Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
40. Kalah saing


__ADS_3

Di kediaman Luqman.


Setelah bangun dan beribadah, Mawar segera keluar dari kamar majikannya. Tempat yang dituju adalah dapur.


Karena ia ingin menyiapkan bubur untuk mama Firda. Kali ini ia ingin membuat bubur kacang hijau.


Ia merebus kacang hijau yang semalam sudah di rendam bersama bumbu rempah lainnya. Sementara itu, ia memarut kelapa untuk membuat santan.


Tak hanya membuat bubur kacang hijau, Mawar juga membuatkan sarapan roti panggang untuk Luqman.


Setelah selesai memasak, Mawar berjalan menuju kamar mama Firda. Karena belum bangun juga, ia ingin turun untuk mengerjakan pekerjaan lainnya.


**


Sementara itu, Luqman yang tengah melakukan olah raga ringan di tempat gym-nya, cukup terganggu konsentrasinya gara-gara mencium aroma yang sedap.


"Bau apa nih? Apa Mawar bikin sesuatu?" Gumamnya, lalu menghentikan aktivitasnya dan berjalan menuju dapur.


Benar saja seperti dugaannya. Telah tersedia semangkuk besar bubur kacang hijau, kuah santan, roti panggang, dan teh di atas meja makan.


"Aromanya begitu menggoda. Membuatku ingin mencicipinya. Eh, tapi tunggu, mama sudah makan atau belum ya. Aku cek ke kamar dulu." Luqman bangkit berdiri.


Saat ia memutar badannya, tak sengaja menabrak Mawar yang sedang berjalan sambil membawa alat pel.


"Astaghfirullah, Mawar." Pekik Luqman, karena melihat Mawar yang terjatuh dan terguyur air bekas pel.


"Argh... Sakit." Desis Mawar sambil meringis.


Tanpa pikir panjang, pria itu segera menyingkirkan alat pel nya, lalu membantu Mawar berdiri. Namun karena lantai yang licin, Luqman justru ikut terjatuh dan menimpa tubuh Mawar.


Kedua insan itu saling beradu pandang, dengan dada yang bergemuruh hebat.


"Mas, apa kamu tertarik padaku?" Celetuk Mawar.


"Pede sekali kamu."


"Lalu, kenapa tidak buru-buru bangun? Enak ya, tidur di atas tubuhku? Kamu enak, aku yang tidak enak. Berat tahu."


"Ma-maafkan aku, Mawar."

__ADS_1


Luqman segera menyingkirkan tubuhnya, dari atas tubuh Mawar. Tapi berkali-kali ia selalu saja terjatuh. Hingga untuk yang kesekian kalinya, barulah ia berhasil bangun. Begitu pula dengan Mawar.


"Mas, sepertinya mas Luqman harus cepat menikah."


"Sok tahu kamu, Mawar."


"Bukannya Mawar sok tahu. Tapi teripang mas Luqman selalu tegak berdiri, saat dekat dengan wanita. Seperti tadi contohnya."


"Mawar!" Wajah Luqman merah padam karena malu. Terang saja, gadis itu berbicara terlalu blak-blakan. Tanpa melalui proses seleksi.


"Tenang, Mawar ini cuma pembantu di rumah ini. Jadi tidak berharap menikah dengan, Mas Luqman. Karena mas Luqman, cocoknya sama mbak Farida. Sudah cantik, berpendidikan, dan baik pula."


Luqman merasa tersentil dengan ucapan Mawar yang selalu merendah.


"Jangan pernah membicarakan status sosial, jika sudah berhubungan dengan hati." Setelah itu Luqman bangkit berdiri. Namin belum sempat melangkah, ia kembali tergelitik hatinya.


"Uwu banget deh kata-kata, mas Luqman." Mawar mencubit pipinya sendiri dengan gemas. Luqman yang melihatnya, geleng-geleng kepala sendiri.


**


Di tempat lain, setelah menyelesaikan sarapan paginya, Farida pergi ke kantor Luqman.


Selain untuk membicarakan tentang bisnis, ia juga ingin menjalin kedekatan yang lebih dengan pria itu.


"Assalamu'alaikum, mas." Sapanya setelah panggilan terhubung.


"Wa'alaikumussalam, Farida. Ada apa?" Balas Luqman dari seberang sana.


"Kenapa kamu tidak berangkat ke kantor, mas? Apa ada masalah di rumah?"


"Oh, tidak. Hanya saja mamaku, kurang sehat. Jadi aku memutuskan untuk menemaninya di rumah sementara waktu."


"Oh ya, sakit apa?"


"Asam lambung."


"Tolong kirim alamat rumahmu ya, mas. Farida ingin menjenguk Tante."


"Tidak usah, Farida. Nanti merepotkan mu."

__ADS_1


"Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Tolong kirim alamatnya segera. Assalamu'alaikum." Farida lantas menutup teleponnya secara sepihak.


"Bagus, ini adalah kesempatan emas. Aku bisa bertemu dan berkenalan mamanya mas Luqman. Sekalian saja aku beri tahu, jika asisten rumah tangganya adalah seorang wanita tidak benar." Gumam Farida sambil tersenyum tipis.


Tak lama kemudian, handphonenya terdengar bergetar. Farida kembali mengurai senyum, ketika Luqman mengirimkan alamat rumahnya.


Ia pun bergegas masuk ke taksi online yang dipesannya tadi. Sengaja setiap ke kantor Luqman, ia tidak mengendarai mobilnya sendiri. Agar Luqman mau mengantarkannya pulang.


"Pak, kita mampir ke toko kue yang ada di seberang jalan itu ya." Titah Farida, pada sopir taksi.


"Baik, nona." Balas sang sopir sambil menganggukkan kepalanya.


Mobil taksi berhenti tepat di toko yang di maksud Farida. Gadis cantik berkerudung merah itu keluar dari angkutan umum, lalu berjalan dengan langkah anggun memasuki toko kue.


Ia memilih kue yang paling mahal harganya dan rasanya paling enak di toko itu. Setelahnya, ia keluar dan kembali masuk ke mobil taksi.


Tak sabar rasanya ia bertemu dengan Luqman dan mamanya.


Setelah beberapa menit kemudian, mobil taksi yang ia tumpangi berhenti tepat di depan rumah megah. Farida segera membayar ongkosnya, lalu turun dari mobil.


Hanya dua kali ia menekan bel, pintu rumah terbuka. Senyum mengembang, ketika melihat siapa yang membukakan pintu untuknya.


"Assalamu'alaikum, mas." Sapa Farida dengan senyum sumringah.


"Wa'alaikumussalam. Silahkan masuk, Farida." Luqman merentangkan tangannya, mempersilahkan Farida masuk.


Gadis itu menganggukkan kepalanya, lalu mengikuti Luqman yang berjalan ke arah sofa.


"Mas, sebaiknya aku ketemu sama mama kamu dulu." Ucap Farida, sebelum ia sempat duduk di sofa.


"Maaf, kamu kesini ada urusan soal bisnis atau yang lain?"


"Itu salah satunya, mas. Tapi, hal itu bisa dibicarakan nanti. Yang penting, aku ingin menjenguk mamanya mas Luqman dulu."


"Okay, ayo kita ke kamarnya."


Luqman dan Farida berjalan beriringan menuju kamar mama Firda. Tampak gadis itu memperhatikan setiap sudut ruangan yang di design dengan apik.


"Nah, ini kamar mamaku. Ayo, masuk." Ajak Luqman, sambil membukakan pintu untuk Farida.

__ADS_1


Gadis itu begitu terkejut, ketika melihat seorang wanita yang tengah duduk di tepi ranjang, sambil menyuapi mama Firda. Yang tak lain adalah, Mawar.


'Kenapa selalu ada dia sih?' batin Farida mulai kesal, karena melihat Mawar dan mama Firda terlihat akrab sekali.


__ADS_2