Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
85. Diagnosa Dokter


__ADS_3

"Maaf, saya tidak bisa menahan diri saya." Dokter merasa tidak enak dengan Luqman yang tampak kebingungan, dan kini tengah menatapnya serius.


"Kenapa Anda justru tertawa, Dok?"


"Sepertinya Anda tidak mengalami penyakit serius. Dan justru itu adalah suatu penyakit yang wajar."


"Maksudnya?"


"Apakah penyakit Anda kambuh ketika berdekatan dengan seorang wanita tertentu?"


Deg!


Jantung Luqman bagai berhenti berdetak. Kenapa dokter itu bisa tahu apa yang tengah dirasakannya, batinnya.


Luqman menoleh ke arah mamanya perlahan, lalu kembali menatap dokter. Dengan ragu ia pun mengangguk.


"Itu namanya Anda terkena virus merah jambu."

__ADS_1


"Apa itu? Memangnya ada jenis penyakit seperti itu? Atau memang termasuk jenis penyakit baru?" Luqman bertanya dengan polosnya.


Sementara mama yang mulai paham dengan perkataan sang Dokter, tersenyum tipis sambil mengamati wajah lucu anaknya yang masih kebingungan.


Dokter dan asistennya pun berusaha keras menahan tawanya, demi menjaga kenyamanan Luqman.


"Itu bukan jenis penyakit baru, ustadz. Penyakit itu memang sudah lama berkembang di muka bumi ini. Penyakit itu memang biasa menyerang tanpa pandang bulu. Dan akan sembuh jika hal yang sama dirasakan oleh orang yang memiliki perasaan yang sama ke kita. Karena penyakit itu bernama Cinta."


Luqman bagai tersambar petir, setelah mendengar penjelasan dari sang dokter.


'Arghh! Tapi kenapa bisa aku jatuh cinta dengannya? Bagaimana rumusnya?'


"Apa masih ada yang mau ditanyakan lagi, Ustadz?" Pertanyaan sang dokter membuyarkan Luqman yang tengah bermonolog dalam hati.


"Apa Anda tidak salah mendiagnosa saya? Bagaimana kalau ada penyakit lain yang bersarang dalam tubuh saya?" Luqman sedikit menyangkal ucapan dokter. Walaupun ia tahu, apa yang dia ucapkan itu hanyalah kamuflase belaka. Sejujurnya ia cukup malu, tentang perasaannya yang di ketahui oleh orang lain.


"Tidak. Selama ini Alhamdulillah saya tidak pernah salah mendiagnosa. Dan dalam ilmu kedokteran, memang tidak ada jenis penyakit dengan gejala seperti yang Anda rasakan."

__ADS_1


"Saya setuju dengan ucapan Anda, Dokter. Mungkin ini adalah hal pertama yang dialami oleh putra saya. Jadi, ia belum begitu tahu. Biar nanti di rumah ia menceritakan perasaannya pada saya. Kalau di sini, mungkin ia akan sedikit malu."


"Iya Bu, tidak apa-apa." Dokter dan Mama Firda saling melempar senyum. Sedangkan Luqman masih kebingungan.


Akhirnya Mama Firda bangkit berdiri, diikuti oleh putranya. Keduanya berpamitan pada sang Dokter. Setelah itu mereka pun segera keluar dari ruang pemeriksaan.


"Mas Luqman, apa yang dibicarakan Dokter tadi? Kenapa lama sekali? Apa mas Luqman menderita penyakit berbahaya yang mematikan? Ah, Clara jadi semakin takut sendiri mau bertemu dengan Dokter." Cerocos Clara, karena melihat Luqman keluar dengan wajah yang merah dan terlihat cemas. Sementara Mama Firda yang melihatnya berbicara panjang lebar, mulai menyimpulkan sesuatu.


"Sepertinya kamu tidak perlu melakukan pemeriksaan, Clara."


"Apa? Kenapa Tante bicara seperti itu?" Clara mengernyit tidak mengerti.


"Iya, memang ada apa Sis?" Nyonya Anita terlihat sama heran dengan anaknya.


"Karena..."


"Ma, biarkan Clara juga diperiksa. Siapa tahu penyakitnya beda denganku." Luqman terpaksa memotong ucapan mamanya. Karena tidak ingin wanita itu bicara lebih banyak lagi tentang apa yang disampaikan dokter, yang bisa membuatnya malu. Tapi hal itu justru membuat Clara dan keluarganya semakin heran.

__ADS_1


__ADS_2