Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
94. Jawaban


__ADS_3

Luqman tersenyum tipis melihat tingkah konyol yang dilakukan Clara, lalu ia pun menggelengkan kepalanya.


"Kamu tidak sedang bermimpi, Clara. Aku serius dengan perkataan ku."


"Ta-tapi Clara bukan wanita baik-baik." Ada gurat kesedihan di wajah gadis itu ketika mengatakannya.


"Siapa bilang? Kamu sangat baik di mataku." Sangkal Luqman.


"Tante setuju dengan apa yang diucapkan Luqman." Mama Firda tersenyum, dan berkata dengan yakin. Terlihat sekali ia begitu mendukung putra semata wayangnya. Sedangkan kedua orang tua Clara saling melempar pandangan dan tersenyum.


"Kenapa bukan wanita lain saja yang mendapatkan ungkapan itu? Kenapa justru Clara?"


"Ya karena kita jodoh."


Clara mengangkat wajahnya perlahan, setelah tadi menunduk cukup lama. Lalu memberanikan diri menatap pria dihadapannya. Ia bisa melihat sorot mata yang penuh dengan sebuah pengharapan.


"Aku tidak ingin memaksamu, jika kamu ingin meminta waktu untuk berpikir tidak masalah. Aku akan berikan kamu waktu satu menit untuk berpikir, di mulai dari sekarang."

__ADS_1


"Apa? Satu menit? Kenapa tidak satu pekan?" Protes Clara.


"Itu terlalu lama, semua orang sudah penasaran dengan jawaban mu. Maka, pikirkanlah sekarang. Waktu tersisa dua puluh detik lagi."


Semua orang menahan tawa, melihat keabsturdan tingkah keduanya. Mereka yakin, jika anak-anaknya memiliki perasaan yang sama, tapi malu-malu untuk mengungkapkannya.


Luqman sendiri melihat waktu yang ada di handphonenya. Sedangkan Clara kedua tangannya saling bertautan dan penuh keringat dingin.


'Apa aku kurang menarik, sehingga Clara masih butuh waktu untuk menjawabnya?' batin Luqman, dan menatapnya penuh selidik.


"Waktu tinggal lima detik. Papa hitung mundur ya, lima, empat, tiga..." Tiba-tiba pak Andreas angkat suara, tapi belum selesai berkata, Clara sudah menyela.


"Habis, papa ini sudah tak sabar menunggu jawaban mu. Kapan lagi, punya menantu paket komplit seperti nak Luqman."


"Mama setuju." Imbuh nyonya Anita.


"Sama, saya juga setuju Sis. Dan, Clara waktu sudah habis." Mama Firda ikut menimpali.

__ADS_1


Luqman begitu senang, semua orang terlihat mendukungnya. Sedangkan Clara terlihat semakin gugup. Ia mencoba merilekskan pikirannya, dengan mengambil nafas panjang beberapa kali, lalu menghembuskannya pelan.


'Ya Allah, semoga keputusanku ini adalah benar. Aku tidak salah melangkah.' batinnya penuh harap.


"Cla-Clara..." Suara Clara bagai tercekat di kerongkongan, sulit untuk keluar. Akhirnya ia pun menganggukkan kepalanya sambil menunduk. Meskipun begitu, hal itu sudah menjadi hal yang membuat seisi ruangan bersorak gembira.


"Oh iya, aku ingin memberikanmu ini, sebagai tanda aku serius meminang mu." Luqman tiba-tiba teringat dengan benda yang baru dibelinya tadi pagi.


Ia merogoh dari kantong celananya dan memperlihatkannya pada Clara. Semua orang menatap benda kecil yang berkilauan indah.


Mama Firda beranjak dari duduknya, lalu berdiri di samping Clara.


"Clara, jika kamu memang mau menerima putra Tante, untuk menjadi pendamping hidupmu, maka ijinkan Tante memakaikan cincin itu di jari manis mu."


Clara menatap Tante Firda sejenak, lalu menyunggingkan senyum dan berdiri dihadapannya. Yang lain pun ikut berdiri dan menyaksikan momen di pagi hari itu dengan penuh rasa haru.


"Pas sekali cincinnya." Mama Firda tersenyum puas, ketika berhasil memasukkan cincin itu ke jari manis Clara. Dan semua orang tersenyum puas melihat hal itu.

__ADS_1


"Nak Luqman, terima kasih telah memberi kami kejutan yang seindah ini. Semoga kelak kamu bisa menjadi suami yang baik dan bisa mengarahkan putri kami ke jalan yang benar." Pak Andreas berdiri dan menepuk bahu Luqman sambil tersenyum.


"Insyaa Allah, Pak. Saya akan berusaha."


__ADS_2