
"Farida belum bisa menjawabnya sekarang, pa."
"Okay, baiklah kalau begitu. Jika kamu menyetujui rencana perjodohan itu, katakan saja pada papa. Karena papa akan mengatakannya pada Luqman." setelah membalas perkataan putrinya, pria itu melajukan mobilnya menuju kantornya.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, yang ada dipikiran Farida adalah Luqman. Namun, ia tidak langsung mengatakan hal itu pada papanya. Untuk menjaga imagenya sebagai seorang wanita. Ia sengaja ingin melihat bagaimana reaksi Luqman padanya.
**
Setelah kembali masuk ke ruangannya, Luqman menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya. Ia tersenyum mengingat doa yang diucapkan oleh Mawar sebelum ia berangkat tadi.
Ya, pria itu percaya bahwa, keberhasilan seseorang itu bukan hanya murni atas kerja kerasnya sendiri. Tapi ada juga doa yang terselip dari orang-orang terdekatnya. Ia pun juga yakin bahwa, keberhasilan rapat tadi tak luput dari doa Mawar.
"Terima kasih, Mawar." gumam pria itu sambil menyunggingkan senyum tipis. Lalu kembali menyelesaikan pekerjaannya yang masih tertunda.
Setelah semuanya selesai, dan waktu juga telah menunjukkan pukul tiga sore, Luqman bersiap pulang.
Saat dalam perjalanan pulang, ia kembali teringat Mawar. Ia ingin membelikannya handphone baru.
Pria itu pun membelokkan mobilnya, di sebuah counter yang cukup terkenal di kotanya. Setelah itu ia masuk dan memilih-milih handphone yang paling bagus spesifikasinya.
Di dalam mobil, ia tersenyum setelah handphone itu berhasil didapatkannya.
"Semoga kamu suka dengan kejutan yang aku berikan ini, Mawar." gumamnya.
**
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya Luqman sampai di depan gerbang rumah. Yang bertepatan dengan seorang kurir yang mengantarkan paket untuknya. Ia teringat akan pesanan baju yang di beli beberapa hari lalu. Luqman pun menerima paket itu.
__ADS_1
Setelah mengucapkan salam, ia masuk ke dalam rumah. Ia melihat mamanya dan Mawar yang tengah memasak sesuatu di dapur.
"Sedang masak apa, ma?" tanya Luqman, yang menghampiri keduanya.
"Kamu sudah pulang, Luqman?" tanya mama Firda dengan wajah yang berbinar.
"Baru saja, ma." pria itu mencium punggung tangan mamanya.
"Kamu bawa apa itu, Luqman?" mama Firda menoleh pada paper bag yang ada di atas meja.
"Untuk asisten rumah tangga kita, ma. Biar tidak bangun kesiangan melulu."
"Wah, apa itu? Jam Beker ya?" tanya Mawar kegirangan.
"Buka saja." titah Luqman sambil menyunggingkan senyum tipis.
"Sama-sama. Kalau begitu aku pamit ke kamar dulu, mau mandi."
Luqman berlalu ke kamarnya yang ada dilantai atas. Ia membersihkan diri dan mengganti pakaiannya yang pantas untuk dipakai ibadah.
Tak berselang lama, Mawar dan mama Farida telah selesai memasak. Kini keduanya juga akan membersihkan diri dan bersiap-siap ibadah bersama.
Saat akan mandi, mata Mawar tak sengaja melihat paket dan paper bag yang masih ada diatas meja.
Rasa penasarannya pun muncul. Ingin sekali mengintip apa isinya, tapi dalam hatinya melarangnya membuka paket itu.
"Toh itu semua nantinya kan untukku. Kenapa aku tidak sabaran ingin membukanya? Nanti sajalah, dibuka rame-rame. Sekarang aku mandi dulu, lalu mengerjakan ibadah sama-sama. Biar bisa mendengarkan suara mas Luqman yang merdu itu." Mawar terkikik sendiri sambil menutup mulutnya, lalu masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
**
Luqman, mama Firda dan Mawar kini sudah berkumpul di dapur. Mereka akan menikmati makan malam bersama.
Dihadapan mereka sudah tersaji menu bestek daging sapi, sambal goreng kentang, acar dan lengkap dengan minum dan nasinya.
Sudah tiga hari Mawar tinggal di rumah majikannya. Perlahan ia mulai mengerti tentang table manner.
Ia tidak lagi mengambil banyak makanan. Hanya mengambilnya secukupnya saja. Lalu menyuapkannya pelan-pelan ke mulutnya yang tipis.
Tidak seperti dulu yang mengambil porsi makanan dalam jumlah yang banyak. Dan menyuapkan ke dalam mulutnya banyak-banyak juga. Sekarang ia bisa sedikit sopan.
Setelah makan malam selsai, Mawar dengan cepat menyingkirkan sisa makanan dan piringnya. Lalu kembali ke tempat duduknya tadi.
Sesuai dengan janji Luqman tadi sore, ia menyerahkan semua barang-barang yang dibelinya pada Mawar. Gadis itu sambil tersenyum menerima barang-barang itu.
"Dih, kenapa Mawar jadi deg-degan seperti ini ya? Teringat peristiwa Mawar kabur beberapa hari yang lalu." celetuknya sambil menekan dadanya kuat. Meskipun yang dibicarakan begitu menyakitkan, ia masih bisa tersenyum.
"Apa ini, mas?" sambil mengocok-ocok paket besar.
"Ya buka saja, biar kamu tahu apa isinya." titah Luqman sambil geleng-geleng kepala.
Mawar pun berusaha membuka paket itu.
"Baju?" gumamnya sambil merentangkan selembar kain yang cukup lebar. Lalu ia langsung mencobanya.
"Perasaan Mawar terlihat jadi seperti ibu-ibu deh?" guraunya sambil memutar badannya, setelah baju yang diberikan oleh Thoriq dicoba.
__ADS_1