
Setelah mendapat anggukan kepala dari mama Firda dan Luqman, Mawar memutuskan menceritakan tentang siapa yang menolongnya di waktu ia masih kecil dulu.
Ia menceritakan semua kisah pahit yang di alami selama ini, sampai akhirnya ia bertemu dengan Luqman. Pemuda sekaligus majikan yang memberikan warna baru dan membawa perubahan yang besar dalam hidupnya.
Semua bersedih mendengar kisah pilu Mawar. Bahkan dokter pun, yang notabenenya adalah seorang laki-laki, sampai menghapus air matanya berulang kali. Karena ternyata ada kisah hidup yang setragis itu di dunia ini.
Nyonya Anita menangis tergugu, tidak menyangka tentang penderitaan yang harus dialami oleh putrinya.
Setelah pertemuan itu, ia sangat bersyukur karena putri satu-satunya terlihat tidak mengalami gangguan kejiwaan, tidak bersikap seperti wanita murah an seperti di luar sana. Padahal setiap harinya ia tumbuh dalam lingkungan yang tidak baik.
Sementara pak Andreas merasa sangat bersalah, karena selama ini sudah menyuruh istrinya untuk menghentikan pencarian putri kandungnya. Hal itu sama halnya dengan ia membiarkan anaknya hidup terlunta-lunta di luar sana lebih lama.
Pak Andreas memeluk Mawar, lalu diikuti oleh istrinya. Keduanya tergugu, hingga bahunya berguncang hebat.
__ADS_1
"Mulai sekarang papa pastikan, kamu tidak akan mengalami penderitaan seperti apa yang kamu alami dulu, sayang. Bahkan jika perlu, papa akan menyewa jasa bodyguard untuk memastikan kamu baik-baik saja. Dan untuk orang yang sudah menculik kamu, papa pastikan dia akan mem busuk di penjara."
Mata Mawar pun mulai berkaca-kaca. Dan tak lama kemudian, ia juga tergugu, sama seperti kedua orang tuanya.
Betapa tidak, kata-kata yang diucapkan pak Andreas, mengisyaratkan bahwa dia begitu mencintai dan menyayanginya.
"Terima kasih, terima kasih sekali, pak." Dengan terbata, Mawar mengucapkan terima kasih pada laki-laki yang memeluknya.
"Panggil aku papa, sayang."
"Ba-baik. Pa-pa, ma-ma." Mawar masih terbata mengatakannya.
"Kami sangat kangen, mendengar ada yang memanggil kami dengan sebutan itu, sayang." Nyonya Anita terisak sambil menyunggingkan senyum bahagia.
__ADS_1
"Pak, Bu, setelah mendengar kisah pasien, saya rasa kita perlu melakukan pengecekan menyeluruh padanya, untuk meyakinkan bahwa semua baik-baik saja." Saran Dokter.
"Iya Dokter, saya setuju. Lakukan yang terbaik untuk putri kami." Pak Andreas mengurai pelukan dan membersihkan wajahnya yang basah oleh air mata dengan kedua tangannya. Begitu juga dengan istrinya.
"Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih pada Anda ustadz dan Nyonya Firda, karena telah mendidik Mawar dengan sangat baik." Pandangan pak Andreas beralih pada Luqman dan mama Firda.
"Pada dasarnya Mawar adalah gadis yang baik. Dan kami hanya sedikit mengarahkannya saja." Mama Firda merendah.
"Setelah putri kami sehat, kami ingin membawanya pulang ke rumah kami." Nyonya Anita membelai wajah Mawar.
Mama Firda dan Luqman saling beradu pandang, lalu menganggukkan kepalanya.
Tidak dapat dipungkiri, ada sesuatu yang hilang di hati keduanya ketika Nyonya Anita berkata demikian. Tapi mereka juga tidak bisa berbuat lebih, mengingat hasil tes DNA, yang mengatakan Mawar adalah putri kandung keduanya.
__ADS_1
Setelah suasana yang mengharu biru itu berlangsung sekian waktu, dokter keluar dari ruangan, untuk memerintahkan perawat menyiapkan berbagai peralatan yang akan digunakan untuk memeriksa kondisi Mawar lebih jauh. Sedangkan Mawar dan keluarganya serta majikannya, masih setia berkumpul dan bertukar cerita.