Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
92. Kesiangan


__ADS_3

Clara menghirup nafas dalam-dalam, sebelum mulai menjawab apa yang dibicarakan Mamanya.


Di satu sisi ia sangat senang, karena memiliki orang tua yang begitu pengertian dan perhatian padanya. Dan di sisi lain, ia cukup kebingungan, mau bagaimana menjelaskannya.


"Kami akan mengusahakan segala yang terbaik untukmu, sayang. Berceritalah, kami siap mendengarkan." Nyonya Anita memegang tangan Clara yang mendadak terasa dingin.


"Clara, maafkan papa jika tadi bercandanya kelewatan." Pak Andreas yang sejak tadi diam, akhirnya ikut berbicara. Ia menyatukan tangannya dengan tangan anak dan istrinya. Membuat Clara mendongakkan kepalanya menatapnya.


"Tapi melihat sorot mata kalian, sepertinya tidak bisa dipungkiri, jika sebenarnya kalian itu saling memiliki rasa yang sama. Hanya saja malu untuk mengatakannya. Kami juga pernah muda, dan mengalami hal yang sama denganmu. Jadi jangan sungkan untuk bercerita dan berbagi rasa sayang." Imbuh Pak Andreas lagi.


"Clara... Menyukai mas Luqman, karena dia adalah laki-laki pertama yang sangat baik pada Clara. Seumur hidup, Clara tidak akan pernah bisa melupakan kebaikannya, pa, ma. Lalu, apakah pantas Clara mengharap hal yang lebih dari itu? Kecuali..." Clara sejenak menggantung kalimatnya, membuat kedua orang tuanya penasaran.


Tidak hanya kedua orang tuanya saja yang penasaran, ternyata seseorang yang tengah berdiri di balik pintu juga sangat penasaran. Ya, dia adalah Luqman.


Pria itu baru saja mengambil air putih di dapur. Dan entah karena dorongan dari mana, tiba-tiba kakinya menuruti kata hatinya untuk melangkah ke kamar tamu.


Mendengar percakapan dari balik kamar, membuat hatinya tergelitik untuk mendengarkan dengan seksama.


Ia menjadi sangat penasaran, karena Clara tidak meneruskan ucapannya. Dalama hatinya ia berharap gadis itu memiliki rasa yang sama dengannya.


"Kecuali apa Clara? Jangan buat papa dan mama penasaran seperti ini dong?" Nyonya Anita yang tidak sabar menunggu anaknya mengucapkan kalimat selanjutnya, sambil menggoyangkan tangannya.


"Betul, papa juga sangat penasaran." Imbuh pak Andreas.


"Apalagi aku. Aku sangat penasaran. Kenapa main gantung-gantungan?" Gumam Luqman dengan lirih, takut suaranya terdengar.


"Kecuali mas Luqman menyukai Clara, dan mengatakannya duluan. Maka Clara tentu akan menerimanya dengan senang hati." Lirih gadis itu setelah menjeda ucapannya cukup lama.

__ADS_1


"Tapi, hal itu Clara rasa tidak mungkin terjadi. Mana ada orang hebat yang menyukai wanita hina seperti ku. Bagaikan punuk merindukan bulan." Imbuh Clara lagi, disertai kekehan kecil. Karena menyadari nasibnya dulu yang begitu malang.


Prank!


Luqman terkejut, akhirnya kata-kata yang begitu dinanti-nanti, meluncur dari bibir mungil Clara. Ia dan gadis itu memiliki perasaan yang sama, tapi sama-sama memendamnya. Malu untuk mengungkapkan pada yang bersangkutan.


Tidak hanya ia yang tersentak kaget, keluarga Clara yang berada di kamar pun tak kalah terkejutnya mendengar suara sesuatu yang pecah.


Luqman segera berlari menjauh, agar tidak menimbulkan kecurigaan. Sedangkan Clara dan keluarganya bergegas keluar untuk mengecek apa yang terjadi.


"Tidak ada siapa-siapa." Mereka berkata bersamaan, sambil memperhatikan keadaan sekitar. Pak Andreas bahkan mengecek lebih jauh ke sekeliling ruang tamu. Tapi hasilnya nihil, ia tidak menemukan apapun.


"Lalu siapa yang memecahkan gelas ini ya?" Gumam Nyonya Anita dengan penuh penasaran. Sementara Clara masih terdiam sambil memperhatikan pecahan gelas yang berserakan dilantai.


'Dulu sewaktu aku tinggal di rumah ini, hanya aku dan mas Luqman yang sering terbangun tengah malam untuk mengambil air putih. Lantas, apakah mungkin yang menjatuhkan gelas ini juga dia? Lalu, apakah ia mendengar percakapan aku dengan kedua orang tuaku? Kalau memang iya, ya ampun, aku pasti bakal malu sekali saat bertemu dengannya esok hari.'


"Eh, tidak apa-apa kok, ma. Clara hanya takut saja jika di rumah ini ada pencuri. Tapi aku rasa tidak mungkin. Mengingat di depan sudah ada security yang berjaga. Atau bisa jadi security itu sedang mengambil air minum sambil mengecek keadaan rumah ini. Eh, ternyata gelas yang dibawa terjatuh. Ya sudah, Clara sudah mengantuk. Ayo kita tidur sekarang, pa, ma."


"Mungkin benar apa yang kamu katakan, sayang. Ya sudah, ayo kita kembali ke kamar masing-masing." Papa manggut-manggut.


"Eh, tunggu. Sayang, kamu adalah gadis yang baik. Semoga mendapat jodoh yang terbaik. Kami percaya itu." Setelah mengucapkan itu, Nyonya Anita tersenyum sambil memeluk Clara sejenak.


**


Kini semua telah kembali ke kamar masing-masing. Jika tadi Clara mengatakan sudah mengantuk, itu hanyalah sebuah kebohongan. Nyatanya sampai hingga jarum jam bergulir berpindah angka, ia tetap tidak bisa tidur.


Hal yang sama, juga dialami oleh Luqman di kamarnya. Dan sekarang ia tengah memikirkan cara untuk menyampaikan perasaannya. Ia sadar, jika terlalu lama memendam perasaan bisa semakin membuatnya tersiksa.

__ADS_1


Dan akhirnya hingga subuh menjelang, barulah ia bisa tertidur, tanpa menemukan cara yang pas untuk mengungkapkan perasaannya. Hal itu karena memang hanya Clara lah perempuan pertama yang berhasil mengombang-ngambingkan perasaannya.


**


Sebuah suara ketukan pintu yang cukup keras, membuat Luqman terbangun.


"Clara." Gumamnya sambil membuka pintu dan mengucek sebelah matanya. Sehingga membuat wanita yang ada dihadapannya mengernyitkan dahinya.


"Ini mama, Luqman." Mama Firda berkata dengan suara yang sedikit lebih tinggi.


"Ha!" Luqman terbengong menatap wajah mamanya. Bahkan mulutnya terlihat menganga. Begitu menggemaskan di mata mamanya.


"Kenapa kamu bangun-bangun menyebut nama Clara? Apa kamu habis memimpikannya? Dan, seumur-umur mama baru kali ini melihat wajahmu yang begitu kusut? Jangan-jangan semalaman kamu memikirkannya sampai telat bangun, dan bahkan belum sholat ya?"


"Astaghfirullah!" Pekik Luqman sambil menepuk jidatnya. Ia pun segera berlalu pergi untuk mengambil air wudhu. Sedangkan Mama Firda menggelengkan kepalanya, menyadari kelakuan anaknya yang sedang dimabuk asmara. Ia pun mengedarkan pandangannya menyapu ruangan, lalu merapikan tempat tidur anaknya yang tampak begitu berantakan.


**


Setelah selesai sholat, Luqman terkejut ketika melihat mamanya yang ternyata duduk di pinggir ranjang tempat tidurnya. Pria itupun mendekati dan duduk di samping Mamanya.


"Jika kamu memang benar-benar menyukai Clara, katakanlah secepatnya. Niat baik itu jangan ditunda-tunda. Mama sudah mengetahui masa lalunya, dan tidak mempermasalahkannya. Toh dia adalah gadis yang baik dan tidak mengidap penyakit yang aneh-aneh." Dengan lembut Mama Firda menasehati anaknya, sambil mengusap tangannya.


"Jika suatu saat orang mengetahui masa lalu Clara dan menghujat kita, apa Mama tidak malu?"


"Tidak, sama sekali. Karena takdir Allah itu tidak bisa dilawan. Kita berdoa saja, semoga diberi bahu yang kuat untuk menjalani dan melewati ini semua." Mama Firda menggelengkan kepalanya kuat sambil tersenyum.


"Terima kasih, Ma." Luqman memeluk Mamanya erat.

__ADS_1


"Sama-sama, sayang." Mama Firda pun membalas pelukan itu dan mengusap punggung anaknya, yang membuatnya tenang. Keduanya harus saling dukung, karena hanya mereka satu-satunya keluarga yang dimiliki.


__ADS_2