
Nyonya Anita tak sabar menunggu hasil tes DNA, yang keluar pada hari ini.
Setelah suaminya berangkat kerja, dia pun bergegas berangkat ke rumah sakit. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Tempat yang dituju pertama kali setelah sampai di rumah sakit adalah ruang dokter. Team medis itu menyapa dan menyambutnya dengan senyum hangat, lalu mempersilahkannya masuk.
Keduanya berbicara langsung pada intinya. Dokter mengeluarkan amplop putih dari balik laci meja. Lalu menyerahkannya pada Nyonya Anita.
Dengan tangan yang bergetar, wanita itu menerimanya. Ia menatap sejenak sebelum membuka.
Setelah menghirup nafas dalam-dalam, ia perlahan membuka amplop itu. Bulir bening menetes melewati pipinya yang putih.
"I-ini beneran kan, Dok? Seratus persen akurat?" Dengan terbata, nyonya Anita bertanya. Dokter pun menganggukkan kepalanya cepat sambil mengulas senyum.
"Sejauh ini tes DNA dengan menggunakan sample darah, belum pernah memberikan hasil yang salah Nyonya."
Firasat seorang wanita atau seorang ibu memang tidak pernah salah. Nyonya Anita mendekap kertas yang ada dalam genggamannya erat dan mulai menangis tersedu.
Untuk sesaat Dokter membiarkan wanita yang ada dihadapannya, larut dalam perasaannya yang haru.
"Dokter, bolehkah saya minta tolong satu hal lagi pada Anda?" Dengan dahi yang berkerut, pria berjas putih menganggukkan kepalanya.
"Apa itu Nyonya?"
"Tolong kabari suami saya, jika saya tengah berada di rumah sakit. Dan tolong suruh dia ke sini secepatnya." Nyonya Anita menyodorkan handphonenya pada Dokter. Pria itu menerimanya dan menempelkan benda pipih ke telinganya.
"Hallo, selamat pagi." Sapa Dokter, ketika panggilan sudah terhubung.
"Selamat pagi. Ini siapa? Kenapa memakai handphone istri saya?" Suara dari seberang terdengar penuh tanya. Karena ia pikir yang menghubunginya adalah istrinya, tapi ternyata adalah seorang laki-laki. Pikirannya sudah mulai tidak tenang.
"Saya adalah Dokter Himawan dari rumah sakit Medika Cipta. Ingin mengabarkan bahwa, istri anda sekarang berada di rumah sakit. Tolong Anda segera datang kesini."
"Apa! Is-istri saya ada di rumah sakit? Sakit apa dia, Dok?"
"Mohon bapak untuk tenang. Setelah Anda sampai di rumah sakit, kami akan menjelaskannya."
"Baiklah, Dok. Saya akan segera kesana. Tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya."
__ADS_1
"Tentu, Pak. Semua akan baik-baik saja. Anda jangan mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Kontrol emosi Anda."
"Baik, Dok. Saya akan berusaha melakukan hal itu, terima kasih nasehatnya."
Panggilan pun berakhir. Pak Andreas segera menghubungi sopirnya untuk bersiap menuju rumah sakit.
Tak lama kemudian, ia sudah berada di lobi perusahaan. Sopirnya yang berada di dalam mobil, sudah siap dan menunggunya.
Pak Andreas pun bergegas masuk dan menyuruh sopirnya melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit tempat istrinya berada.
Sepanjang perjalanan, ia menerka-nerka apa yang tengah terjadi pada istrinya. Karena pagi tadi saat ia berpamitan ke perusahaan, wanita itu terlihat baik-baik saja.
Ia mencoba menghubungi istrinya, untuk membuktikan kebenaran berita itu. Tapi hal itu percuma saja, karena tidak ada satu pun panggilannya yang di angkat.
**
Sementara itu di rumah sakit. Setelah selesai menghubungi suaminya, nyonya Anita pergi ke kamar perawatan Mawar.
Ia melihat hanya Luqman dan mamanya yang menyambutnya dengan senyum hangat. Sedangkan Mawar masih memejamkan matanya.
Pasangan ibu dan anak itu tidak menyangka, jika korban kecelakaan itu begitu memiliki hati yang sangat baik. Di saat kebanyakan dari mereka hanya menuntut ganti rugi, Nyonya Anita justru menjenguk Mawar setiap hari. Bahkan ia selalu membawakan buah tangan setiap kali berkunjung.
"Dia lebih dari seorang asisten rumah tangga di mata saya." Tegas nyonya Anita, sambil menatap wajah cantik Mawar dengan lekat.
Meskipun heran dan ingin sekali bertanya, apa maksud perkataan Nyonya Anita tadi, tapi mama Firda dan Luqman menahan keinginannya.
Mereka hanya bercakap-cakap sebagaimana biasanya.
**
Sementara itu di lantai bawah, dengan tergopoh-gopoh pak Andreas menyusuri koridor rumah sakit. Ia kembali menghubungi nomor istrinya, tapi hasilnya tetap nihil. Ia menghirup nafas panjang, dan berusaha berpikir positif.
"Sebaiknya, aku menuju ruang informasi." Gumamnya menginstruksi diri sendiri.
Pak Andreas di ikuti sopirnya melangkahkan kakinya menuju meja resepsionis. Pria itu meminta petunjuk informasi dari wanita yang berseragam hijau muda.
"Suster, apa ada pasien yang bernama Anita Wijaya yang di rawat di rumah sakit ini?"
__ADS_1
"Sebentar ya pak, saya cek dulu." Pandangan wanita itu beralih dari pak Andreas ke layar monitor, dan mengamatinya dengan seksama. Sedangkan pria dihadapannya perasaannya sudah tidak menentu.
"Menurut data ini, tidak ada pasien yang bernama Anita Wijaya, Pak." Setelah sekian menit berlalu, akhirnya wanita itu buka suara.
"Tidak ada?" Pak Andreas tampak terkejut sekaligus syok.
"Kalau dokter Himawan ada?"
"Ada pak."
"Apa hari ini beliau masuk kerja? Di mana ruangannya? Saya ingin bertemu dengannya. Sepertinya ada hubungannya dokter itu dengan istri saya. Karena tadi dia menghubungi saya dengan menggunakan handphone istri saya, dan bahkan menyuruh saya untuk kesini segera." Pak Andreas menjelaskan semuanya yang terjadi.
Perawat pun bisa menangkap bahwa lawan bicaranya sedang tidak berbohong. Lalu memberikan petunjuk dimana ruang kerja Dokter Himawan.
Pak Andreas mengucapkan terima kasih, dan berlalu pergi dari tempatnya berdiri.
Sesampainya di ruangan yang dituju, ia menghirup nafas dalam-dalam. Tangannya memegang handle pintu, tapi pintu itu sudah terbuka duluan.
"Dokter, apa yang terjadi dengan istri saya?" Pak Andreas langsung menodong team medis itu dengan pertanyaan.
"Anda suami dari Nyonya Anita?" Tebak Dokter.
"Iya, Dok. Tolong jelaskan, apa yang sudah terjadi dengan istri saya."
"Bapak tenang dulu. Semua tidak seperti apa yang Anda pikirkan. Silahkan masuk, kita bicarakan di dalam." Dokter itu memundurkan badannya, untuk memberi ruang pada pak Andreas, agar ia bisa masuk.
Setelah kedua pria itu duduk saling berhadapan, sang dokter menjelaskan semuanya pada pak Andreas. Tak lupa menyodorkan hasil tes DNA sebagai bukti.
"Ga-gadis itu anak saya?" Dengan gagap pak Andreas berkata.
"Iya Pak."
Untuk sesaat pak Andreas terdiam. Ia mengingat ketika masih di rawat di rumah sakit, istrinya begitu ngotot ingin bertemu dengan Mawar.
Setelah pulang dari rumah sakit, setiap ingin membahas gadis itu, ia selalu mengalihkan pembicaraan, dan cenderung menghindari. Karena takut membuat hatinya terluka.
Di tengah pikirannya yang berkelana tentang kejadian beberapa hari lalu, satu pertanyaan muncul di benaknya.
__ADS_1
'Apa yang telah dilakukan Anita di belakang ku, selama beberapa hari ini?'