yang sakit.


Mobil yang dikendarai Luqman berhenti di carport. Lalu ia dan Mawar berjalan beriringan menuju kamar mama Firda yang ada di lantai atas.


"Bagaimana keadaan, mama?" tanya Luqman, sambil duduk dan mengecek kondisi mamanya.


Ia menempelkan telapak tangannya di kening mamanya. Sedangkan Mawar, memijat pelan kaki majikannya.


"Cuma sedikit tidak enak. Makanya mama langsung menghubungimu untuk membelikan obat."


"Mama, sudah makan belum?"


"Belum." mama Firda menggelengkan kepalanya.


"Mawar buatkan bubur dulu untuk, Tante ya."


Tanpa menunggu persetujuan, gadis itu keluar kamar dan berjalan menuju dapur, untuk membuatkan makanan untuk majikannya.


Dengan telaten, ia menyiapkan segalanya sesuatunya, lalu mulai memasak.


Setelah hampir tiga puluh menit, bubur sumsum buatannya sudah siap. Segera Mawar membawanya ke kamar.


"Tante, ini buburnya di makan dulu." ucap gadis itu, sambil menyendok sedikit bubur, dan mendekatkannya pada majikannya.

__ADS_1


Luqman senang dan tenang, karena ada yang memperhatikan mamanya seperti itu. Sehingga ia menyunggingkan senyum.


__ADS_2