
"Ini serius? Masa aku pakai baju seperti ini sih?" gumam Mawar, sambil merentangkan baju-baju pemberian mama Firda.
Karena penasaran, Mawar pun mencobanya. Ia mengganti baju minim bahannya dengan gamis berwarna sage. Lalu menghadap ke cermin.
"Kok mirip ibu-ibu sih." gumamnya sambil memutar badannya.
"Tidak apa-apa lah. Niatku kan memang mau berubah, jadi harus totalitas juga."
Mawar lalu keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar mandi. Ketika air mulai mengguyur seluruh tubuhnya, ia merasakan badannya langsung kembali segar. Karena seharian penuh ini, ia tidak mandi.
Setelah mandi dan menyisir rambutnya, ia duduk di tepi tempat tidurnya. Tiba-tiba perutnya kembali berbunyi.
"Aduh! Kenapa tidak bisa dikondisikan sih, ini perut? Mana jam makannya masih lama pula." Mawar menepuk perutnya sendiri.
"Apa aku ambil makanannya dulu saja? Kalau aku makan di dalam kamar, pasti juga tidak akan ketahuan kan? Nanti kalau di ajak makan, aku juga bakal mengiyakan ajakan itu. Lumayan juga bisa dua kali makan makanan yang enak."
Mawar mulai membayangkan rasa masakan yang di masak mama Firda tadi. Apalagi aroma masakan itu begitu membangkitkan selera makannya.
Akhirnya Mawar bangkit berdiri dan berjalan keluar kamar. Namun saat pintu dibuka, ia terkejut ketika melihat mama Firda sudah berdiri diambang pintu. Wajah Mawar seketika pias.
"Mawar, ayo kita sholat Maghrib dulu."
"Ba-baik, Tante."
"Kamu sudah berwudhu?"
"Belum. Tidak bisa, Tante." Mawar menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ayo, Tante ajari." Mama Firda mengulas tersenyum.
Ia berjalan menuju kamar mandi dan mencontohkan gerakan wudhu pada Mawar. Setelah itu, tibalah giliran Mawar yang mempraktekkannya.
Ia memutar kran dengan cepat, hingga air yang keluar mengalir deras dan ketika tangannya terulur, air itu langsung memercik ke baju Mawar dan membasahinya.
"Di pelankan, Mawar!" Mama Firda memperingatkan, sambil memutar kran air itu.
"Maaf, Tante." Mawar meringis ke arah mama Firda, yang tampak geleng-geleng kepala.
Setelah berwudhu, mama Firda dan Mawar berjalan beriringan menuju ruangan yang ada di tengah-tengah rumah itu, yang difungsikan sebagai musholla.
Tampak disana sudah ada Luqman yang duduk sambil menunggu kedatangan mama dan Mawar.
"Pakailah mukena ini." Mama Firda mengulurkan mukena silk berwarna putih polos.
"Sudah siap?" tanya Luqman sambil menoleh ke arah belakang. Melihat barisan shaff perempuan.
Mawar yang melihatnya memakai kostum berbeda dengan saat awal bertemu kemarin, membulatkan matanya dan mulutnya menganga.
Kali ini Luqman memakai kurta dengan panjang selutut berwarna silver dan celana sirwal berwarna dark grey. Kulitnya putih bersih, berhidung mancung, dan tumbuh jambang di dagunya.
'Wow! Keren dan tampan.' batinnya.
"Kenapa kamu melihat ku seperti itu?"
"Anda sangat tampan dan keren sekali, mas." ucap Mawar, sambil membayangkan roti sobeknya Luqman.
__ADS_1
Seakan ia lupa jika ada mama Firda disampingnya. Sementara Luqman hanya geleng-geleng kepala.
Selama ini pelanggan Mawar adalah pria-pria yang berumur jauh di atasnya. Yang lebih layak ia panggil dengan sebutan bapak.
Dan ketika bertemu dengan Luqman, matanya seolah menjadi lebih terang, karena melihat lelaki paling tampan di muka bumi ini.
Menjadi seorang wanita kupu-kupu malam, menuntutnya untuk lebih bersifat agresif pada pelanggannya, agar mereka puas.
Maka dari itu, sifat itu perlahan tertanam dan begitu mendarah daging dalam dirinya. Sehingga saat awal bertemu dengan Luqman, ia langsung menyodorkan dirinya, ketika tidak mampu membayar ongkos taksi.
"Nanti, kamu ikuti seluruh gerakanku ya. Saat aku mengeraskan bacaan, kamu bisa mengikutinya, tapi dengan suara yang pelan saja." jelas Luqman.
"Eh, iya mas."
Luqman pun mulai menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya. Sedangkan di belakang, Mawar juga mulai mengikuti setiap gerakannya.
Setelah selesai, Luqman menghadap ke belakang dan mencium punggung tangan mamanya.
Dengan percaya dirinya Mawar juga mengulurkan tangannya, berharap Luqman juga akan melakukan hal itu padanya.
Tapi ternyata, pria itu kembali menghadap kiblat dan berdzikir. Membuat Mawar menelan saliva dan gemas dengan tingkah laki-laki dihadapannya.
"Kita makan sekarang yuk." ajak Mama, ketika Mawar sedang melipat mukenanya.
Luqman yang sudah selesai, beranjak berdiri dan melihat Mawar dengan penampilan barunya. Terlihat baju mamanya menempel sempurna di badan gadis itu.
Walaupun lekuk tubuhnya masih terlihat jelas, karena Mawar memiliki dada dan bamper yang besar, setidaknya tidak seperti tadi yang memakai baju kurang bahan. Sungguh mengganggu pemandangannya.
__ADS_1
Mereka bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur. Lalu duduk mengitari meja makan. Mata Mawar kembali berbinar, ketika melihat masakan yang dimasak majikannya tadi. Tak sabar ia untuk mencicipinya.