Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
55. Di Hotel


__ADS_3

Hari Sabtu pagi, Luqman berangkat ke kota H untuk mengisi tausiyah. Kali ini ia tidak hanya berangkat sendirian, melainkan bersama dengan mama dan Mawar.


Luqman memang sengaja mengajak keduanya. Agar keduanya tidak suntuk berada di rumah melulu. Ia percaya, dengan membahagiakan keluarga, pasti akan semakin melancarkan rezekinya. Mawar menyambut dengan binar bahagia ajakan itu.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalan yang cukup padat, karena lalu lintas orang yang ingin menikmati hari liburnya.


Mawar yang memang jarang keluar, selalu tampak antusias melihat hal-hal baru yang ada di sekitarnya. Ia bahkan banyak bertanya pada Luqman dan Tante Firda.


Setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam, akhirnya mereka tiba di hotel yang sudah disediakan oleh panitia acara.


Mereka bertiga berjalan beriringan menuju kamar hotel. Mawar terkagum melihat bangunan tempat mereka menginap. Karena hotel itu tampak besar dan fasilitasnya lengkap, sama seperti di rumah majikannya.


"Berasa tinggal di rumah sendiri ya, Tante. Soalnya fasilitasnya lengkap banget, seperti di rumah Tante." Gumam Mawar, sambil memperhatikan sekeliling ruangan, setelah sampai di kamarnya.


"Kamu bisa saja, Mawar." Mama Firda tersenyum tipis menanggapi celotehan Mawar.


Mereka bertiga mengecek keadaan seluruh ruangan. Setelah itu mama Firda membagi kamar untuk masing-masing.


"Mawar, kita tidur di kamar yang itu ya." Mama Firda menunjuk kamar yang paling kiri. Mawar pun mengangguk mengiyakan. Sedangkan Luqman tidur di kamar sebelahnya.


Mereka memasuki kamar masing-masing untuk meletakkan barang-barangnya. Setelah itu kembali keluar.

__ADS_1


Mereka bertiga berjalan menuju restoran hotel, untuk menikmati makan siang bersama. Karena mama Firda selalu mengingatkan Mawar tentang table manner Mawar, makanya gadis itu sudah pasti tahu tentang cara bersikap saat mengambil makanan dan makan.


Mereka bertiga duduk mengelilingi meja bundar dan ingin menikmati makan siang bersama sambil bercerita.


Tampak beberapa orang yang melihat ke arah mejanya, serius memperhatikannya, lalu diantaranya beranjak berdiri dan menghampirinya.


"Ustadz, bolehkah kami minta fotonya?" Ucap beberapa orang itu bersamaan.


"Boleh." Luqman menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis, lalu beranjak dari duduknya.


Ia berdiri sejajar dengan ibu-ibu yang usianya di atas mamanya, lalu bergaya dengan gayanya yang terbaik.


"Maaf, apakah nona ini, istrinya ustadz?" Celetuk salah satu orang-orang yang meminta foto tadi, sambil menunjuk Mawar.


Mawar yang merasa ditunjuk, seketika tersedak. Buru-buru ia pun meraih air minumnya.


"Saya cuma pembantunya mas Luqman, Bu. Mana bisa jadi istrinya." Balasnya sesaat kemudian, sambil terkekeh.


"Hah, pembantu?" Serentak orang-orang yang meminta foto itu berkata. Kini mereka yang justru terkejut.


"Masa sih, pembantu cantik begini."

__ADS_1


"Bajunya juga kelihatan mahal."


"Mbaknya ini pasti bohong ya. Pasti malu kalau ketahuan."


Suara-suara dari orang-orang yang meminta foto itu terus bersahutan. Tapi Mawar masih terkekeh menanggapi semua itu. Berbeda dengan Luqman yang justru diam tanpa kedip menatapnya.


"Kalau saya bisa memiliki suami seperti majikan saya, ngapain juga harus disembunyikan Bu. Pasti saya akan merasa sangat bangga lah. Tapi memang benar, saya ini cuma pembantunya kok. Katanya tidak boleh bohong, takut dosa."


"Iya, benar. Mawar memang asisten rumah tangga di kediaman saya." Imbuh Luqman kemudian.


"Wah, sayang ya. Padahal cantik banget lho, tadz."


"Terima kasih, sudah memuji saya cantik." Mawar untuk yang kesekian kalinya menyunggingkan senyum tipis.


Cukup lama Luqman melayani orang-orang itu berfoto dan membalas celotehan mereka, hingga makanannya hampir dingin. Ia pun kembali duduk dan meneguk minumannya.


"Mas, kamu terlalu tampan dan pintar sih. Jadi banyak yang mengidolakan kamu." Mawar tak ragu mengungkapkan kekagumannya pada Luqman. Karena pria itu memang dambaan setiap wanita.


"Kamu memang sama seperti mereka, suka memujiku. Mau naik gaji ya?" Luqman melempar candaan pada Mawar.


"Gaji yang mas Luqman dan Tante Firda kasih, sudah terlalu banyak. Mawar sudah bersyukur. Ngga mau minta naik gaji. Tapi kalau dinaikkan lagi, tidak boleh ditolak." Mereka terkekeh mendengar balasan Mawar.

__ADS_1


__ADS_2