Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Sepucuk Surat Perpisahan


__ADS_3

"Apa yang ingin kamu bicarakan, sayang."


Bryan duduk disamping istrinya.


"Aku ingin kita berpisah."


Deg!


Dunia rasanya berhenti berputar, jantung Bryan rasanya tak lagi berdetak dan bumi tempatnya berpijak seolah-olah melahapnya hidup-hidup.


"Sayang, jangan bercanda."


"Aku serius. Dulu kan aku sudah pernah bilang akan berpisah jika anak-anak ini lahir."


"Iya sayang, aku tahu. Dulu kasusnya karena aku memilih Eliza namun kini hatiku sudah yakin memilihmu."


"Kamu pikir aku barang yang bisa kamu lepas dan ambil kembali?"


"Sayang, ku mohon maafkan aku."


"Aku janji tidak akan pernah bermain api lagi dibelakangmu."


Bryan mengangkat tangannya membentuk huruf "V".


"Maafkan aku, Aluna."


"Aku sudah memaafkanmu namun untuk kembali rasanya tidak mungkin. Hatiku masih sakit jika ingat dulu kamu memeluk erat tubuh wanita lain dan ternyata dihatimu masih ada Eliza bukan aku."


"Selain itu, kamu juga terlalu sibuk dengan proyek yang diberikan oleh kekasihmu sampai lupa pulang dan melupakan istrimu. Kamu tahu mas betapa sulitnya aku menjalani masa kehamilan di trimester pertama. Setiap pagi muntah-muntah, badanku lemah belum lagi aku sering merasa kesepian di rumah besar itu."


Aluna menahan air matanya agar tak jatuh.


"Sayang."


"Mas, kita berpisah demi kebaikan semua. Aku takut akan ada Eliza lain diluaran sana yang mencintaimu diam-diam, serta berencana mencelakaiku dan anak-anak kita."


"Tidak akan ada Eliza lain, sayang."


"Hanya ada kamu dihatiku. Ku mohon, maafkan aku."


"Mas, tolong mengerti-lah dengan keadaanku."


"Tidak Aluna, sampai kapanpun kita tidak akan pernah berpisah!"


"Selamanya kamu hanya milikku seorang."


Bryan mencengkram pipi Aluna dan menekannya dengan sangat keras membuat gadis itu meringis kesakitan.


"INGAT ALUNA, AKU TIDAK AKAN PERNAH MENCERAIKANMU!"


"Mas sakit!"

__ADS_1


"Maaf."


Bryan melepaskan cengkramannya saat melihat gadis yang ia cintai meringis kesakitan, kemudian ia pergi meninggalkan Aluna sendirian. Gadis itu masih merasakan sakit di area pipinya akibat cengkraman tangan suaminya.


Bryan membanting pintu dengan keras membuat dua pengawal yang berjaga terperanjat dari kursinya.


"KALIAN JAGA ISTRIKU, JANGAN BIARKAN ADA ORANG LAIN MASUK!" Ucap Bryan penuh emosi.


"Siap tuan."


Bryan menyisir rambut dengan kasar, ia tampak begitu frustasi. Pria itu mengira semua akan berakhir bahagia namun ternyata dugaannya salah. Bryan menemui Rudy di kantin rumah sakit, sahabatnya itu sedang mengisi perut karena jam sudah menunjukan waktunya makan siang.


Suasana kantin siang itu cukup ramai, banyak pengunjung rumah sakit dan para tenaga medis berkumpul disana untuk mengisi perut sebelum bertugas kembali menolong pasien yang membutuhkan pertolongan.


"Mana kunci mobil." Ucap Bryan tiba-tiba.


"Anda mau kemana tuan, biar saya antar."


"Tidak perlu, kamu lanjutkan saja makannya."


"Sudah, mana kunci mobil."


Dengan ragu Rudy memberikan kunci mobil kepada atasannya.


"Kamu jaga istriku jangan sampai Rendra menemui Aluna. Jika Rossa datang, awasi mereka." Titah Bryan sebelum meninggalkan kawasan rumah sakit.


"Baik tuan."


"Kamu selamanya milikku Aluna Alexander. Hari ini, esok dan seterusnya hanya milikku seorang. Aluna hanya milik Bryan Smith!" Teriak Bryan.


Tangannya memukul stir mobil, ia berteriak dan meracau tak karuan.


"Dulu aku bodoh karena membiarkanmu pergi bersama Rendra namun kali ini tak akan ku biarkan pria itu merebut apa yang sudah menjadi milikku."


Bryan semakin menambah kecepatan mobilnya. Ia tidak ingin terlalu lama meninggalkan istrinya sendirian dirumah sakit.


Aluna mengirimkan pesan singkat kepada Rendra.


Aluna


Kak Ren, Mas Bryan tidak membiarkanku pergi maka bersiaplah untuk kabur bersama.


Kemudian ia mengirimkan pesan singkat tersebut kepada Rendra.


Tring!


Terlihat nama pengirim di notifikasi pesan singkat.


"Aluna." Gumam Rendra.


Penasaran, pria itu membuka pesan itu.

__ADS_1


^^^Rendra^^^


^^^Kamu jangan gila, Luna. Jika kabur maka aku akan menyusul Eliza dan tak bisa menikahimu. 🤣^^^


Aluna


Kak Rendra jangan bercanda. 😏


^^^Rendra^^^


^^^Lantas rencanamu selanjutnya apa?^^^


Aluna


Kita kabur bersama, kemudian aku akan mengurus surat perpisahan setelah melahirkan nanti. Tolong kakak bantu aku agar Mas Bryan tidak bisa menemukanku. Aku hanya ingin hidup damai dan bahagia hanya dengan kedua anak-anaku. Ku mohon. 😞


^^^Rendra^^^


^^^"Oke, aku akan meminta Bi Sumi mengemas semua barangmu. Bersiap-lah, setengah jam lagi kita akan berangkat dengan jet pribadi milik orang tuaku.^^^


Aluna


Oke!


Hufh!


Aluna menghembuskan napas secara kasar.


Tidak memiliki banyak waktu, ia meminta seorang perawat membawakan pena dan secarik kertas kemudian menuliskan sepucuk surat untuk suaminya.


Teruntuk Mas Bryan tercinta


Maafkan aku, karena harus pergi tanpa izin darimu. Sebenarnya hatiku berat berpisah denganmu tapi ini adalah jalan terbaik untuk kita. Aku tidak mau mengorbankan nyawa anak-anak kita jika terus berada disampingmu. Terima kasih karena sudah memberikan cinta dan kasih sayang kepadaku walaupun kenyataannya cinta dan kasih sayangmu semuanya semu.


Selamat tinggal...


Setelah menuliskan sepucuk surat untuk suaminya, Aluna mencopot selang infus dan menjalankan rencananya. Ia mengganti pakaiannya dengan pakaian baru, mengenakan kacamata dan selendang menutupi kepala. Gadis itu mendapatkan semua perlengkapan menyamar dari Rendra, pria itu menitipkan tas kecil kepada seorang perawat saat ia hendak melakukan pemeriksaan kepada Aluna.


Aluna langsung keluar kamar, ia clengak clinguk melihat keadaan sekitar. Setelah dirasa aman, ia langsung kabur lewat pintu darurat, menuruni tangga. Satu lantai sudah Aluna lewati dengan susah payah kemudian ia menggunakan lift yang membawa tubuhnya turun ke lobi rumah sakit. Gadis itu sengaja menggunakan lift setelah menuruni satu lantai rumah sakit agar tidak ada orang curiga bahwa ia sedang melarikan diri.


Di parkiran, Rendra ditemani Oky dan Bi Sumi sudah menunggu di dalam mobil. Mereka tampak cemas karena Aluna tak kunjung menampakan batang hidungnya. Satu menit kemudian, gadis itu muncul dengan tergesa-gesa ia masuk ke dalam mobil. Kondisi fisik masih lemah membuat wajah Aluna pucat, Rendra langsung memberikan pertolongan kepada gadis itu.


Ia memberikan cairan infus lagi untuk gadis itu, menyediakan ruang agar Aluna bisa beristirahat.


"Kamu istirahat dulu, setelah sampai di landasan jet pribadi akan ku bangunkan." Ucap Rendra setelah merapikan kembali peralatan medisnya ke dalam sebuah kotak putih yang sengaja ia bawa agar sewaktu-waktu bisa digunakan jika Aluna membutuhkan pertolongan pertama.


"Iya kak, aku lelah sekali."


Perlahan-lahan gadis itu menutup matanya dan pergi ke alam mimpi. Sejenak ia melupakan semua masalah yang menimpa dirinya.


to be continued....

__ADS_1


__ADS_2