Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
47. Tak nyaman


__ADS_3

Rasa capek setelah melewati perjalanan panjang, akhirnya hilang setelah meminum susu hangat tadi. Luqman pun berjalan menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar, ia mandi pagi, sembahyang dan menyiapkan beberapa file pekerjaan.


"Benar apa yang dikatakan Mawar, meminum susu hangat setelah perjalanan jauh membuat badan kembali terasa segar dan tidak mengantuk lagi." Gumam Luqman sambil tersenyum tipis, ketika ia sedang membaca file yang ada di tangannya.


"Lhoh, kenapa aku jadi memikirkan ucapannya?"


Luqman menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu kembali fokus pada pekerjaannya.


**


Perlahan matahari mulai menunjukkan sinarnya. Luqman telah siap dengan stelan jas kerjanya. Pria itu berjalan dengan gagah menuju ke arah dapur.


"Luqman, kapan kamu pulang?"


Pria itu menghentikan langkahnya, ketika mendengar mamanya bertanya padanya. Lalu menghampirinya dan mencium punggung tangannya.


"Tadi sekitar jam tiga, ma."


"Kenapa tidak mengetuk pintu kamar mama?"


"Luqman pikir, mama masih tidur. Jadi tidak berani mengganggu."


"Mama sudah lebih dari cukup istirahatnya. Tidak perlu khawatir untuk mengetuk pintu kamar. Oh iya, semalam kamu sangat hebat. Mama semakin bangga sekali denganmu." Mama Firda mengacungkan kedua ibu jarinya. Setelah itu keduanya berlalu menuju dapur.


Di dapur, Mawar telah menyiapkan beberapa menu sarapan yang enak-enak di atas meja.


"Hem, baunya enak sekali." Gumam mama, sambil mengendus aroma masakan yang enak. Luqman pun juga merasakan hal yang sama.


Luqman langsung duduk di kursi meja makan, karena rasa lapar yang tidak bisa ditahan. Sedangkan mama Firda mencari keberadaan Mawar, yang tidak terlihat sama sekali.


"Mawar, kamu dimana?" Mama Firda berteriak sambil memanggil nama asisten rumah tangganya.


Setelah mengecek beberapa ruangan, akhirnya ia menemukannya sedang menjemur pakaian.


"Mawar, ayo sarapan dulu."


"Eh, iya Tante. Tinggal saja tidak apa-apa, ini masih banyak yang belum di jemur."


"Okay, Tante tinggal kesana dulu ya. Nanti kamu menyusul."


"Baik, Tante."


Mama Firda kembali ke dapur, dan mendapati putranya tengah menghabiskan makanannya dengan lahap. Ia pun mengernyitkan dahi.

__ADS_1


"Luqman, tumben kamu tidak menunggu mama dulu."


"Eh, maaf ma. Luqman keburu lapar, di tambah aroma masakan yang begitu menggoda." Luqman terkekeh.


Mama Firda mengulas senyum tipis, sambil menuang nasi yang lengkap beserta sayur dan lauk ke piringnya. Setelah itu ia pun mulai melahapnya.


Mawar yang sudah menyelesaikan pekerjaannya, bergegas menyusul kedua majikannya yang sedang sarapan. Ia mengulas senyum ketika melihat mereka makan dengan lahap.


"Ih, senangnya Mawar melihat Tante dan mas Luqman makan dengan lahap."


"Eh, kamu sudah selesai? Buruan duduk gih. Sebelum makanannya dihabiskan sama Luqman."


Luqman tersedak, ketika mama menyinggungnya.


"Mama makannya kan juga banyak. Pakai ngeledek Luqman segala lagi." Luqman mendelik ke arah mamanya.


"Ah, tidak usah malu-malu kucing seperti itu. Harusnya mas Luqman langsung memuji, kalau masakan Mawar enak. Biar nanti Mawar masak kan lagi yang lebih enak dari ini."


Mama Firda dan Luqman menganggukkan kepalanya, karena membenarkan ucapan Mawar.


**


Di tengah Luqman yang sedang fokus pada pekerjaannya, handphonenya berdering.


Sebuah pesan permintaan untuk mengisi acara tausyiah kembali ia terima. Ia pun akan mengusahakan memenuhi permintaan itu.


"Pak Burhan." Gumamnya sebelum mengangkat teleponnya dan menyapanya dengan ucapan salam.


Ternyata rekan bisnisnya itu kembali mengundangnya untuk makan malam bersama nanti malam.


Padahal tadi pagi Mawar telah berjanji akan membuatkannya makan malam yang enak untuknya. Luqman memang selalu memikirkan perasaan orang-orang terdekatnya.


Namun untuk menolak ajakan rekan bisnisnya, ia pun merasa tidak enak. Akhirnya Luqman menyetujuinya, dan menghubungi Mawar, agar dia tidak terlalu banyak memasak. Tak lupa ia juga menghubungi mamanya, agar ia tidak khawatir.


Meskipun sudah besar, Luqman tidak pernah lupa untuk selalu berpamitan pada keluarganya sebelum ia pergi. Walaupun bagi kebanyakan orang, perbuatannya itu di anggap seperti anak kecil.


**


Sementara itu di sebuah salon. Farida tersenyum bahagia, karena baru saja mendapat kabar dari papanya, bahwa Luqman akan datang untuk acara makan malam nanti.


"Mbak, saya mau perawatan lengkap ya."


"Oh, iya mbak. Siap." Pelayan membalasnya dengan penuh semangat.


Farida merasa perlu untuk berpenampilan yang rapi, cantik dan menarik dihadapan orang yang disukainya.

__ADS_1


**


Dan hal yang berbeda tengah dilakukan oleh Mawar. Gadis itu tengah berkutat dengan pekerjaannya yang seperti tidak ada habisnya. Padahal mama Firda telah menyuruhnya untuk istirahat.


Sebagai seorang asisten rumah tangga, ia memang tidak menyukai berdandan. Walaupun dulu ia selalu melakukan hal itu untuk para pelanggannya.


Namun, walau dia tidak berdandan, ia senantiasa menjaga diri agar selalu berpenampilan rapi dan menjaga kebersihan.


Ketika ia mendapat kabar dari Luqman, bahwa tidak makan malam di rumah, hatinya sedikit kecewa. Tapi ia segera bisa mengontrolnya. Karena ia paham, majikannya adalah orang yang sibuk.


**


Hari beranjak malam, setelah menyelesaikan pekerjaannya, Luqman bersiap-siap menuju ke kediaman pak Burhan.


Di dalam mobilnya, memang selalu tersedia pakaian ganti. Untuk berjaga-jaga jika ia harus menghadiri suatu acara, tapi belum sempat pulang ke rumah. Seperti pada malam hari itu.


Setelahnya ia melajukan mobilnya ke kediaman pak Burhan.


**


Sesampainya di sana, Farida lah yang membukakan pintu untuknya dan menyambutnya dengan hangat.


"Silahkan masuk, mas."


Luqman tersenyum tipis sambil mengucapkan terima kasih. Ia melihat banyak orang yang sedang bercakap-cakap di ruang tamu. Membuatnya heran, ada acara apa sebenarnya di rumah itu.


Pak Burhan yang melihatnya, segera bangkit dari duduknya dan menyapanya dengan ramah.


"Ayo masuk, nak Luqman." Pak Burhan merangkul Luqman dan mengajaknya berjalan mendekat ke arah orang-orang yang duduk itu, dan memperkenalkannya satu persatu.


"Ini adalah Luqman, pemuda yang aku ceritakan pada kalian tadi. Pasti kalian sudah sering melihatnya di televisi. Dan kali ini aku mempertemukan langsung dengan kalian. Mumpung bertemu, kalian juga bisa bertanya jawab dengannya sepuasnya." Pak Burhan bertutur panjang lebar pada keluarganya, sambil menunggu Luqman bersalaman dengan semua orang itu.


"Ayo, kita ke ruang makan sekarang. Di sana kita bisa bercerita sambil menikmati jamuan makan yang sudah kami persiapkan." Ajak pak Burhan.


Mereka yang ada di ruang tamu, mengikuti instruksi yang diberikan oleh pak Burhan.


Sesampainya di ruang makan, mereka menarik kursi untuk mengambil jatah tempat duduknya masing-masing. Luqman duduk di dekat pak Burhan. Sedangkan di hadapannya ada Farida.


"Ayo, silahkan ambil makanannya."


Mereka yang mengelilingi meja makan, mulai mengambil menu makanan sesuai dengan selera masing-masing. Lalu mulai menyantap sambil bertanya jawab.


Dari percakapan mereka, perlahan Luqman tahu, jika itu adalah hari ulang tahun Farida.


Namun sengaja tidak membuat acara besar, hanya kumpul keluarga sambil makan bersama.

__ADS_1


Tapi yang menjadi pertanyaan di hati Luqman, ia bukan anggota keluarganya, tapi kenapa ia di undang?


Harusnya pak Burhan membuat acara untuk keluarganya sendiri, atau untuk rekan bisnisnya sendiri. Sehingga lebih nyaman dan tidak sungkan seperti ini.


__ADS_2