
Happy reading. 🍂
"Dasar bodoh! Apa kalian sudah bosan hidup?" Bentak Bryan kepada kedua pengawal.
Pengawal A dan pengawal B hanya tertunduk, tidak berani mengangkat kepala karena mereka tahu kesalahan apa yang sudah diperbuat sehingga menyebabkan Bryan marah.
Aluna kaget melihat kemarahan Bryan, ia mematung tak bergerak sama sekali. Akibat kecerobohannya, kedua pengawal yang tak berdosa kena marah Bryan.
"Kalian tidak becus menjaga istriku!"
"Hanya seperti ini saja om Bagas melatih kalian?"
Bryan masih membentak kedua pengawal yang berdiri dihadapannya.
Suasana menjadi panas, mengalahkan terik matahari yang membakar kulit.
"Mas, mereka tidak salah. Aku mohon jangan marahi mereka lagi."
"Kenapa kalian tidak menjaga istriku dengan baik?"
"Mas Bryan, aku mohon hentikan."
Bryan bergeming, ia masih saja meluapkan emosi kepada kedua pengawal. Aluna merasa bersalah karena kesalahannya, kedua pengawal tersebut kena imbasnya.
Aluna memberanikan diri, menahan rasa takut yang menghampiri. Dia mengepalkan tangan dan maju dua langkah kedepan, mensejajarkan posisi agar mereka bisa berdekatan.
Cup
Aluna mencium bibir Bryan, menahan tengkuk suaminya dan memaksa Bryan agar membuka mulut. Ia melu*mat bibir Bryan dengan rakus. Sementara Bryan membelalakan mata, tak menyangka akan mendapatkan ciuman panas dadakan dari istrinya.
"Persetan dengan harga diri, yang terpenting bagiku saat ini mas Bryan tidak marah lagi dan kami bisa menikmati liburan dengan tenang." Ucap Aluna dalam hati.
Awalnya Bryan tidak membalas ciuman itu tapi lama kelamaan ia menikmatinya dan mengimbangi permainan sang istri.
Melihat Aluna hampir kehabisan napas, Bryan segera menghentikan ciumannya.
"Kamu sudah berani menciumku di depan umum?" Bryan mencoba menggoda istrinya.
"Tidak ada cara lain untuk meredam emosimu, mas. Aku takut melihatmu marah." Aluna menundukan wajah dan tak terasa cairan bening meluncur dari kedua matanya.
"Hei, kamu kenapa menangis?" Bryan panik dengan perubahan sikap Aluna.
"A-aku takut melihat kamu marah. Kamu seperti bukan Bryan yang ku kenal jika sedang marah." Aluna tak berani menatap manik biru milik suaminya.
__ADS_1
Bryan menyentuh wajah Aluna dan menghapus cairan bening itu dengan jari telunjuk.
"Maafkan aku, sayang. Aku tidak bermaksud menakutimu hanya saja, aku tidak suka jika mereka tak menjalankan tugas dengan baik."
"Coba kalau kamu terjatuh, bagaimana dengan calon anak kita?" Raut wajah Bryan berubah.
"Hah! Calon anak dari mana, baru saja di isi tidak mungkin secepat itu langsung jadi." Gumam Aluna.
"Tapi buktinya aku baik-baik saja, kan."
Aluna mengusap wajah suaminya lembut.
"Hem, tetap saja aku tidak ingin kamu sampai terluka." Bryan masih tetap dengan pendiriannya.
"Baik-lah, mulai hari ini aku akan berhati-hati. Aku janji."
"Jadi, jangan marah lagi ya." Senyum simpul terukir di bibir Aluna.
"Oke, asal kamu berjanji tidak mengulanginya lagi."
"Janji."
Aluna mengangkat jari kelingking kehadapan Bryan dan meminta suaminya menautkan kelingking mereka satu sama lain.
Kedua pengawal tadi bernapas lega karena saat ini emosi Bryan sudah mereda. Mereka tidak mengira bahwa Bryan akan semarah tadi hanya karena hal sepele.
"Oh astaga, tuan Bryan sungguh menakutkan jika sedang marah." Gumam pengawal A dalam hati.
"Nyaris saja, nyawaku melayang." Gumam pengawal B dalam hati.
"Ayo kita masuk, aku sudah tidak sabar ingin berkeliling." Ucap Aluna sambil menarik tangan Bryan.
***
Sementara ditempat lain, seorang gadis muda berusia dua puluh lima tahun dengan perawakan layaknya seorang model dengan tinggi 170 cm, berkulit kuning langsat, rambut panjang hitam dan berbody bak gitar spanyol baru saja menapaki kakinya di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta di terminal 3 kedatangan internasional.
Ia ditemani asisten pribadinya berjalan menyusuri bangunan luas bandara menuju lobi untuk menunggu jemputan.
"Nona Eliza, apakah anda yakin kembali ke negara ini? Tanya asisten pribadi Eliza bernama Maura.
"Sangat yakin!"
"Sudah cukup aku bersembunyi selama ini dibalik bayang-bayang pria tua breng*sek yang telah menghancurkan keluargaku, kini saatnya aku balas dendam." Sorot mata Eliza penuh dendam.
__ADS_1
"Lantas bagaimana cara anda membalaskan dendam?"
"Lewat Bryan." Jawab Eliza yakin.
"Bukan kah saat ini tuan muda keluarga Smith sudah menikah?"
"Aku akan menghancurkan pernikahan mereka seperti si tua breng*sek itu menghancurkan keluargaku."
Tin tin tin
Suara klakson mobil menghentikan percakapan mereka, Maura membuka pintu mobil untuk Eliza.
"Selamat sore Nona Eliza." Sapa supir taxi online.
"Selamat sore, kita ke apartement xxx di Jl. xxx pak."
Kemudian supir taxi online itu melajukan kendaraannya ke alamat yang disebutkan Eliza.
"Nona Eliza, apa anda akan langsung melancarkan serangan balas dendam kepada keluarga mereka?" Tanya Maura setengah berbisik, ia tidak ingin pembicaraannya didengar oleh supir taxi apalagi mengetahui bahwa yang dibicarakan adalah orang yang sangat berpengaruh terhadap dunia bisnis di Indonesia.
"Setahu saya, saat ini tuan muda sedang berbulan madu kemungkinan dua atau tiga hari lagi baru kembali ke Jakarta."
Eliza merem*as jemari lentiknya mendengar informasi yang disampaikan asistennya, Maura.
"Seharusnya saat ini aku yang menjadi Nyonya Muda Bryan Smith bukan gadis itu. Kalau saja bukan karena pria tua itu mengancam keluargaku, mungkin aku sudah berbahagia membina rumah tangga dengan Bryan. Lelaki yang sangat aku cintai." Ucap Eliza di dalam hati.
"Kita tunggu saja sampai mereka kembali ke Jakarta, kemudian mulai dengan rencana awal."
"Baik nona."
Eliza menatap keluar jendela, memperhatikan lalu lintas di jalanan.
"Masih seperti dulu, tidak jauh berbeda saat aku meninggalkan negara ini."
Kenangan masa lalu saat ia masih tinggal di Indonesia, terlintas di bayangan Eliza. Ada rasa sakit jika mengingat bagaimana ia harus meninggalkan negara ini dengan terpaksa. Meninggalkan keluarga yang sangat ia sayangi dan meninggalkan pria yang begitu dicintai. Menorehkan luka mendalam dan sulit diobati. Hanya balas dendam cara satu-satunya agar ia merasa puas.
"Kalian tunggu saja pembalasan dendamku, ku pastikan akan menyesal." Eliza sudah bulat dengan tekadnya.
Maura melirik ke arah Eliza, ia bisa merasakan bagaimana sakit hatinya gadis itu ketika diminta meninggalkan negara ini untuk pindah ke negara asing seorang diri. Untung saja saat itu Eliza bertemu Maura, jika tidak mungkin saja saat ini Eliza sudah terlunta-lunta di negara sana.
"Anda tenang saja nona, saya akan selalu berada disamping anda. Selamanya." Maura menggenggam tangan Eliza erat, seolah menyalurkan energi untuk gadis itu.
#Jangan lupa like, komentar dan masukan novel ini ke dalam list favorit kalian agar tidak ketinggalan cerita selanjutnya. Vote dan kirim mawar merah juga boleh kok, biar author makin semangat upload. 😁 Terima kasih. Love kalian semua.
__ADS_1