
Happy reading 🍂
Ting tong
Suara bel pintu kamar resort tempat Aluna dan Bryan berbunyi. Kini jam menunjukan pukul sembilan waktu setempat namun kedua pasangan suami-istri masih terlelap setelah melakukan kegiatan panas yang menjadi rutinitas wajib bagi mereka.
Ting tong
Aluna mengerjapkan mata berkali-kali, mimpi indahnya terganggu akibat suara bel pintu yang nyaring. Sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya, tak membiarkannya menjauh walau hanya satu centi pun.
Aluna menjauhkan tangan itu dan berencana untuk membuka pintu namun Bryan enggan melepaskan.
"Mas, sepertinya ada seseorang diluar sana yang menekan bel."
"Biarkan saja, paling para pengawal."
"Sudah, kamu tidur lagi agar staminamu kembali fit."
Ting tong
"Bagaimana mungkin aku bisa tidur lagi, sementara bunyi bel tidak berhenti."
"Ayo-lah mas, buka pintunya."
Aluna menggunakan cara terakhir agar Bryan mau membuka pintu.
Cup
Satu buah kecupan singkat Aluna daratkan di bibir suaminya.
"Tolong buka-in ya." Aluna berusaha merayu agar Bryan mau membukakan pintu.
Setelah gadis itu mencium bibir Bryan, pria itu segera bangkit, menyambar celana boxer yang tergeletak dilantai dan memakainya. Dengan langkah gontai, dia menuju pintu dan membukanya.
Ceklek
"Selamat pagi tuan, maaf sudah mengganggu. Saya ingin mengantarkan sarapan." Ucap pelayan yang bertugas mengantarkan sarapan ke kamar Bryan.
"Ya, terima kasih." Ucap Bryan singkat.
"Kalau begitu, saya permisi dulu tuan." Pelayan itu meninggalkan kamar.
"Hu'um." Masih dengan jawaban singkat dan sikap dingin.
"Kalian berdua cicipi makanan ini. Pastikan makanan ini aman untuk dikonsumsi dan tidak membahayakan nyawa istriku." Perintah Bryan kepada kedua pengawal yang berjaga di depan kamar.
Jadi setelah resepsi pernikahan besar-besaran, Reymond memberlakukan aturan baru untuk keselamatan Aluna yaitu sebelum gadis itu makan maka para pengawal atau pelayan harus mencicipi makanan terlebih dahulu. Reymond tidak ingin ambil resiko, jika sampai terjadi sesuatu kepada Aluna maka ia akan merasa bersalah karena sudah ingkar janji terhadap mendiang Alexander, papa Aluna.
"Aman, tuan."
***
Sementara itu, Aluna susah payah bangkit dari kasur menuju kamar mandi. Berpegangan pada beberapa benda agar tubuhnya tidak limbung. Tubuhnya terasa remuk akibat ulah Bryan. Aluna mendengus kesal jika ingat kejadian kemarin, Bryan benar-benar seperti orang gila jika sudah mencumbunya.
"Ish, badanku sakit semua." Aluna mendesis merasakan bagian in*timnya terasa perih.
Tiba-tiba tubuh Aluna melayang di udara, sebuah tangan kekar membopong tubuh mungilnya menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Ah."
Aluna memekik karena tiba-tiba saja tubuhnya terangkat sendiri.
"Mas Bryan, kamu mengagetkan ku saja!"
Teriak Aluna ketika tahu siapa yang membopong tubuhnya.
"Memang kamu pikir siapa?" Tanya Bryan.
"Kamu berharap para pengawal yang mengangkatmu, hah?" Bryan menunjukan sikap cemburu.
Aluna tidak tahan melihat wajah cemburu suaminya.
"Ha-ha-ha. Lihat wajahmu, mas. Lucu sekali jika sedang cemburu." Aluna menggoda suaminya.
"Aku tidak cemburu. Dalam kamus Bryan, tidak ada kata c-e-m-b-u-r-u. Mengerti kamu?" Bryan kesal karena Aluna menggodanya. Seumur hidup ia tidak pernah merasakan cemburu kepada seseorang dan baru kali ini ia cemburu.
"Baik, kalau kamu tidak cemburu nanti aku akan meminta mereka menggendongku."
"Coba saja kalau kamu berani!" Bryan memalingkan wajah.
"Aku akan memakanmu selama 3 jam nanti malam!"
"Apa?"
"Jangan gila deh kamu, mas. Aku bisa pingsan kalau bermain selama itu." Aluna mengerucutkan bibir dan membuat Bryan tidak tahan ingin menciumnya.
Cup
"Mas, kamu..." Aluna mencubit hidung suaminya namun ia bergeming.
"Ih kamu, menyebalkan sekali."
Bryan mendudukan Aluna di atas closet dengan hati-hati.
"Kamu butuh bantuan untuk membersihkan tubuhmu?"
"Tidak perlu mas, aku bisa melakukannya sendiri."
"Yakin?"
"Sangat yakin."
Bryan masih berdiri memandangi istrinya.
"Kenapa kamu masih berdiri disitu, cepat keluar." Aluna menarik tangan Bryan agar meninggalkan kamar mandi.
"Aku ingin melihat kamu mandi, memangnya tidak boleh?"
"Oh astaga. Tidak bisa begitu dong mas. Aku tidak leluasa jika ada sepasang mata mesum memperhatikan gerak gerik ku ketika sedang mandi."
Bryan melotot mendengar istrinya menyebut dirinya "mesum".
"Siapa yang mesum?" Tanya Bryan kesal.
"Kamu, siapa lagi." Aluna melipat kedua tangan ke dada.
__ADS_1
"Kamu...."
"Mas, please biarkan aku menikmati ritual mandi pagiku dengan tenang. Aku hanya ingin merileks kan tubuh akibat kelakukan nakalmu kemarin. Apakah kamu tidak kasihan kepada ku?"
Kali ini, Aluna berkata dengan nada serius. Tidak ada gurauan dari tiap kalimat yang terucap.
"Sepertinya aku sudah keterlaluan." Gumam Bryan dalam hati.
"Oke, aku akan meninggalkanmu sendirian disini tapi jika butuh bantuan apa-apa panggil saja. Aku menunggumu diluar."
Bryan tidak tega melihat istrinya memohon seperti itu dengan terpaksa dia mengalah dan meninggalkan Aluna sendirian di kamar mandi.
Aluna menyalakan keran shower dan memulai ritual mandi pagi selama kurang lebih tiga puluh menit.
Diruang tamu, Bryan sedang sibuk menonton televisi sambil menikmati secangkit teh manis hangat buatannya sendiri. Biasanya Aluna yang membuatkan minuman kesukaannya hanya saja untuk hari ini Bryan menolak tawaran istrinya karena ia tahu saat ini istrinya kelelahan.
"Hem, berita tentang resepsi pernikahanku masih hangat diperbincangkan. Aku harus meminta Rudy menyembunyikan identitas istriku."
Bryan mengambil ponselnya diatas meja dan mencari nomor Rudy, asistennya.
Tut tut
Sambungan telpon terhubung.
Rudy
📞 "Halo tuan, ada yang bisa saya bantu?"
Bryan
📞 "Halo Rud, aku minta tolong blockir semua informasi tentang istriku di internet jangan sampai orang lain bisa mengakses."
Rudy
📞 "Baik tuan, segera laksanakan."
Bryan
📞 "Terima kasih."
Bryan langsung mematikan sambungan telpon secara sepihak padahal Rudy masih ingin berbicara membahas suatu hal penting dengan boss nya.
"Hufh, selalu saja mematikan telpon secara sepihak padahal aku masih ingin menyampaikan suatu hal penting kepadanya tentang keberadaan Eliza."
Rudy menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.
"Lebih baik aku tidak menyampaikan berita ini kepada tuan. Aku takut akan merusak hubungan yang baru saja terjalin antara tuan dan nyonya muda."
Rudy memijat pelipis akibat pening membayangkan hal buruk akan terjadi jika Bryan mengetahui saat ini Eliza sudah ada di tanah air.
Tiga puluh menit berlalu, kini Aluna sedang bersiap-siap untuk sarapan. Memang sudah terlambat dari jadwal sarapan yang dianjurkan menurut para ahli yaitu dibawah jam 9 pagi.
Brug
"Ah! Segarnya tubuhku setelah mandi." Aluna menjatuhkan tubuhnya di sofa tepat disamping Bryan yang sedang menonton televisi.
"Hati-hati, kamu bisa mencelakai calon anak kita jika bersikap sembrono begitu." Bryan memperingatkan Aluna.
__ADS_1
to be continued