Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
50 Keputusan


__ADS_3

.


"Luqman, kamu tidak mandi dulu?" Suara mama Firda mengejutkan Luqman, yang tengah melamun kan Mawar.


"Eh, mama. Luqman mau makan dulu saja. Habis itu baru mandi, biar badan segar."


"Tumben sekali sih, akhir-akhir ini kamu jadi sering makan sebelum jamnya, atau kadang juga hampir ninggalin mama. Memang dasarnya nafsu makan mu yang meningkat atau karena masakan Mawar yang enak?"


"Semuanya, ma." Luqman terkekeh kecil.


"Terima kasih pujiannya, mas Luqman. Bikin Mawar jadi semangat memasak deh." Mawar yang sedang mencuci peralatan masak, ikut menyahut pembicaraan majikannya.


Mama Firda ikut terkekeh sambil menarik kursi dan duduk di samping Luqman.


"Mawar, ayo ikut makan sekalian." Ajak mama Firda sambil menuang nasi ke piringnya.


"Iya, Tante. Duluan saja, sebentar lagi Mawar juga selesai kok."


Luqman diam-diam memperhatikan Mawar.


"Tinggalkan pekerjaan mu, Mawar." Titah Luqman,


"Siap. Ini sudah selesai kok, mas." Mawar mencuci tangannya, lalu duduk di samping Luqman, yang berhadapan dengan mama Firda.

__ADS_1


Mereka bertiga menikmati sarapan pagi bersama, dengan suasana penuh suka cita.


"Mas, tadi malam menu makanannya apa? Kalau mas Luqman suka, Mawar mau coba belajar memasaknya."


"Menurutku rasa masakan mu jauh lebih enak, Mawar."


"Ah, yang benar. Mas Luqman paling bisa membuat Mawar bahagia deh." Mawar tersenyum sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya.


Mama dan Luqman yang melihatnya terkekeh geli. Tapi sekian detik kemudian, Luqman merasakan dadanya berdesir aneh.


'Perasaan apa ini? Aku berani memuji Mawar. Melihatnya tersenyum, rasanya hatiku begitu lega. Masa sih, aku bisa menyukai pembantuku sendiri? Sulit dipercaya.' Luqman tersentak kaget, ketika mama menyenggol lengannya.


"Mama, ada apa?"


"Siapa yang melamun? Luqman cuma sedang menikmati makanannya kok, ma."


Mama Firda yang melihatnya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. Lalu pandangannya beralih pada Mawar.


Ia merasa bahagia, karena kediamannya semakin berwarna dengan kehadiran gadis itu. Mama Firda jadi ingin memiliki anak perempuan atau menantu secepatnya.


**


Saat makan siang tiba, Luqman benar-benar menemui pak Burhan. Bahkan ia datang sebelum pak Burhan sampai di lokasi tempat keduanya berkencan.

__ADS_1


Dengan senyum ramah, Luqman menyambut kedatangan pak Burhan. Keduanya pun saling berpelukan, sebelum akhirnya mereka duduk di tempat duduk masing-masing.


"Bapak ingin pesan apa?" Luqman menyodorkan buku menu makanan pada pak Burhan.


Pria itu meraih buku itu, lalu membaca daftarnya dengan seksama. Setelahnya, Luqman menulis menu makanan yang diinginkannya.


Setelah menulis menu yang diinginkan, Luqman memanggil waiters, lalu menyodorkan pesanannya.


Sambil menunggu menu makanan yang dipesan datang, Luqman sebagai si pengundang, mengajak lawannya berbicara terlebih dahulu.


Tak lama kemudian, makanan yang mereka pesan pun datang. Lalu keduanya mulai mengaduk makanan masing-masing.


"Apa kamu sudah mengatakan hal kemarin pada mamamu."


Luqman seketika menghentikan gerakan tangannya, lalu menatap sejenak lawan bicaranya, dan menganggukkan kepalanya.


"Oh ya, lalu apa jawabanmu?" Kini pak Burhan justru yang menatap Luqman dengan intens.


"Seperti apa yang sudah saya bilang kemarin pak. Bahwa saya menolak perjodohan itu."


"Apa! Kamu berani menolak keinginan papamu? Apa kamu tega, melihat papamu bersedih di alam sana? Pikirkan baik-baik Luqman, karena itu adalah permintaan terakhirnya. Jangan menjadi anak yang durhaka."


"Maaf, pak. Tapi urusan hati itu tidak bisa dipaksakan.. Semua orang bebas memilih kan?"

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, ada sepasang manik mata yang memperhatikan keduanya. Dan kini manik mata itu mulai berkaca-kaca. Mungkin sebentar lagi, akan turun hujan air mata yang membasahi pipinya.


__ADS_2