Mawar Liar Untuk Luqman

Mawar Liar Untuk Luqman
52. Benang kusut cinta


__ADS_3

"Iya, itu memang Farida." Gumam Luqman sekali lagi, setelah memandang dengan seksama gadis yang sedang terisak di sampingnya.


Ketika melihat Farida seperti itu, Luqman juga merasa tidak tega. Tapi mau bagaimana lagi, menikah adalah ibadah terlama. Ia tidak mau salah langkah, dan takut dzolim terhadap istri, karena tidak bisa membahagiakannya.


Luqman menghirup nafas dalam-dalam, lalu bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Farida.


"Farida." Luqman memanggil gadis di hadapannya sambil menatapnya.


Terlihat Farida sedang sibuk menghapus air matanya dengan ujung jilbabnya. Setelah memastikan tidak ada sisa air mata, barulah ia mendongakkan kepalanya, menatap Luqman.


"Ada apa, mas?" Walaupun sedih dan nada suaranya terlihat berbeda, Farida tetap berpura-pura tegar di hadapan orang yang dicintainya.


"Maafkan aku, sudah menyakiti hatimu. Tapi lebih baik sakit sekarang, daripada ke depannya sakit hati karena rumah tangga kita tidak bahagia."


Sekuat tenaga Farida menahan air matanya, tetap saja tidak dapat di bendung. Air matanya kembali luruh.


"A-apa keputusanmu sudah bulat?" Tanya Farida di sela-sela isak tangisnya.

__ADS_1


"Seperti apa yang aku katakan tadi Farida. Aku mohon, kamu mengertilah."


"Pasti ada seseorang yang diam-diam sudah mengisi hatimu, mas."


"Belum." Luqman menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak mungkin!" Farida berkata dengan lantang.


"Aku serius, Farida. Aku mengatakan yang sebenarnya."


"Bohong."


"Mungkin untuk sekarang kamu belum menyadarinya, tapi aku bisa melihatnya. Kamu memperlakukan pembantu mu dengan cara yang berbeda dari yang lainnya."


"Pembantu? Mawar maksud kamu?" Luqman menaikkan sebelah sudut bibirnya.


"Iya lah. Siapa lagi?" Balas Farida cukup sengit.

__ADS_1


Luqman pun mengulas senyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa kamu bisa berkata seperti itu?"


"Mana ada pembantu yang berkata seenaknya sendiri seperti dia. Memiliki handphone yang bagus, bajunya juga bagus-bagus. Bahkan mas Luqman menjadikannya seorang model untuk foto produk. Apa mas Luqman tidak takut, jika mantan pelanggannya mengenalinya dan mencibir produk mas Luqman. Trus akhirnya bisa menjatuhkan nama baik perusahaan mas Luqman? Ingat, mempertahankan nama itu sangat sulit." Farida berkata dengan berapi-api.


Luqman menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menghirup nafas. Kali ini ia memang membutuhkan banyak tenaga dan pikiran yang sehat, untuk menghadapi hal yang tidak pernah terpikirkan sama sekali dalam hidupnya.


"Farida, harusnya kita memaklumi setiap perbuatan yang dilakukan Mawar. Karena selama ini dia hidup tanpa pengawasan orang tua, dan sekarang ia sedang berusaha berubah. Menata hidupnya menjadi lebih baik. Aku dan mama tidak terlalu menekannya, agar ia tidak terlalu tertekan. Kami mengarahkannya pelan-pelan. Dan sejauh ini dia mengalami perubahan yang signifikan dan begitu cepat. Kami sangat bangga dengannya. Jika aku dan mama berada di posisinya, belum tentu bisa sekuat dia."


"Hem, terbukti. Kamu dan Tante Firda, memang menyukainya. Karena setiap untaian kata-katamu, sangat memujinya."


"Ya Allah, Farida. Aku bingung harus menjelaskan bagaimana padamu."


"Tidak perlu menjelaskannya lagi padaku. Aku sudah tahu, jika mas Luqman menaruh rasa pada Mawar. Mungkin sebentar lagi kamu juga akan menyatakan perasaanmu padanya."


Farida membuang nafas kasar, lalu beranjak pergi meninggalkan Luqman begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah kata pamitan.

__ADS_1


Luqman yang melihatnya mengernyitkan dahi sambil menggelengkan kepalanya. Baru kali ini ia di buat bingung dengan tingkah orang-orang disekitarnya.


"Ternyata urusan cinta itu begitu rumit. Melebihi rumitnya benang kusut.


__ADS_2