Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
45. Anak ngeyel


__ADS_3

"Selamat sore, mas Luqman."


Mawar yang sedang menyiram bunga, menyapa Luqman yang baru saja sampai rumah dengan senyum ceria.


Luqman yang melihatnya pun ikut tersenyum. Ia sangat salut, mantan kupu-kupu malam sepertinya yang telah mengalami kejadian serba tidak mengenakkan dalam hidupnya, bisa tersenyum seceria itu.


"Sore juga, Mawar. Mama ada di mana?"


"Tante Firda ada di kamar. Sepertinya sedang mandi, mas."


"Oh, baiklah. Aku masuk dulu ya."


"Iya, mas Luqman ganteng."


Luqman kembali tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. Ia tahu Mawar tidak berniat menggodanya.


**


Malam itu keluarga Luqman berkumpul di ruang makan, Mawar pun juga ada di situ. Seperti biasa, mereka akan bercerita tentang bagaimana mereka melalui waktunya di hari itu.


Mama Firda dan Luqman selalu terkekeh mendengar cerita dari bibir tipis Mawar. Dan ketika mama yang bercerita, Mawar akan menyimaknya baik-baik.


Pujian selalu Mawar lontarkan, saat Luqman menceritakan tentang pencapaiannya dalam dunia bisnis.


Di akhir cerita, Luqman mengeluarkan dua buah kotak dari balik saku celananya, lalu meletakkan di tengah meja.


"Ini hadiah dari aku, untuk kalian."


Mama Firda dan Mawar sejenak saling beradu pandang, lalu mengernyitkan dahi.


"Kalian? Apa Mawar juga dapat hadiah gitu?"


Luqman tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Iya. Terima kasih atas doa-doa yang sering kalian panjatkan, dan dukungan dari kalian semua. Sehingga beberapa bulan ini omset perusahaan terus meningkat pesat. Dan bulan lalu, aku juga belum memberimu gaji kan, saat kamu sudah membantuku untuk menjadi foto model. Sekarang, ayo buka."


Perlahan Mawar meraih kotak bludru berwarna biru dihadapannya. Lalu melihat mama Firda dan Luqman, sebelum akhirnya membukanya.


"Wow! Cincin emas. Indah sekali." Mawar berbinar melihat cincin yang berkilauan ketika tertimpa cahaya lampu.


"Mawar coba ya." Tanpa menunggu persetujuan dari majikannya, gadis itu langsung mencoba cincinnya.


"Ya ampun. Cantik sekali."


Mawar melihat dengan seksama, cincin yang telah melingkar di jari manis sebelah kirinya. Sedangkan tangan kanannya memegang pipinya.


"Duh, andaikan ini acara lamaran. Betapa bahagianya hatiku." Mawar terkikik, lalu menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


"Berdo'a saja, Mawar. Semoga suatu saat ada seorang laki-laki yang meminang mu." Ucap mama Firda.


"Ada yang lebih penting dari itu, Tan. Tiba-tiba Mawar ingin bisa bertemu dengan orang tua kandung.


Apakah mereka berasal dari keluarga miskin, sehingga untuk makan saja kesusahan seperti Mawar.


Dulu Mawar begitu kesusahan makan. Tapi sekarang alhamdulillah sudah tidak lagi merasakan hal itu.


Tapi hati kecil Mawar bagai terkoyak, jika kedua orang tua Mawar merasakan hal yang sama, seperti yang dirasakan Mawar dulu."


Suasana yang tadi ceria berubah sedih, gara-gara mendengar curhatan Mawar. Tak dipungkiri, gadis itu memang seperti memiliki aura tertentu. Yang bisa membuat orang-orang yang ada di sekelilingnya dengan mudah terbawa ucapannya.


"Mawar, jangan pernah putus berdoa. Yakinlah, suatu saat semuanya akan menemui titik terang." Mama Firda mengusap tangan Mawar pelan, sambil tersenyum hangat.


"Betul apa yang dikatakan mama, Mawar. Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini, jika Allah telah berkehendak."


Mawar menitikkan air mata, ia merasa sangat terharu karena majikannya sangat baik kepadanya.


**

__ADS_1


Hari berikutnya, Luqman akan berangkat keluar kota. Untuk mengisi tausiyah di sebuah acara pengajian Akbar yang di gelar di kota itu.


Setelah memastikan seluruh perlengkapannya tidak ada yang tertinggal, ia menjinjing tasnya keluar sambil mencari keberadaan mamanya.


Pria itu menemukan mamanya tengah duduk di ruang tamu. Ya, setiap kali Luqman akan pergi, pasti mama Firda sudah duduk di ruang tamu, untuk menyaksikan kepergiannya.


"Ma, Luqman pamit dulu ya. Do'akan yang terbaik untukku."


"Tentu saja, Luqman. Mama tidak akan pernah berhenti mendoakan untuk kebaikan mu."


Setelah itu, Luqman mencium punggung tangan mamanya dengan takzim. Wanita yang ada di hadapannya, mengusap kepalanya penuh kelembutan.


Keduanya pun berjalan keluar. Mawar yang melihat Luqman sudah membawa tasnya keluar rumah, segera berlari kecil menghampirinya.


"Mas Luqman, hati-hati ya. Semoga urusannya dimudahkan Allah."


"Iya, Mawar. Terima kasih do'anya. Aku titip mama, tolong jaga dia baik-baik."


"Tentu Mawar akan menjaga Tante Firda sebaik mungkin. Karena tidak ada majikan sebaik Tante Firda di dunia ini."


"Assalamu'alaikum." Luqman mengulas senyum sambil menatap ke arah mama dan pembantunya. Lalu ia berjalan masuk ke mobilnya.


Mama dan Mawar membalas salam itu, sambil melambaikan tangan ke arah Luqman.


Tak lama kemudian, pria itu melajukan mobilnya keluar melewati gerbang rumah. Mawar segera berlari kecil dan menutup pintu gerbangnya lagi.


"Tante, mas Luqman itu mah pergi kemana sih? Apa ngga capek, kemana-mana selalu membawa mobil sendiri?"


"Dia mau keluar kota. Benar apa yang kamu bilang. Tapi katanya ia lebih suka mengendarai mobil sendiri. Jadi, mama tidak bisa berbuat apa-apa."


"Huh, anak ngeyel. Kalau nanti pulang, biar Mawar kasih tahu untuk memperkerjakan seorang supir. Biar dia bisa istirahat dengan nyaman selama dalam perjalanan. Kalau mas Luqman sakit, Mawar juga yang repot." Seperti biasa, mama Firda akan tersenyum mendengar celotehan gadis dihadapannya.


"Mawar, Mawar, kamu sudah mengalahkan Tante saja cerewetnya."

__ADS_1


__ADS_2